PROFESIONALISME GURU DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN BELAJAR
MAKALAH
Profesionalisme
guru dalam menggelola lingkungan belajar
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah
Kompetensi dan perkembangan guru PAUD

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh
Bunga Mercy Wely
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila
ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat
berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk
kita semua. Amin.
Jambi, Februari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang........................................................................... 1
1.2
Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profesionalisme guru dalam menggelola
lingkungan belajar ..... 4
2.3
Dukungan
fasilitas dan kebijakan sekolah.................................. 5
2.4 Peran serta orang tua dan masyarakat ........................................ 6
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan.................................................................................. 7
3.2 Saran............................................................................................ 8
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya guru merupakan kunci utama
dalam pengajaran. Guru secara langsung berupaya mempengaruhi, mengarahkan dan
mengembangkan kemampuan siswa di dalam proses belajar mengajar, sebab guru yang
paling banyak berhubungan dengan para siswa jika dibandingkan dengan personel
sekolah lainnya. Guru juga mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat
penting, mengingat sebagian besar waktu dalam kehidupan siswa di sekolah adalah
bersama guru, sehingga guru sebagai tenaga pendidik bukan hanya menyampaikan
materi pelajaran kepada siswa saja, tetapi guru tersebut harus menguasai materi
serta pengelolaan kelas yang efektif agar menjadi manusia yang cerdas,
terampil, dan cekatan. Sesuai dengan perkembangan zaman, pendidik dituntut
untuk memiliki kompetensi professional.
Guru
adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut
berperan dalam usaha pembentukan sumber
daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru yang
merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan
menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional dan harus mampu menciptakan
suatu kondisi belajar mengajar yang baik, sesuai dengan tuntutan masyarakat
yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap
diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu
kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.
Sejalan dengan pendapat diatas, bahwa guru itu sebagai pengemudi
profesional yang akan membawa peserta didik kearah yang lebih optimal. Oleh
kerena itu, guru Pendidikan Agama Islam selain memiliki kepakaran dalam ilmu
agama Islam, juga harus mengetahui psikologi terutama berkaitan dengan
psikologi peserta didik dan psikologi pendidikan agar ia dapat menempatkan diri
dalam kehidupan peserta didik dan memberikan bimbingan sesuai dengan
perkembangan peserta didik. Guru dituntut untuk bisa mengembangkan profesinya
sesuai dengan era perkembangan, sehingga guru itu dapat menciptakan kondisi
belajar yang nyaman dan berusaha supaya siswa fokus terhadap materi yang
disampaikan.
Sebagai seorang pendidik, guru harus memenuhi
beberapa syarat khusus yang mana semuanya itu akan menyatu dalam diri seorang
guru baik pengetahuan, sikap dan keterampilan keguruan serta penguasaan
beberapa ilmu pengetahuan yang akan ditransformasikan pada anak didiknya,
sehingga mampu membawa perubahan prestasi belajar siswa tersebut.
Sesuai dengan sistem pendidikan nasional, kewajiban seorang pendidik
adalah sebagai berikut:
1.Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna,
menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
2. Mempunyai komitmen secara profesional untuk
meningkatkan mutu pendidikan, dan
3. Memberi teladan, dan menjaga nama baik lembaga
profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agar kualitas pendidikan di
dalam proses belajar mengajar menjadi lebih baik adalah dengan meningkatkan
kompetensi yang dimilikinya di dalam proses kegiatan mengelola dan melaksanakan
interaksi belajar mengajar. Kompetensi disini yaitu kemampuan, kecakapan atau
keterampilan seorang guru di dalam kegiatan belajar mengajar baik kompetensi
dalam bidang pengelolaan kelas maupun dalam bidang penguasaan materi.
Pengelolaan kelas merupakan salah satu kompetensi
yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana tercantum dalam daftar kompetensi profesional yang harus dimiliki
oleh guru yang telah ditetapkan oleh Depdiknas. Hal tersebut dapat diungkapkan
bahwa peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar sangat banyak,
di antaranya adalah sebagai pemimpin kelas, pembimbing, dan pengatur
lingkungan. Pengelolaan kelas yang baik adalah mengetahui posisinya sebagai
pemimpin kelas, memiliki ilmu, memiliki karakter sebagai seorang pendidik,
memberikan bimbingan dan bisa
menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
Masalah kompetensi yang harus dimiliki seorang guru
kenyataannya tidak semua guru dapat menguasainya dengan baik, meskipun mereka
sudah cukup lama mengajar. Tetapi kenyataannya dengan adanya pengalaman
mengajar cukup lama belum tentu dapat
menguasainya dengan baik, apalagi guru yang masih baru. Penguasaan materi
dengan baik belum tentu dalam melaksanakannya pada proses interaksi belajar
mengajar bisa dengan baik pula, tanpa didukung oleh pengelolaan kelas yang
maksimal. Karena itulah kompetensi guru bukanlah masalah yang berdiri sendiri,
tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, yakni latar belakang pendidikan dan
pengalaman mengajar. Faktor-faktor tersebut sangat erat kaitannya dengan
masalah prestasi belajar siswa. Kompetensi guru juga merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu kualitas
kompetensi guru mempunyai peranan yang penting dalam proses interaksi belajar
mengajar. Ini berarti berkualitasnya prestasi belajar siswa, kompetensi guru ikut
menentukan.
Dari teori di atas, jelaslah bahwa kompetensi guru adalah salah satu
unsur yang berperan terhadap keberhasilan belajar siswa. Dengan kata lain,
tinggi rendahnya prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kompetensi
guru. Dengan demikian kompetensi guru merupakan salah satu unsur yang tidak
bisa diabaikan dalam pengelolaan proses interaksi belajar mengajar. Selain itu
dengan adanya kompetensi, guru tersebut diharapkan mampu mengarahkan segala kemampuan dan keterampilannya secara
profesional agar pelaksanaan belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Kebanyakan guru melaksanakan tugasnya hanya untuk menjalankan
kewajibannya sebagai seorang guru tanpa menyadari bahwa dirinya adalah seorang
panutan yang mempengaruhi anak didiknya. Mereka lupa bahwa tugas guru yang
paling utama bahkan dianggap suci adalah mengajar dan mendidik dengan baik
untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Keberhasilan seorang siswa dalam belajar merupakan keinginan atau
dambaan bagi setiap guru dan orang tua siswa tersebut. Dengan ilmu yang
dimiliki siswa tersebut, diharapkan bisa mengembangkan dirinya baik ketrampilan
maupun sikapnya serta dapat berperan di dalam masyarakat. Oleh karena itu,
pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar hal utama yang harus
dimilikinya adalah menguasai materi dan pengelolaan kelas. Seorang guru
profesional mampu merubah terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih
baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Ada empat fase asumsi yang melandasi keberhasilan guru dan pendidikan
guru. Fase pertama, (sekitar tahun 1930-an) penelitian terfokus kepada
sifat-sifat kepriibadian guru. Kepribadian guru yang dapat menjadi suri
teladanlah menjamin keberhasilannya mendidik anak. Fase kedua, keberhasilan
guru di dalam mengajar adalah metode mengajar. Metode penyampaian yang baik
menjamin keberhasilan pendidikan. Fase ketiga, mengutamakan iklim interaksi di
kelas. Interaksi guru di kelaslah yang paling dominan dalam menentukan
keberhasilan pendidikan. Fase keempat, memusatkan perhatian kepada penampilan
(performance) yang menggambarkan dia memiliki kemampuan (competency).
Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa keberhasilan peserta
didik sangat ditentukan oleh frofesional guru. Guru selain mempunyai tanggung
jawab dalam mengajar hal yang utama yang harus diperhatikan sebelum memasuki
ruang belajar adalah fokus terhadap dirinya sendiri baik dari segi materi,
metode belajar, dan penampilan. Untuk pengelolaan kelas yang baik hendaknya
pendidik khususnya guru PAI berpenampilan yang menarik baik dari segi ekpresi
wajah, gerak-gerik yang dapat mencerminkan wibawa seorang guru, serta
berpakaian yang rapi sesuai dengan syariah/layaknya seorang guru. Hal tersebut
diperlukan untuk memusatkan perhatian siswa
sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Setelah itu ciptakan
suasana ruangan yang nyaman dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif
dalam proses belajar mengajar.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja profesional guru dalam menggelola lingkungan
belajar?
b. Apa saja
dukungan fasilitas kebijakan sekolah?
c.
Apa peran serta orang tua dan masyarakat?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan profesional guru
dalam menggelola lingkungan belajar
b .
Menjelaskan dukungan fasilitas kebijakan sekolah
c.
Menjelaskan peran serta orang tua dan masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profesionalisme guru dalam mengelola lingkungan
belajar
Tersedianya dukungan fasilitas yang
memadai serta kebijakan sekolah dan komite sekolah yang menunjang terealisasinya lingkungan belajar
yang kondusif dan Peran serta masyarakat khususnya keterlibatan orang tua dalam
membantu terciptanya lingkungan belajar yang efektif. Kompetensi dalam
membangun dan mengatur lingkungan belajar Kompetensi dalam menata dan
mengkreasikan lingkungan belajar Kompetensi dalam memelihara keselamatan
lingkungan belajar Kompetensi dalam memelihara kesehatan
lingkungan belajar Kompetensi dalam hubungan komunikasi Profesionalisme Guru
Kata profesional menunjukkan bahwa guru adalah
sebuah profesi, yang bagi guru, seharusnya menjalankan profesinya dengan baik.
Menurut Dictionary of Education: profession is an
accupation usually involving relatively long and specialized preparation on the
level of higher aducation and goferned by its owv code of ethic, profesion is
one who has acquired a learned skill and comfroms to ethical standar of the
profesion in which he practice to skill. Selanjutnya Mc Cully mengatakan,
profession is a vocation in which professed knowledge of some department of
learing or science is used in its application to the affairs of other or in the
practice of an art founded upon it.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
istilah profesionalisasi ditemukan sebagai berikut:
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu.
Profesional adalah bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus
untuk menjalankannya dan menharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.
Profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi
professional.
Dari ketiga pengertian itu tersirat bahwa dalam
profesi digunakan teknik dan prosedur intelektual yang harus dipelajari secara
sengaja, sehingga dapat diterapkan untuk kemaslahatan orang lain. Dalam kaitan
ini dalam seorang pekerja professional dapat dibedakan dari seorang amatir
walaupun sama-sama menguasai sejumlah teknik dan prosedur kerja tertentu,
seorang pekerja professional harus memiliki informed responsiveness
”ketanggapan yang berlandaskan kearifan” terhadap impilksi kemasyarakatan atas
opjek kerjanya. Dengan perkataan lain, seorang pekerja professional memiliki
filosofi untuk menyikapi dan melaksanakan pekerjaanya.
Profesionalis adalah pekerjaan yang dilakukan
sebagai kegiatan pokok yang menghasilkan nafkah hidup dan menghendaki suatu
keahlian, cirinya, memiliki keahlian dibidang tersebut, menggunakan waktunya untuk
bekerja dalam bidang tersebut, hidup dari pekerjaan tersebut, dan bukan sebagai
hobi. Burhanuddin salam menyebutkan cirri profesi itu adalah pertama adanya
pengetahuan khusus, kedua adanya kaidah atau standar moral yang tinggi, ketiga
mengabdi kepada kepentingan masyarakat, keempat ada izin khusus untuk melaksakan suatu profesi, kelima
biasanya menjadi anggota dari suatu organisasi profesi.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa, profesional merupakan keahlian, ketrampilan, kepandaian, dan ketanggapan
yang berlandaskan kearifan yang dimiliki oleh guru pendidikan agama Islam dalam
menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Guru tersebut harus memiliki
kecerdasan khusus baik dalam penguasaan materi, memilih metode, memiliki
wawasan serta pengelolaan kelas sehingga dalam proses belajar mengajar
terlaksana sesuai dengan yang diinginkan.
