KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
MAKALAH
Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
BIMBINGAN KONSELING

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma
Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun
Oleh
BUNGA MERCY WELY
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH
JAMBI 2018
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini .
Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu,
apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami
sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna
untuk kita semua. Amin.
Jambi, Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
bimbingan dan konseling ........................................... 4
2.2 penting nya bimbingan konseling anak usia dini
............................................................................................................ 5
2.3 Tujuan bimbingan konseling........................................................ 6
2.4 prinsip bimbingan konseling ........................................................ 7
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan.................................................................................. 8
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 9
BAB I
PEDAHULUAN
PEDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Bimbingan
Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang
diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah.
Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan
untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Sedangkan konseling
sendiri berasal dari kata latin “Consilum” yang berarti “dengan” atau “bersama”
dan “mengambil atau “memegang”. Maka dapat dirumuskan sebagai memegang atau
mengambil bersama.’Pada bimbingan dan konseling di Indonesia, pelayanan
konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama.
Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada
Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan
sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962.
Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum
1975.
Kemudian disempurnakan ke
dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan
BK semakin mantap pada tahun 2001 dan sampai saat ini terus berkembang Pada
bimbingan dan konseling di Dunia Internasional Sampai awal abad ke-20 belum ada
konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh
para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari
revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk
kesekolah-sekolah negeriTerlepas dari predikat guru bimbingan dan konseling,
pada dasarnya guru adalah jabatan profesional yang harus dipertanggungjawabkan
secara profesional pula. Guru adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus.
Sikap, perilaku dan pemikiran seorang guru harus tercermin dalam idealismenya.
Oleh karena itu, pemahaman atas jabatan guru penting artinya dalam rangka
mengabdikan dirinya terhadap nusa, bangsa dan negara. Jenis pekerjaan ini
seharusnya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar lingkup
pendidikan.
Demikian pula halnya dengan jabatan
fungsional guru bimbingan dan konseling yang sesungguhnya hanya dapat
dilaksanakan secara optimal oleh mereka yang memang memiliki latar belakang
kependidikan seperti itu. Jika suatu jabatan fungsional dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keprofesian yang benar, maka
sangat besar kemungkinannya terjadi penyimpangan peri-laku, penyimpangan
kegiatan, dan penyimpangan penafsiran di luar batas kewajaran yang seharusnya.
Itulah yang terjadi dalam ruang lingkup bimbingan dan konseling di tingkat
sekolah dasar pada dewasa ini.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja Pengertian bimbingan dan konseling?
b. Apa saja penting nya bimbingan konseling
anak usia dini?
c.
Apa saja Tujuan bimbingan konseling?
d. Apa saja prinsip bimbingan konseling?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan Pengertian bimbingan
dan konseling
b. Menjelaskan penting nya bimbingan
konseling anak usia dini
c. Menjelaskan Tujuan bimbingan konseling
d.
Menjelaskan prinsip bimbingan konseling
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Bimbingan Konseling
Jika
ditelaah dari berbagai sumber akan dijumpai pengertian yang berbeda mengenai
bimbingan tergantung dan jenis sumbernya dan yang merumuskan pengertian
tersebut. Untuk itulah agar dapat secara luas dan komprehensif mengetahui
definisi bimbingan, penulis kemukakan beberapa definisi dari para ahli sebagai
berikut :
Bimbingan merupakan
terjemahan dan “Guidance” yang berasal dan bahasa Inggris. Secara
harfiah, istilah "Guidance" dan akar kata "Guide"
berarti
(1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to
pilot), (3) mengelola (to manage) dan (4) menyetir (to
steer)
Menurut Crov and Crow, bimbingan adalah "bantuan
yang diberikan oleh seorang laki-laki atau perempuan yang memiliki kepribadian
yang baik dan pendidikan yang memadai dan terlatih dengan baik kepada
individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya
sendiri, membuat keputusan sendiri, dan menanggung bebannya sendiri
Menurut Dewa Ketut Sukardi,
bahwa "bimbingan adalah merupakan proses pemberian bantuan kepada seseorang
atau kelompok orang secara terus menerus dan sistematik oleh guru pembimbing
agar individu atau kelompok individu menjadi pribadi yang mandiri”.
