METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL AUD


MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI
“NILAI-NILAI AGAMA PADA ANAK USIA DINI DAN MEMPRAKTEKKAN IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI”









         
DOSEN PEMBIMBING
Dra. Almai Nova,Mpd.i


DI SUSUN OLEH
BUNGA MERCY WELY

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI



KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini berisikan tentang KESADARAN BERIBADAH PADA ANAK USIA DINI. Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.



Penulis













DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii                  
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii


BAB I PENDAHULUAN
1.1       Latar belakang........................................................................... 1
1.2       Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3    Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1      Menanam kan nilai agama pada anak usia dini .......................... 4
2.2      Pengembangan keagamaan pada anak usia dini  ....................... 5
2.3      Penerapan beribadah pada anak usia dini................................... 6
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan.................................................................................. 8
3.2  Saran............................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 9













BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Menurut Adams dan Gullota (1983), agama memberikan kerangka moral sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Perkembangan moral (moral development) adalah mencakup perkembangan pikiran, perasaan, dan perilaku menurut aturan atau kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang ketika berinteraksi sengan orang lain (Hurlock)
Penanaman agama pada anak usia dini yang di lakukan pertama kali ada di pengaruhi oleh keluarga , dan lingkungan sekitar karena anak usia dini adalah pribadi yang gampang meniru orang lain.
Permasalahan nya sekarang adalah pengaruh zaman yang membuat anak usia dini malas melakukan ibadah dan lebih suka bermain game atau handphone
Penyelesaian nya kita sebagai orang tua maupun guru harus lah memberikan perhatian yang lebih pada hal ini.
Seperti misal nya mendownload aplikasi agama
Sehingga ketika anak memainkan handphone pun tetap bisa belajar agama

1.2     Rumusan Masalah
a.       Apa saja Menanam kan nilai agama pada anak usia dini ?           
b.      Apa saja Pengembangan keagamaan pada anak usia dini ?
c.    Apa saja Penerapan beribadah pada anak usia dini?
1.3 Tujuan                                       
a. Menjelaskan Menanam kan nilai agama pada anak usia dini
b. Menjelaskan Pengembangan keagamaan pada anak usia dini 
c. Menjelaskan Penerapan beribadah pada anak usia dini
 















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Menanam kan nilai Agama pada Anak usia dini
Kunci utama menanamkan agama ialah terdapat pada orangtua, terlebih lagi pada ibu. Karena sejatinya seorang ibu ialah madrasah awal  untuk anak. Diposisi itulah seorang ibu mulai membentuk karakter anak bagaimana mereka harus berperilaku, bagaimana mereka harus sopan santun terhadap orangtua, orang yang lebih dewasa atau teman sebaya. Bagaimana mereka bisa menjadi sosok pribadi yang berguna, bagaimana mereka harus memilih sebelum bertindak, dan sebagainya.
Sebagai orangtua, harus bisa membimbing anaknya kearah yang benar dan sesuai syariat agama Islam. Sekalipun orangtua itu tidak memahami agama terlalu mendalam, setidaknya mereka bisa mengajarkan moral kepada anak, mengajarkan kebiasan-kebiasaan positif yang bisa dilakukan pada anak sehari-hari, atau enggan memasukkan anaknya kepada lembaga-lembaga yang bernuansa agama Islam. Karena dengan adanya kebiasaan moral yang baik, anak akan dengan mudah menerima agama dengan sendiri nya ketika mereka dididik/diajarkan tentang agama disekolah nya maupun di TPQ atau lembaga-lembaga yang bernuansa agama tersebut dan mereka pun akan mendapatkan nilai tambahan dari apa yang telah mereka pelajari.
Bukankah hal yang menyenangkan bagi orangtua ketika anak-anaknya menjadi anak yang patuh taat, berbudi pekerti, sholih/sholihah, rajin beribadah, berpenampilan bagus serta sederhana, tidak suka foya-foya, gemar menabung lagi dan lain sebagainya.
Setelah pendidikan dari orangtua berhasil, maka orangtua juga berkewajiban memilihkan lembaga yang mana didalamnya pendidik bisa mengajarkan hal yang sama dengannya atau bahkan memberikan tambahan dari hal-hal yang positif lainnya. Akan tetapi, ketika didikan dari orangtua sudah baik sedangkan disekolah anak mendapatkan didikan yang mungkin lebih rendah kapasitas nya dari didikan orangtuanya, maka itu akan membuahkan hasil yang rendah
didikan orangtua dan guru tidak sama. Begitu juag hasil ketika didikan guru lebih baik dari orangtua. Jadi, penerapan yang baik itu ya didikan atau bimbingan antara orangtua dan guru harus seimbang. Bagaimana caranya agar bisa seimbang? Apakah orangtua tau kalau guru tersebut memiliki kualitas yang sama dengannya? Nah caranya itu ya seperti keterangan penulis diatas tadi bahwasanya “ orangtua harus memilihkan lembaga pendidikan yang sudah terkenal bagus dalam pengajaran serta bimbingannya, orangtua harus peka terhadap hal-hal yang ada disekitar yang dimana bisa melunturkan akhlak seorang anak” akan tetapi dengan catatan, orangtua tidak boleh terlalu mengekang anak secara berlebihan.
Biasa nya hal ini banyak terjadi pada tiap-tiap orangtua karena ditakutkan anak mereka terpengaruh oleh lingkungan atau pergaulan yang tidak baik sehingga para orangtua melarang anak-anak nya main diluar rumah, dan lain sebagainya. Apakah ini penerapan yang benar? Tentu saja tidak. Malah anak ketika mereka terlalu dikekang hasilnya tidak akan bagus, karena apa? Ya karena ketika mereka bosan dengan aturan yang bermacam-macam itu, apapun itu perbuatan akan mereka coba dengan segala cara akan mereka lakukan demi membuang rasa bosannya tersebut.
Jadilah seorang orangtua atau guru yang dicintai anak-anak nya serta anak didiknya. Tanamkanlah pada anak apa yang telah didapatkan selama berpendidikan dulu ataupun saat ini. Ajarkan pada anak hal-hal yang baik, yang positif dan bombing mereka sesuai syartiat agama Islam
2.2  Pengembangan  keagamaan Pada ANAK USIA DINI
Dalam kandungan

Sejak bayi dalam kandungan pun, orangtua bisa melakukan pengenalan ibadah. Misal, bagi umat  muslim, melalui kegiatan mengaji yang dilakukan orangtua, memperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran, serta lagu-lagu Islami. Begitu pula dengan agama lain, bisa membacakan bait-bait yang tertulis dalam Alkitab.

Balita
Ketika mengajarkan ibadah pada usia ini, orang tua hendaknya menciptakan suasana menyenangkan, hindari pemaksaan ibadah pada anak. Apalagi menjadikan ibadah sebagai hukuman.
Ambil contoh, saat bermain peran, orangtua bisa menyelipkan kegiatan beribadah. Atau menyeritakan (story telling) buku cerita bermuatan ibadah. Selain itu, ajaklah anak berkunjung ke tempat ibadah sembari mengenalkan ibadah, mengajak anak ibadah di Masjid atau ke Sekolah Minggu, misalnya.  

 Anak-anak

Pada usia ini, anak belajar lebih cepat melalui proses pembiasaan dan contoh yang diberikan orangtua sehari-hari, seperti melakukan ibadah salat di depan anak. Atau setiap kali Azan, orangtua menunjukkan kegembiraan bahwa waktu shalat sudah tiba. Lalu, mengajaknya shalat berjamaaah. Begitu pula dalam mengenalkan doa-doa, orangtua membiasakan anak mengucapkan doa sesuai kegiatan yang dilakukannya, sehingga lambat laun dia akan terbiasa.  
2.3 Penerapan beribadah pada Anak Usia Dini
Pada hakikatnya penerapan ibadah pada anak usia dini sangat penting apa lagi pada tahap perkembangan nya
Sejak kecil anak usia dini harus di ajarkan cara beribadah yang benar dan yang sederhana  misalnya :  cara berwudhu , cara sholat, cara mengaji , cara belajar membaca do’a-do’a pendek.
Bila anak terbiasa melakukan ibadah shalat di rumah, biasakan dia shalat berjamaah. Biasakan shalat bagi anak menjadi rutinitas.
Sehingga, dia memahami makna shalat dan kelak tidak menganggu orang lain saat shalat.biasakan mengajak si kecil berdoa ketika hendak melakukan kegiatan, seperti mau makan atau tidur.
Karena itu, penanaman mengenai adab dalam beribadah merupakan proses yang memerlukan pengulangan, serta penguatan.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Menurut penjelasan yang ada di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap anak perlu mempunyai sikap yang positif. Terdapat beberapa fase dalam perkembangan pengetahuannya tentang agama

Saran

Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.











Daftar Pustaka

Sadirman, Interaksi dan Motifasi Belajar, (Raja Grafindo Persada), Jakarta 2004,
Trianto, “Profesionalissasi Guru Masa Depan”. Dalam Mimbar Pembangunan Agama, (April,2005),
UU RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Sinar Grafika 2003), Jakarta 2003
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Guru, (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta
Usman dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya), Bandung 2005. 
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Usaha Nasional), Surabaya 1994

Komentar

  1. min numpang share ^^
    bosan tidak tahu mesti mengerjakan apa ^^
    daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
    F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
    ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS PERMAINAN DAN PERLENGKAPAN AKTIFITAS DI LUAR KELAS

STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN