pengembangan program dan media bimbingan konseling
MAKALAH
Pengembangan Program dan Media
Bimbingan Konseling
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
BIMBINGAN KONSELING

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma
Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun
Oleh
Bunga Mercy Wely
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR
DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini .
Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu,
apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami
sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna
untuk kita semua. Amin.
Jambi, Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengembangan Program Bk ......................................................... 4
2.2 Langkah-langkah Penyusunan
Program Bimbingan dan Konseling5
2.3 Media Bimbingan dan Konseling................................................. 6
2.4 Media Bimbingan Konseling Pengertian media dalam
bimbingan
konseling........................................................................... 7
2.5 Jenis-jenis media dalam program Bimbingan Konseling.............. 8
2.6Manfaat
Penggunaan media dalam konseling....................... 9
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan.................................................................................. 8
3.2 Saran............................................................................................ 9
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Masalah
Bimbingan
Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang
diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah.
Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan
untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Sedangkan konseling
sendiri berasal dari kata latin “Consilum” yang berarti “dengan” atau “bersama”
dan “mengambil atau “memegang”. Maka dapat dirumuskan sebagai memegang atau
mengambil bersama.’Pada bimbingan dan konseling di Indonesia, pelayanan
konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama.
Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada
Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan
sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962.
Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum
1975.
Kemudian disempurnakan ke
dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan
BK semakin mantap pada tahun 2001 dan sampai saat ini terus berkembang Pada
bimbingan dan konseling di Dunia Internasional Sampai awal abad ke-20 belum ada
konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani
oleh para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak
dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk
kesekolah-sekolah negeriTerlepas dari predikat guru bimbingan dan konseling,
pada dasarnya guru adalah jabatan profesional yang harus dipertanggungjawabkan
secara profesional pula. Guru adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus.
Sikap, perilaku dan pemikiran seorang guru harus tercermin dalam idealismenya.
Oleh karena itu, pemahaman atas jabatan guru penting artinya dalam rangka
mengabdikan dirinya terhadap nusa, bangsa dan negara. Jenis pekerjaan ini
seharusnya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar lingkup
pendidikan.
Demikian pula halnya dengan jabatan
fungsional guru bimbingan dan konseling yang sesungguhnya hanya dapat
dilaksanakan secara optimal oleh mereka yang memang memiliki latar belakang
kependidikan seperti itu. Jika suatu jabatan fungsional dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keprofesian yang benar, maka
sangat besar kemungkinannya terjadi penyimpangan peri-laku, penyimpangan
kegiatan, dan penyimpangan penafsiran di luar batas kewajaran yang seharusnya.
Itulah yang terjadi dalam ruang lingkup bimbingan dan konseling di tingkat
sekolah dasar pada dewasa ini.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja Pengembangan Program Bk?
b. Apa saja Langkah-langkah Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling
c.
Apa saja Media Bimbingan dan Konseling
d. Apa saja Media Bimbingan Konseling Pengertian media
dalam bimbingan konseling ?
e. Apa saja Jenis-jenis
media dalam program Bimbingan Konseling
f. Bagaimana Manfaat
Penggunaan Media dalam Konseling
1.3 Tujuan
a.
Menjelaskan Pengembangan
Program BK
b.
Menjelaskan Langkah-langkah Penyusunan Program Bimbingan dan
Konseling
c.
Menjelaskan Media Bimbingan dan Konseling
d. Menjelaskan Media Bimbingan Konseling Pengertian media dalam
bimbingan konseling
e. Menjelaskan Jenis-jenis media dalam program Bimbingan Konseling
f. Menjelaskan Manfaat Penggunaan Media dalam Konseling
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengembangan
Program BK
Sebagai layanan yang profesional maka layanan
Bimbingan dan Konseling saat ini harus memperhatikan kebutuhan siswa. William
J. Kolarik (Nurihsan, 2006: 55) mengungkapkan bahwa kualitas mutu layanan
bimbingan akan mendapatkan pengakuan jika layanan Bimbingan dan Konseling mampu
memenuhi apa yang diharapkan oleh para konseli. Secara lebih rinci Goetsch&
Davis (Nurihsan, 2006: 55) mengungkapkan bahwa mutu layanan bimbingan dan
konseling merujuk pada proses dan produk layanan bimbingan dan konseling yang
mampu memenuhi harapan siswa, masyarakat, serta pemerintah.