Stoops dan Walquist
mendefinisikan bahwa "bimbingan adalah proses yang terus menerus dalam
membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum
dalam mengarahkan manfaat sebesar-besarnya bagi dirinya maupun bagi masyarakat
Dari definisi yang telah di
kemukakan para ahli di atas, mempunyai cara pandang yang berbeda-beda dan
variasi yang mencolok satu dengan yang lain. Walaupun demikian tetap terdapat
unsur dan tujuan yang menunjukkan kesamaan, di antaranya sebagai berikut :
a. Bimbingan
merupakan suatu proses, yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang seketika
atau kebetulan. Bimbingan merupakan: serangkaian tahapan kegiatan yang
sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.
b. Bimbingan adalah
usaha pemberian bantuan atau pertolongan, makna bantuan dalam hal ini
menunjukkan bahwa pembimbing tidak memaksakan kehendaknya sendiri, tetapi hanya
berperan sebagai fasilitator di mana yang aktif dalam mengembangkan diri,
mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah individu itu sendiri.
c. Individu yang
dibantu adalah orang-orang dan berbagai usia baik pria ataupun wanita
dalam perseorangan maupun kelompok dan individu dalam hal ini yaitu individu
yang sedang berkembang . Tetapi bantuan yang berlaku umum bagi setiap individu
disesuaikan dengan pengalaman, kebutuhan, dan masalah individu yang komprehensif.
Bimbingan diberikan oleh tenaga ahli, yang bertujuan
untuk perbaikan kehidupan orang yang dibimbing agar berkembang sesuai dengan
potensi dan si sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar, yang
ditandai dengan perkembangan optimal dalam kondisi yang dinamik.
Adapun pengertian konseling berasal dari. bahasa
Inggris "to counsel" yang secara etimologis "to give advice"
artinya memberi saran dan nasihat.
Dalam bukunya, Winkel
memaparkan pengertian konseling (counseling) dikaitkan dengan kata "counsel
yang diartikan nasihat (to obtain counsel) : anjuran (to give
counsel) dan pembicaraan {to take counsel) dengan demikian dari
pengertian counselling di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling
diartikan sebagai pemberian saran dan nasihat, pemberian anjuran dalam
pembicaraan dengan bertukar pikiran.
Kemudian istilah
konseling mengalami perkembangan yang di kemukakan dengan berbeda-beda tapi
'intinya sama dan
Burks dan Steffle mengartikan konseling adalah
:
Konseling merupakan
suatu hubungan profesional antara seorang konselor terlatih dan seorang klien.
Hubungan ini biasanya orang per orang, meskipun Sering kali melibatkan lebih
dari dua orang, meskipun sering kali melibatkan lebih dari dua orang. Hubungan
tersebut dirancang untuk membantu para klien memahami dan memperjelas pandangan
hidupnya, dan belajar mencapai tujuan yang ditentukan sendiri
melalui pilihan-pilihan yang bermakna dan penyelesaian
masalah-masalah emosional atau antar pribadi"
Dari pengertian di atas
menjelaskan bahwa adanya hubungan yang harmonis antara konselor dan klien yang
nantinya tercipta proses yang dirancang atau direncanakan untuk membantu klien
membuat pilihan-pilihan dalam mengarahkan masalahnya.
ASCA (American School
Counselor Association) mengemukakan bahwa : "Konseling adalah hubungan
tatap muka yang bersifat, rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian
kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan
keterampilan untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya
Sementara Dewa Ketut Sukardi
menjelaskan bahwa "konseling adalah bantuan yang diberikan kepada klien
dalam memecahkan masalah kehidupan, dengan wawancara yang dilakukan secara face
to face, atau dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan klien yang
dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidup”.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat dicermati antara lain :
a. Konselor adalah
seorang yang cukup terlatih (profesional) atau punya Keterampilan khusus dalam
bidang konseling
b. Interaksi terjadi
antara klien dan konselor yang dilakukan, dengan cara face to face
c. Tujuan
konseling membantu dan menolong klien untuk menerima keadaannya, menemukan
jalan keluar atas masalah-masalahnya dan mendapatkan kesejahteraan dalam
hidupnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diperjelas bahwa
konseling merupakan satu saluran bagi pemberian bimbingan, Di samping itu
istilah bimbingan selalu dirangkaikan dengan istilah konseling, hal ini dikarenakan
bimbingan dan konseling itu merupakan suatu kegiatan yang integral, konseling
merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan. dengan pandangan ini
bimbingan memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian
konseling, dan konseling merupakan bagian dari bimbingan.
2.2 Pentingnya
bimbingan konseling anak usia dini
BK selama ini terkesan hanya
mengatasi siswa-siswa yang mempunyai masalah saja, padahal BK juga membantu
tercapainya segala aspek perkembangan siswa. Baik aspek akademik, bakat dan
minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang
baru, menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika
diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek perkembangan siswa yang
maksimal.
Dari semua itu disinilah perlunya
guru Bimbingan dan Konseling (BK) pada anak usia dini dalam membantu
mengidentifikasi permasalahan anak usia dini dan membantu tercapainya
segala aspek perkembangan anak usia dini.
Lembaga ini juga bertanggung jawab
sepenuhnya terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan mental
spiritual.
Program BK ini sebenarnya sama
pentingnya dengan program BK di sekolah menengah.sama sama memiliki tujuan yang
sama yaitu, membantu peserta didik agar bisa berkembang sesuai bakat
, minat serta kemampuannya secara optimal serta dapat mencegah terjadinya
masalah yang mingkin akan muncul pada peserta didik.
Adanya bimbingan dan
konseling pada anak usia dini bukan berarti sekedar ikut-ikutan saja.
Keberadaan bimbingan konseling dilingkungan anak usia dini juga
dibutuhkan. Sebab, banyak perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika
dewasa yang disebabkan oleh masa lalunya diwaktu kecil. Hal ini menunjukan
bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan dalam hal tindakan pencegahan terhadap
munculnya perilaku bermasalah di masa depan.
Perlu ditegaskan disini bahwa
bimbingan dan konseling pada anak usia dini tidak hanya diberikan
kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus
diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada
anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya
anak secara maksimal.
1. Menjaga
Originalitas kepribadian anak
2. Membina hubungan
yang baik antar Orang Tua dengan Guru di PAUD
3. Persiapan
mental anak usia dini untuk memasuki PAUD
4. Stabilitas
perkembangan Fisik-Motorik Peserta didik
a. Motorik
kasar
Motorik kasar merupakan gerakan
fisik yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan
menggunakan otot-otot besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya,
berjalan, berlari, berlompat, dan sebagainya.
b. Motorik
halus
Kemampuan motorik halus adalah
kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil
dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan
dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin.
Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai
bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
5. Stabilisasi
Perkembangan Kognitif Peserta didik
6. Stabilitas
perkembangan bahasa
7. Stabilitas
perkembangan sosial emosional
8. Stabilitas
Perkembangan Moral keagamaan
2.3 Tujuan Bimbingan Konseling
1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait
dengan aspek pribadi-sosial konseling adalah:
a. Memiliki
komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan
teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
b. Memiliki
sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan
memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
c. Memiliki
pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang
menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), sertadan mampu
meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
d. Memiliki
pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang
terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
e. Memiliki
sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
f. Memiliki
kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
g. Bersikap
respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak
melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki rasa tanggung jawab, yang
diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
h. Memiliki
kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam
bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama
manusia.
i. Memiliki
kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam
diri sendiri) maupun dengan orang lain.
j. Memiliki
kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
2.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar)
adalah :
a. Memiliki
kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai
hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
b. Memiliki
sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku,
disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif
mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
c. Memiliki
motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
d. Memiliki
keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca
buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi
ujian.
e. Memiliki
keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti
membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam
memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang
berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
f. Memiliki
kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait
dengan aspek karir adalah :
a. Memiliki
pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan
pekerjaan.
b. Memiliki
pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan
kompetensi karir.
c. Memiliki
sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang
pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai
dengan norma agama.
d. Memahami
relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan
keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya
masa depan.
e. Memiliki
kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri
pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis
pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
f. Memiliki
kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional
untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi
kehidupan sosial ekonomi.
g. Dapat
membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang
konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus
mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan
tersebut.
h. Mengenal
keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu
karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.
a. fungsi Pemahaman, yaitu
fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki
pemahaman
terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan
norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan
potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
secara dinamis dan konstruktif.
b. Fungsi Preventif, yaitu
fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi
berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya
tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan
kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan
yang membahayakan dirinya.
c. Fungsi Pengembangan, yaitu
fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi
lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel
Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi
atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara
sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai
tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini
adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah
pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
d. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi
bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan
upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik
menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat
digunakan adalah konseling, dan remedial
teaching.
e. Fungsi Penyaluran, yaitu
fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan
ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir
atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri
kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama
dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
f. Fungsi Adaptasi, yaitu
fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,
konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar
belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan
menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat
membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih
dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran,
maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
g. Fungsi Penyesuaian, yaitu
fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan
diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
2.4 Prinsip bimbingan konseling
1. Menciptakan
hubungan harmonis dengan anak
2. Adanya
toleransi,
3. menciptakan
situasi aman dan menyenangkan
a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan
bagi semua konseling
Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada
semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah;
baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini
pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan
pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik
kelompok dari pada perseorangan (individual).
b. Bimbingan dan
konseling sebagai proses individuasi
Setiap konseli
bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli
dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga
berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun
pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
c. Bimbingan menekankan hal yang positif
Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki
persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai
satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut,
bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan
kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang
positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk
berkembang.
d. Bimbingan dan
konseling Merupakan Usaha Bersama
Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab
konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan
tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
e. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial
dalam Bimbingan dan konseling
Bimbingan diarahkan untuk membantu
konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan
mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang
itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli
diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk
memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui
pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat
bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama
bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya
dan mengambil keputusan.
f. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai
Setting (Adegan) Kehidupan
Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung
di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri,
lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang
pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi,
sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
2.5 Jenis Layanan Bimbingan
Untuk memenuhi fungsi dan tujuan bimbingan perlu
dilaksanakan berbagai kegiatan layanan bimbingan, di antaranya adalah sebagai
berikut,
a. Pelayanan
Pengumpulan Data tentang Siswa dan Lingkungan.
Pelayanan ini merupakan usaha untuk mengetahui diri
individu atau siswa seluas-luasnya, beserta latar belakang lingkungannya. Hal
ini meliputi aspek- aspek fisik, akademis ,kecerdasan, minat, cita-cita,
social, ekonomi, kepribadian, latar belakang keluarga, dan lainnya. Yntuk
mengumpulkan data sisiwa dapat menggunakan teknik tes dan non tes. Teknis tes
meliputi: psikotes dan tes prestasi belajar, sedangakan yang non tes meliputi:
observasi, angket, wawancara.
b. Konseling
Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program
bimbingan. Layanan ini menfasilitasi siswa untuk memperoleh bantuan pribadi
secara langsung, baik secara face to face maupun melalui media (telepon
atau internet).
c.
Penyajian Informasi dan Penempatan
Penyajian
informasi dalam arti menyajikan keterangan (informasi) tentang berbagai aspek
kehidupan yg di perlukan individu, seperti menyangkut aspek (a) karakteristik
dan tugas-tugas perkembangan pribadinya, (b) sekolah-sekolah lanjutan, (c)
bahaya minuman keras, obat-obatan terlarang, (d) pentingnya menyesuaikan diri
dengan norma agama atau nilai-nilai moral yang di junjung tinggi masyarakat.
d. Penilaian
dan Penelitian
Layanan
penilaian di laksanakan untuk mengetahui tujuan program bimbingan apa saja yang
dilaksanakan dapat di capai. Selain itu hasil penilaian, baik terhadap program
bimbingan maupun terhadap individu, dapat dipergunakan untuk bahan penilitian.
Penilitian ini di maksudkan untuk mengembangkan program bimbingan dalam arti
menelaah lebih jauh tentang pelaksanaannya, menelaah tentang kebutuhan
bimbingan yang belum terpenuhi serta menelaah hakikat individu dan
perkembangannya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Bimbingan
merupakan terjemahan dan “Guidance” yang berasal dan bahasa Inggris.
Secara harfiah, istilah "Guidance" dan akar kata "Guide"
berarti (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3)
mengelola (to manage) dan (4) menyetir (to steer)
Menurut Crov and Crow, bimbingan adalah "bantuan
yang diberikan oleh seorang laki-laki atau perempuan yang memiliki kepribadian
yang baik dan pendidikan yang memadai dan terlatih dengan baik kepada
individu-individu setiap usia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya
sendiri, membuat keputusan sendiri, dan menanggung bebannya sendiri
2. Dilihat dari
masalah seseorang atau individu, ada empat jenis bimbingan menurut masalahnya,
yaitu Bimbingan Akademik, Bimbingan Sosial Pribadi, Bimbingan Karir, dan
Bimbingan Keluarga.
3. Tujuan
pemberian pelayanan bimbingan ialah agar individu dapat: merencanakan kegiatan
penyelesaian studi, mengembangkan seluruh potensi yang di milikinya seoptimal
mungkin, menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, menghadapi
hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi.
4. Fungsi
bimbingan antaraa lain ialah: pemahaman, preventif, pengembangan, perbaikan,
penyaluran, adaptasi, serta penyesuaian.
5. Terdapat
beberapa prinsip dasar yang di pandang sebagai pondasi bagi layanan bimbingan.
Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan
yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik di
sekolah maupun di luar sekolah.
6.
Untuk
memenuhi fungsi dan tujuan bimbingan perlu dilaksanakan berbagai kegiatan layanan
bantuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Prayitno& Amti Erman. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.PT. Rineka Cipta Jakarta
Nurihsan, A.
Juntika. 2007. Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan.
Bandung: Refika Aditama.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar