METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL AUD
MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
ANAK USIA DINI
“Menjelaskan hubungan nilai dengan kecerdasan Anak”

DOSEN
PEMBIMBING
Dra. Almai
Nova,Mpd.i
DI SUSUN
OLEH
Bunga Mercy
Wely
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH
JAMBI 2018
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu,
apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami
sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna
untuk kita semua. Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang........................................................................... 1
1.2
Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai
kecerdasan emosional anak ................................................ 4
2.2 Faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosional.................... 5
2.3 Keterkaitan
antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar
............................................................................................................ 6
2.4 Sasaran
pengembangan nilai emosional pada anak TK................ 7
2.5 Sasaran
pengembangan nilai Sosial pada anak TK....................... 8
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan.................................................................................. 8
3.2 Saran............................................................................................ 8
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Kecerdasan emosional
merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi orang
lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri
sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman, 1999). Emosi adalah
perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal
dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Emosi tersebut beragam, namun
dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti; marah, takut, sedih,
gembira, kasih sayang dan takjub (Santrock, 1994).
Kemampuan
mengenal emosi diri adalah kemampuan menyadari perasaan sendiri pada saat
perasaan itu muncul dari saat-kesaat sehingga mampu memahami dirinya, dan
mengendalikan dirinya, dan mampu membuat keputusan yang bijaksana sehingga
tidak ‘diperbudak’ oleh emosinya.
Kemampuan mengelola
emosi adalah kemampuan menyelaraskan perasaan (emosi) dengan lingkungannnya
sehingga dapat memelihara harmoni kehidupan individunya dengan
lingkungannya/orang lain.
Kemampuan mengenal
emosi orang lain yaitu kemampuan memahami emosi orang lain (empaty) serta mampu
mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain yang dimaksud.
Kemampuan memotivasi
diri merupakan kemampuan mendorong dan mengarahkan segala daya upaya dirinya
bagi pencapaian tujuan, keinginan dan cita-citanya. Peran memotivasi diri yang
terdiri atas antusiasme dan keyakinan pada diri seseorang akan sangat produktif
dan efektif dalam segala aktifitasnya
Kemampuan
mengembangkan hubungan adalah kemampuan mengelola emosi orang lain atau emosi
diri yang timbul akibat rangsang dari luar dirinya. Kemampuan ini akan membantu
individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara memuaskan dan mampu
berfikir secara rasional (IQ) serta mampu keluar dari tekanan (stress).
Manusia dengan EQ yang
baik, mampu menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah
bersosialisasi, mampu membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada
komitmen. Makanya, orang yang EQ-nya bagus mampu mengerjakan segala sesuatunya
dengan lebih baik.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seorang
siswa dalam usaha belajar nya seb
agaimana
dicantumkan dalam nilai rapor. Melalui prestasi belajar, siswa dapat mengetahui
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam belajar.
Banyak
orang berpendapat untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang
harus memiliki Intelligence Quotient
(IQ) yang juga tinggi. Hal ini karena inteligensi merupakan bekal potensial
yang akan memudahkan dalam belajar. Hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk
menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, dan untuk menilai keadaan diri
sendiri secara kritis dan objektif.
Dalam
kenyataannya, ada siswa yang mempunyai inteligensi tinggi, tetapi memperoleh
prestasi belajarnya yang relatif rendah. Sebaliknya, ada siswa yang walaupun
kemampuan inteligensinya rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif
tinggi. Itu sebabnya inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, Karena ada
faktor lain yang mempengaruhinya.Kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang
20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan
lain, diantaranya kecerdasan emosional (EQ), yakni kemampuan memotivasi dir
sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati
(mood), berempati serta bekerjasama.
Keseimbangan
antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah.
Pendidikan sendiri bukan hanya perlu mengembangkan rational intelligence, yaitu
model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu
mengembangkan emotional intelligence siswa.walaupun EQ merupakan hal yang
relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan
kecerdsan emosional tidak kalah penting dengan IQ.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja nilai kecerdasan emosional anak?
b. Apa saja faktor
yang mempengaruhi kecerdasan emosional?
c.
Apa saja keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar?
d. Apa saja Sasaran Pengembangan Nilai Emosional
anak di Taman Kanak-kanak?
e.
Apa saja Sasaran Pengembangan
Nilai sosial anak di Taman Kanak-kanak?
1.3 Tujuan
a.
Menjelaskan nilai kecerdasan emosional anak
b.
Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional
c. Menjelaskan keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan
prestasi belajar
d.
Menjelaskan Sasaran Pengembangan Nilai Emosional anak di Taman Kanak-kanak
e.
Menjelaskan Sasaran Pengembangan Nilai sosial anak di Taman Kanak-kanak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nilai
kecerdasan emosional anak
Salovey
dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau EQ sebagai: “ Himpunan
bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan
sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan
menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”
Kecerdasan
emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat
berubah-ubah setiap saat. Untuk itu, peranan lingkungan terutama orang tua pada
masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ, namun keduanya berinteraksi
secara dinamis, baik pada tingkat konseptual maupun di dunia nyata.
2.2 Faktor yang mempengaruhi kecerdasan Emosional
Gardner
mendefinisikan kecerdasan pribadi dalam lima kemampuan utama, yaitu:
1.
Mengenali
Emosi Diri
Para
ahli menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang
akan emosinya sendiri. Kesadaran ini berupa waspada terhadap suasana hati
maupun pikiran tentang suasana hati. Apabila kurang, maka individu menjadi
larut dalam aliran dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran ini belum menjamin
penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk
mengendalikan emosi.
2.
Mengelola
Emosi
Mengelola
emosi merupakan suatu kemampuan dalam menangani perasaan agar dapat terungkap
dengan tepat atau selaras sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu.
Emosi berlebihan yang meningkat dengan
intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini mencakup
kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau
ketersinggungan dan akibat -akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk
bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
3.
Memotivasi
Diri sendiri
Prestasi
harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti
memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusias,
gairah, optimis, dan keyakinan diri.
4.
Mengenali
Emosi Orang Lain.
Kemampuan
ini disebut juga Empati, yaitu kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain
atau peduli. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap
sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain, peka
terhadap perasaan orang lain dan mampu untuk mendengarkan orang lain.
Rosenthal
dalam pandangannya menunjukan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan
isyarat nonverbal mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer,
lebih mudah bergaul, dan lebih peka.
5.
Membina
Hubungan
Keterampilan
dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina
hubungan.Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan
sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu
berkomunikasi dengan lancar pada orang lain.Orang seperti ini populer dalam
lingkunganya dan menjadi teman yang menyenangakan karena kemampuannya
berkomunikasi. Sejauh mana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang
dilakukannya.
2.3 Keterkaitan
antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar
Banyak usaha yang dilakukan oleh panak didik untuk meraih prestasi
belajar agar menjadi yang terbaik,
seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha ini positif, namun masih banyak
dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan intelektual, faktor tersebut
adalah kecerdasan emosional. Dengan kecerdasan emosional, individu mampu
mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan-perasaan orang lain
dengan efektif. Individu yang memiliki keterampilan emosional baik berarti
kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk
berprestasi. Sedangkan induividu yang tidak dapat menahan kendali atas
kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak
kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada
tugas –tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.
Penelitian Walter
Mischel (1960) mengenai “marsmallow challenge” di Universitas Stanford menunjukan anak yang ketika berumur empat
tahun mampu menunda dorongan hatinya, setelah lulus sekolah menengah atas,
secara akademis lebih kompeten, lebih mampu menyusun gagasan secara nalar, serta
memiliki gairah belajar yang lebih tinggi.
Keterampilan dasar
emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, tetepi membutuhkan proses
dalam mempelajarinya dan lingkungan yang membentuk kecerdasan emosional
tersebut besar pengaruhnya. Hal ini akan diperoleh bila anak diajarkan
keterampilan dasar kecerdasan emosional,
secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima
perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalaman dalam memecahkan permasalahannya
sendiri.
2.4 Sasaran
Pengembangan Nilai Emosional anak di Taman Kanak-kanak
1. Hal yang penting untuk diperhatikan dan dibutuhkan anak dalam upaya pengembangan emosi yang sehat adalah sebagai berikut: rasa saling memiliki,rasa cinta dan kasih sayang keputusan sendiri,rasa aman,di beri kepercayaan pada dirinya,di perlakukan sesuai dengan harapanya,di terima apa adanya dan di berikan sesuatu dengan ketulusan ketulusan.
2. Terdapat lima cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu proses pengembangan emosi anak, yaitu kemampuan untuk mengenali emosi diri, kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat, kemampuan untuk memotivasi diri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, dan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain.
3. Materi pembelajaran emosi di Taman kanak-kanak meliputi rasa cinta dan kasih sayang, empati, serta pengendalian emosi.
2.5 Sasaran
Pengembangan Nilai Sosial pada Anak Taman Kanak-kanak
1. Strategi pengembangan sosial anak usia 0 – 3 tahun dimulai dengan memperkuat ikatan antara orang tua dan anak lewat interaksi yang penuh perhatian, intensif, dan establish bonding. Selanjutnya mengajak anak untuk mendemonstrasikan kebiasaan sosial, seperti menolong orang, mengeks-presikan cinta, dan mengajak dia untuk berbagi dengan anak lain.
2. Sasaran pengembangan sosial di TK adalah:
a. keterampilan berkomunikasi;
b. keterampilan memiliki rasa humor;
c. menjalin persahabatan;
d. berperan serta dalam kelompok;
e. memiliki tata krama.
a. keterampilan berkomunikasi;
b. keterampilan memiliki rasa humor;
c. menjalin persahabatan;
d. berperan serta dalam kelompok;
e. memiliki tata krama.
3. Materi pembelajaran pengembangan sosial di TK, meliputi cinta dan kasih
sayang, empati, afiliasi, identifikasi, disiplin, tolong-menolong dan tanggung
jawab.
Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak
Salah satu keahlian guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak didiknya.
Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak
Salah satu keahlian guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak didiknya.
Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses pengembangan sosial di
antaranya adalah:
1. metode pengelompokan anak
2. modelling dan immitating
3. bermain kooperatif
4. belajar berbagi (sharing).
1. metode pengelompokan anak
2. modelling dan immitating
3. bermain kooperatif
4. belajar berbagi (sharing).
Kecerdasan sosial dan minat adalah dua aspek psikologis yang secara teoritis berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Kecerdasan sosial dan minat akan mempengaruhi perilaku peserta didik.
sehingga
setiap yang mempengaruhi perilaku anak dalam belajar akan juga mempengaruhi prestasi belajar mereka .
kecerdasan sosial
berhubungan dengan minat belajar siswa. Oleh karena
itu hipotesis yang diajukan
dalam penelitian adalah bahwa terdapat hubungan
diantara variabel-variabel tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan memakai metoda empirik.
Hipotesis yang penulis ambil adalah terdapat hubungan
yang signifikan antara
kecerdasan sosial dengan minat belajar
Adapun hasil yang diperoleh dari perhitungan korelasi
product moment adalah 0,902 yang berarti
ada hubungan yang positif antara kecerdasan sosial
dengan minat belajar siswa. Dari perhitungan nilai
penentu (determinan) diperoleh
KD = 81,4%, artinya kontribusi kecerdasan sosial
menjelaskan keragaman minat belajar
siswa sebesar 81,4% dan sisanya 18,6% ditentukan oleh variabel lain. Jika melihat hasil dari uji diperoleh nilai lebih
besar dari atau 12,201 2,034. Artinya ada hubungan yang signifikan antara
Kecerdasan Sosial dengan Minat Belajar Siswa
Kata kunci : Hubungan, kecerdasan sosial, minat
belajar
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Kecerdasan sosial
emosional pada anak usia dini sangat lah mempengaruhi tumbuh kembang nya apa
lagi jika di lihat dari nilai-nilai yang sangat berhubungan seperti yang telah
di jelaskan dan di bahas dalam makalah ini.
Saran
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan
pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta
kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis
sampaikan terima kasih.
Daftar
Pustaka
UU RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, (Sinar Grafika 2003), Jakarta 2003
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Guru,
(Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan
Menengah), Jakarta
Usman dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya),
Bandung 2005.
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan
Kompetensi Guru, (Usaha Nasional), Surabaya 1994
Komentar
Posting Komentar