Suatu program bimbingan dan konseling yang baik
biasanya mengikuti suatu pola perencanaan tertentu, dan dapat melihat
kondisi-kondisi yang akan dihadapi, serta sanggup menghadapi
perubahan-perubahan. Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan
konseling dengan memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik
untuk memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam
pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program
yang telah disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas
agar terkembang jejaring layanan yang optimal.
Rochman Natawidjaya (Ipah Saripah, 2006:66)
mengemukakan bahwa Program Bimbingan dan Konseling yang baik adalah yang
efektif dan efisien dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a) Program itu disusun dan
dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata dari para siswa
yang bersangkutan.
yang bersangkutan.
b) Kegiatan bimbingan disusun
menurut skala prioritas yang juga ditentukan berdasarkan
kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
c) Program dikembangkan
berangsur-angsur dengan melibatkan semua tenaga pendidikan
dalam merencanakannya.
dalam merencanakannya.
d) Program memiliki tujuan yang ideal,
tetapi realistis dalam pelaksanaannya.
e) Program mencerminkan komunikasi yang
berkesinambungan di antara semua anggota dan
staf pelaksananya.
staf pelaksananya.
f) Menyediakan fasilitas yang
diperlukan.
g) Penyusunan disesuaikan dengan program
pendidikan di lingkungan yang bersangkutan.
h) Memberikan kemungkinan pelayanan kepada
semua siswa yang bersangkutan.
i) Memperlihatkan peranan yang
penting dalam menghubungkan dan memadukan sekolah
dan masyarakat.
dan masyarakat.
j) Berlangsung sejalan dengan
proses penilaian diri, baik mengenai program itu sendiri
maupun kemajuan dari siswa yang dibimbing, serta mengenai kemajuan pengetahuan,
keterampilan dan sikap para petugas pelaksananya.
maupun kemajuan dari siswa yang dibimbing, serta mengenai kemajuan pengetahuan,
keterampilan dan sikap para petugas pelaksananya.
k) Program itu menjamin keseimbangan
dan kesinambungan pelayanan bimbingan dalam hal :
1) pelayanan
kelompok dan individual
2) pelayanan
yang diberikan oleh petugas
bimbingan
bimbingan
3)
penggunaan alat pengukur yang obyektif dan subyektif
4)
penela’ahan
tentang siswa dan pemberian bimbingan
tentang siswa dan pemberian bimbingan
5) pelayanan
diberikan dalam berbagai jenis
bimbingan
bimbingan
6) pemberian
bimbingan umum dan khusus
7) pemberian
bimbingan
tentang berbagai program sekolah
tentang berbagai program sekolah
8)
penggunaan sumber-sumber di dalam dan
di luar sekolah
di luar sekolah
9)
kesempatan untuk berpikir, merasakan, dan berbuat
10)
kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat.
2.2 Langkah-langkah Penyusunan Program Bimbingan dan
Konseling
Fase dalam pengembangan program bimbingan dan
konseling disekolah, menurut Gysbers dan Henderson (Muro & Kottman, 1995:
55-61) ada empat fase, yaitu: perencanaan (planning), perancangan (designing),
penerapan (implementing), dan evaluasi (evaluating).
1. Perencanaan ( Planning )
Proses perencanaan Program Bimbingan dan Konseling
seharusnya dilakukan secara terbuka, dalam arti bukan hanya melibatkan personil
Bimbinganm dan Konseling saja, akan tetapi juga melibatkan orang-orang yang
memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan.
Gysbers & Henderson (Muro & Kottman, 1995:56)
mengemukakan langkah pertama yang harus dilakukan oleh konselor dalam
perencanaan program BK adalah membentuk komite yang representatif. Komite ini
selanjutnya disebut dengan komite bimbingan dan konseling. Tugas dari komite
ini adalah merancang (planning), mendisain ( designing ),
mengimplementasikan ( implementing ), dan mengevaluasi (evaluation)
program BK yang akan dilaksanakan. Komite ini terdiri dari orang tua, guru,
pakar bimbingan, dan tentunya konselor sebagai pengatur dan konsultan komite.
Tugas selanjutnya dari
komite ini adalah menetapkan dasar penetapan program. Mendefinisikan program
secara operasional yang terdiri dari : (1) identifikasi target populasi layanan
(siswa, orang tua, guru), (2) isi pokok program (tujuan dan ruang lingkup
program), (3) organisasi program layanan (pengorganisasian layanan bimbingan).
Ahmad Juntika Nurihsan
(2005:40) memberikan gambaran mengenai kegiatan yang dilakukan dalam proses
perencanaan, diantaranya : (1) analisis kebutuhan dan permasalahan siswa; (2)
penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai; (3) analisis
situasi dan kondisi di sekolah, (4) penentuan jenis-jenis kegiatan yang akan
dilakukan; (5) penetapan metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan; (6)
penetapan personel-personel yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah
ditetapkan; (7) persiapan fasilitas dan biaya pelaksanaan kegiatan-kegiatan
bimbingan yang direncanakan; (8) perkiraan tentang hambatan-hambatan yang akan
ditemui dan usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasinya.
2. Perancangan (Desaigning)
Sebagai arahan dalam mendisasin program bimbingan dan
konseling komprehensif Gysbers & Handerson mengembangkan tujuh tahap untuk
mewujudkan disain program BK sebagai berikut :
·
memilih struktur dasar program;
·
merancang komptensi siswa;
·
menegaskan kembali dukungan kebijakan;
·
menetapkan parameter untuk alokasi sumber daya;
·
menetapkan hasil yang akan dicapai oleh siswa;
·
menetapkan aktivitas secara spesifik yang sesuai dengan komponen program;
·
mendistribusikan pedoman pelaksanaan program;
3. Penerapan ( Implementing
)
Setelah melalui proses perencanaan dan disain yang
baik, tahap berikutnya adalah tahap implementasi. Dalam menerapkan program,
konselor sebaiknya perlu memiliki kesiapan untuk melaksanakan setiap kegiatan
yang telah dirancang sebelumnya. sehingga terdapat kesesuaian antara
program yang telah dirancang dengan pelaksanaan di lapangan dan program
terlaksana dengan baik.
Proses implementasi sejumlah kegiatan dari keseluruhan
program harus didasarkan skala prioritas yang didapatkan dari hasil analisis
kebutuhan. Selain itu penerapan program bimbingan dan konseling yang telah
dirancang dengan baik, seyogianya diset dalam alokasi waktu satu tahun ajaran.
Muro & Kottman (1995:60) mengemukakan “ implementation of a program
works best when plans are developed for an entire school year. It will be
helpful if the overall plan is broken down into monthly and weekly segments
that direct the delivery of the guidance program as well as specialized
counseling service”.
4. Evaluasi.
Evaluasi menjadi umpan balik secara berkesinambungan
bagi semua tahap pelaksanaan program. Evaluasi ini bertujuan untuk memperoleh
data yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan, baik untuk perbaikan maupun
pengembangan program di masa yang akan datang. Evaluasi juga dimaksudkan
untuk menguji keberhasilan atau pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Tolley & Rowland (Ipah Saripah, 2006:70) mengemukakan
bahwa evaluasi terhadap efektivitas program bimbingan dan konseling dapat
dilihat dari tiga indikator, yakni proses, hasil jangka menengah, dan hasil
akhir. Evaluasi mempunyai fungsi untuk menentukan layak tidaknya suatu program.
Evaluasi adalah proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan
yang diharapkan dengan kemajuan prestasi yang dicapai. Pada dasarnya
evaluasi program merujuk pada seluruh aspek perencanaan yang telah dilakukan.
Alur proses evaluasi dapat dilihat pada bagan 1.2 di bawah ini.
2.3
Media Bimbingan dan Konseling
Pengertian Media Media berasal dari bahasa
latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti
“Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan
penerima pesan. Sumber pesan dalam pembelajaran adalah guru, sedangkan penerima
pesan adalah siswa atau peserta didik. Dalam Dictionary of Education,
disebutkan bahwa media adalah bentuk perantara dalam berbagai jenis kegiatan
berkomunikasi.. Sebagai perantara, maka media ini dapat berupa koran, radio,
televisi bahkan komputer. Menurut Yuliani Nurani Sujiono (2005) Media adalah:”
segala sesuatu yang dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang daya
pikir, perasaan, perhatian dan kemampuan anak sehingga ia mampu mendorong
terjadinya proses belajar mengajar pada anak”.
Pengertian
media menurut Masitoh, dkk (2006). adalah :” peralatan yang dapat mendukung
anak secara komprehensip yang meliputi perkembangan fisik, motorik, sosial,
emosi, kognitif, kreatifitas dan bahasa”. Sementara itu Badru Zaman (2005)
mendifinisikan media:“ sebagai wahana dari pesan yang oleh sumber pesan (guru)
ingin diteruskan kepada penerima pesan (anak)”.
Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah peralatan yang
dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan fisik, motorik,
sosial, emosi, kognitif, kreatifitas dan bahasa anak sehingga ia mampu
mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada diri anak. Jadi dapat kita
simpulkan bahwa media adalah sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan
dimanfaatkan untuk merangsang perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik,
motorik, social, emosi kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu
mendorong dan memudahkan terjadinya proses belajar mengajar pada guru dan
peserta didik. Media dapat dirancang/dibentuk secara kompleks dengan batasan
tertentu sehingga media itu sendiri dapat merangsang timbulnya semacam dialog
internal antara penyampai informasi dan penerima informasi. Dengan perkataan
lain pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh penerima pesan
melalui media yang digunakan. Proses layanan bimbingan dan konseling merupakan
proses komunikasi, maka dari itu dalam melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling
juga membutuhkan Media sehingga dapat membantu dan mempermudah para konselor
dalam pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling.
2.4 Media Bimbingan Konseling Pengertian media dalam
bimbingan konseling
sebagai hal
yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor)
melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya Media BK tidak sebatas
untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program
BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat
digunakan dalam melaksanakan program BK (Diklat profesi guru, PSG Rayon 15,
2008).
misalnya
konselor ketika melaksanakan konseling individu memerlukan ruang konseling,
meja kursi, alat perekam/pencatat. ketika konselor pada akhir
minggu/bulan/semester/tahun akan melaporkan kegiatan kepada Kepala Sekolah
memerlukan media. Sebagaimana dituliskan Deviarimariani pada situsnya Penerapan
Teknologi Informasi Konseling, Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai
jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
Lebih lanjut, Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat
menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Definisi tersebut
mengarahkan kita untuk menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis
(benda) perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada
orang yang membutuhkan informasi.
2.5 Jenis-jenis media dalam program Bimbingan
Konseling
1. Media
untuk menyampaikan informasi
2. Media
sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
3. Media
sebagai alat bantu dalam memberikan group information
4. Media
sebagai Biblioterapi
5. Media
sebagai alat menyampaikan laporan
Berikut
mnerupakan beberapa contoh media diantara adalah :
1. Media
untuk menyampaikan informasi Selebaran, leaflet, booklet, dan papan bimbingan
2. Media
sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
a) Media Pengumpul data seperti: angket,
pedoman wawancara, lembaran observasi berupa anekdo record, daftar cek, skala
penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah, lembar isian
pilihan teman (semua dapat dibuat sendiri kecuali mekanikal device, camera,
tape).
b) Media
penyimpan data seperti: kartu pribadi, buku pribadi, map, disket, folder,
filing cabinet, almari, rak dll
3. Media
sebagai alat bantu dalam memberikan group information
a) Media
auditif : radio, tape
b) Media
visual : gambar, foto, tranparansi, lukisan, dll
c) Media
audio visual : film yang ada suaranya.
4. Media
sebagai Biblioterapi Buku-buku, majalah, komik ( yang penting di dalamnya
berisi cara-cara atau tips ) misalnya cara beternak ayam, cara cepat membaca
Alquran, cara mengatasi rendah diri, cara meningkatkan motivasi belajar, dan
beberapa buku yang berisi cara-cara atau tips lainnya.
5. Media
sebagai alat menyampaikan laporan Berupa laporan kegiatan BK. Laporan bisa
mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan.
Dengan
demikian Media BK dapat berperan di dalam pelaksanaan kegiatan program layanan
bimbingan dan konseling sebagai alat bantu dalam melaksanakan berbagai kegiatan
bimbingan dan juga kegiatan konseling individu maupun konseling kelompok. Media
bimbingan dan konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan layanan
dan isi layanan. Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam layanan
bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan penggunaannya dan memiliki
nilai dalam mengoptimalkan layanan yang diberikan kepada siswa. Oleh karena itu
dengan penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi untuk
meningkatkan kualitas proses layanan bimbingan dan konseling.
2.6 Manfaat Penggunaan Media dalam Konseling
Pada zaman
sekarang tekhnologi sudah semakin berkembang, dan saat ini kita seperti hidup
dalam dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada canggihnya
teknologi pada saat ini ,terutama teknologi komunikasi. Konseling sebagai usaha
bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat
cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling
muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi
bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling antara lain adalah
komputer dan perangkat audio visual. Komputer merupakan salah satu media yang
dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Pelling (2002)
menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk
membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan
keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka
internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang
dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat
dipertanggungjawabkan dan masuk akal (Pelling 2002;). Data atau informasi yang
didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas
tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca
oleh semua orang di muka bumi. Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat di
internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan, informasi yang didapat
tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa sampai masing-masing
program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang dipergunakan oleh
masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh siswa pada akhirnya
menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja,
pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan. Sampsons (2000)
mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk
melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan
siswa. Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan
memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai
berikut:
1. Akan
meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi
pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
2. Akan
meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan
siswa.
3. Konselor
akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4. Akan memunculkan respon yang positif
terhadap penggunaan email.
5. Tidak
akan memunculkan kebosanan.
6. Dapat
ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website.
7. Terdapat
pengaturan yang baik Selain penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di
atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power point. Software
ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih
interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan
mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan. Program
software power point memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan
sentuhan-sentuhan seni dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang
ditayangkan tidak saja berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan,
tetapi dapat juga ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang
tersedia dalam program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula
memasukkan gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang
akan dicapai menjadi lebih optimal. Gambar-gambar yang disajikan melalui
program power point tidak statis seperti yang terdapat pada Over Head Projector
(OHP). Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang bergerak, bahkan konselor
bisa melakukan insert gambar-gambar yang ada di sebuah film. Media lain yang
dapat dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling di kelas antara lain
adalah VCD/DVD player. Peralatan ini seringkali dipergunakan oleh konselor
untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak
pada tayangan tersebut dipergunakan oleh konselor untuk merubah perilaku klien
yang tidak diinginkan (Alssid & Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam
Baggerly 2002). Dalam proses pendidikan konselor pun, penggunaan video modeling
ini juga dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling
yang akan dikembangkan bagi calon konselor (Koch & Dollarhide, 2000, dalam
Baggerly, 2002). Sebelum VCD/DVD player ini ditayangkan, seorang konselor
sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa tentang alasan
ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting, sebab dengan memiliki
gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa akan memiliki
kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan, maka konselor
meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah mereka lihat.
Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana klien berpikir
dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah perilaku klien atau
siswa. Kelebihan lainnya dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan
menggunakan media internet adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien
dapat mengakses data yang dibutuhkan dengan cepat. E. Kerugian Penggunaan Media
dalam Konseling Menurut Pelling (2002), walaupun saat ini masyarakat sangat
tergantung pada teknologi, tetapi di lain pihak, masih banyak diantara kita
yang mengalami ketakutan untuk mempergunakan teknologi. Tidak dapat dipungkiri
bahwa sebagian besar masyarakat kita masih percaya bahwa pernyataan-pernyataan
yang diberikan oleh orang tua atau orang yang dituakan masih dianggap lebih
baik. Hal ini tidak lepas dari budaya paternalistik yang melingkupi masyarakat
kita. Sebaik apapun teknologi yang berkembang, tetapi jika pola pikir
masyarakat masih terkungkung dengan nilai-nilai yang diyakini benar, maka data
atau informasi yang didapat seakan-akan menjadi tidak berguna. Hal lain yang
terkait dengan penggunaan media dalam bimbingan dan konseling adalah sasaran
pengguna seringkali disamakan. Walaupun ragam media sudah bermacam-macam,
tetapi media ini seringkali masih belum bisa menyentuh sisi afektif seseorang.
Dalam bimbingan dan konseling dikenal istilah empati. Penggunaan media,
seringkali pula akan “menghilangkan” empati konselor, jika konselor
mempergunakan media sebagai alat bantu utama. Klien datang ke ruang konseling
tidak selalu membutuhkan informasi dari internet atau komputer, bahkan ada kemungkinan
klien atau siswa datang ke ruang konseling juga tidak membutuhkan bantuan dari
konselor secara langsung melalui proses konseling. Tetapi adakalanya, siswa
atau klien datang ke ruang konseling hanya ingin mendapatkan senyuman dari
konselor atau penerimaan tanpa syarat dari konselor. Dalam menggunakan media,
seperti internet ada kekurangannya seperti data sering kali sulit dilindungi;
sulit mengetahui respon klien secara langsung; serta mahal. Selain itu ada
beberapa dampak negatif dari beberapa alat media yang digunakan jika pengguna
dan pelaksananya tidak memahami dampak yang akan ditimbulkan.
Beberapa
contoh dampak negatif penyalahgunaan teknologi informasi seperti :
1.
Beredarnya rekaman video porno di ponsel
2.
Beredarnya video porno bajakan yang dilakukan oleh anak negeri
3. Banyaknya
video-video yang lebih kepada video porno yang beredar di internet yang dapat
di akses dan di lihat oleh kalangan manusia tidak hanya orang dewasa tetapi
juga anak-anak. Peralatan teknologi yang ada saat ini hanya bisa bermanfaat
jika dimanfaatkan oleh mereka yang memahami penggunaan masing-masing alat
tersebut. Artinya penggunaan teknologi ini akan memunculkan efek yang baik jika
dijalankan oleh mereka yang paham peralatan tersebut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Media adalah
sesuatu berupa peralatan yang dapat di pakai dan dimanfaatkan untuk merangsang
perkembangan dari berbagai aspek baik itu fisik, motorik, social, emosi
kognitif, kreatifitas dan bahasa sehingga mampu mendorong dan memudahkan terjadinya
proses belajar mengajar. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima
baik oleh penerima pesan melalui media yang digunakan. Dalam melaksanakan
proses layanan Bimbingan dan Konseling juga membutuhkan Media sehingga dapat
membantu dan mempermudah para konselor dalam pelaksanaan Layanan BK. Media
dalam bimbingan dan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau
pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan BK,namun
dalam perkembangannya media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar
ketika guru BK (konselor) melaksanakan berbagai kegiatan bimbingan dan
konseling, tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang
dapat digunakan dalam pelaksanaan program BK. Diposting oleh imel mel di 22.57
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest 6 komentar:
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
evaluasi dan tindak lanjut merupakan kegiatan yang
dilaksanakan beriringan pada saat inventarisasi kebutuhan dan pengembangan
disain program (pra program), implementasi program (proses program) dan sesudah
implementasi program (hasil program). Tujuannya adalah untuk menentukan
keputusan terhadap kualitas pra program, proses program dan hasil program
sehingga dapat ditentukan langkah tindak lanjut yang dibutuhkan untuk
pengembangan program selanjutnya.
1)
Teknik Evaluasi
Evaluasi diselenggarakan
menggunakan teknik non-tes.
2) Bentuk Evaluasi
a. Angket keterserapan program bimbingan
dan konseling
b.
Format catatan (anekdot) kegiatan bimbingan dan konseling
c. Instrumen pelengkap dalam setiap sesi
bimbingan dan konseling sesuai materi
Daftar Pustaka
Moree, Cheryl .(2004).”Comprehensive Developmental
School Counseling Program” dalam Professional
School Counseling : A Handbook of Theories, Program & Practices. Ed.
Erford, Bradley T. Austin – Texas : CAPS Press.
Nana Syaodih Sukmadinata. (2003). Landasan Psikologis Proses Pendidikan. Bandung
: ROSDA Abin Syamsyudin Makmun. (2003). Psikologi
Kependidikan : Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung:Rosda
Ahmad Juntika Nurihasan. (2005). Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling.
Akhmad Sugianto. (2013). Pengembangan Program BK (online) . http://akhmad-sugianto.blogspot.co.id/2013/02/pengembangan-program-bimbingan-dan_5067.html.
diakses 21
Maret 2016
Connecticut School Counselor Associatiton (2000). Connecticut Comprehensive School Counseling
Program. Connecticut : CSCA incorporation with CACES and CSDE
Departemen Pendidikan Nasional (2007). Penataan Pendidikan Profesional
Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.
Bandung : Jurusan Psikologi Pendidikan FIP UPI Bandung Bekerjasama dengan PB.
ABKIN
Hurlock, Elizabeth. (1994). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.
Jakarta : Erlangga
Ipah Saripah. (2006). ” Program Bimbingan untuk
Mengembangkan Perilaku Prososial Anak”. Tesis
pada Program Pasca Sarjana UPI Bandung : tidak diterbitkan
Mohamad Surya. (1996). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Publikasi
Jurusan PPB-FIP UPI Bandung
Muro, James J & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling In The Elementary
and Middle School : A Practical Approaches. USA : Wm. C Brown
Communication, Inc.
Syamsu Yusuf & Ahmad Juntika Nurihsan (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung : Kerjasama Program Pasca Sarjana UPI dengan PT Remaja Rosdakarya.
min numpang share ^^
BalasHapusbosan tidak tahu mesti mengerjakan apa ^^
daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^