Pengelolaan lingkungan belajar
Kelas merupakan tempat guru dan siswa melaksanakan
PBM (proses belajar mengajar) dan merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang
harus diorganisasikan agar kegiatan belajar mengajar terarah pada tujuan pendidikan
yang ingin dicapai.
Menurut Swardi dan manulang, Istilah pengelolaan
kelas terdiri dari dua kata, yakni kata”Pengelolaan” dan kata “kelas”. Kata
pengelolaan memiliki makna yang sama dengan management dalam Bahasa Inggris,
selanjutnya dalam bahsa Indonesia menjadi manajemen. Manajemen dapat diartikan
sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan,
dan pengawasan dari pada sumber daya, terutama sumber daya menusia untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian kelas menurut Hamalik, adalah sekelompok
orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari
guru. Sementara Suharsimi menyebutkan bahwa kelas berarti sekelompok siswa
dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama. Kedua pengertian
tersebut, kelas dapat diartikan pada kelompok orang.
Menurut Djamarah dkk, secara sederhana pengelolaan
kelas berarti kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Sedangkan
menurut Mulyasa pagelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan
iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan
dalam pembelajaran.
Dari beberapa pendapat tersebut maka disimpulkan
bahwa, pengelolaan kelas merupakan ketrampilan atau seni yang direncanakan
guru pendidikan agama Islam dalam
organisasi untuk menciptakan pembalajaran yang kondusif, memberikan pengarahan
dan pengawasan agar terlaksana proses belajar mengajar.
2.2 Dukungan
Fasilitas dan Kebijakan Sekolah
Perlengkapan dan bahan material
belajar anak, seperti : meja, kursi, buku, alat tulis, dan pinsil warna;
Perlengkapan dan peralatan sekolah anak, seperti : seragam
sekolah, baju olahraga, sepatu, perlengkapan pribadi anak,
Perlengkapan audiovisual dan komunikasi, seperti
televisi, komputer, taperecorder, kamera, dan telepon.
Perlengkapan area aktivitas bermain anak, seperti
balok, puzzle, boneka dan Fasilitas untuk anak dan staf sekolah, seperti kamar mandi, WC, tempat cuci tangan, tempat ibadah,
dapur,
ruang kantor, ruang/gedung olahraga, ruang
istirahat/tidur, dan ruang pertemuan.
2.3 Peran
Serta Orang Tua dan Masyarakat
Menjalin komunikasi tertulis melalui
buku penghubung Mengadakan pertemuan dengan orang tua secara berkala Membuat
program sekolah yang melibatkan orang tua Menggunakan fasilitas teknologi
komunikasi (telepon, e-mail, internet) Melakukan kunjungan rumah (home visits)
Observasi orang tua di kelas dan Melibatkan orang tua dalam merencanakan
aturan, keputusan dan evaluasi belajar anak. Manfaat yang diperoleh dari
kerjasama antara orang tua bagi sekolah Sekolah dapat
menyelaraskan program sekolah dengan kebijakan pemerintah dalam pendidikan anak
Guru dapat memadukan aktivitas program yang semula tidak mungkin menjadi
mungkin dengan adanya peran serta orang tua
Orang tua dapat dijadikan sumberdaya dalam
mengembangkan program sekolah dengan bakat dan keahlian yang dimiliki orang tua
Orang tua lebih memiliki rasa empati khusus dalam menjelaskan program sekolah
dan pelayanan terhadap orang tua yang lainnya
Orang tua dapat menjelaskan kebiasaan anak kepada guru
dengan akurat, sehingga guru akan menjadi lebih empati terhadap anak Pembagian
tanggung jawab dengan guru disekolah dan di rumah orang tua dapat
diikutsertakan dalamcmengambil keputusan dan kebijakan Orang tua memiliki
kesempatan untuk mengobservasi anaknya dengan anak seusianya yang lain dan
memperoleh gambaran yang lebih realistik mengenai kekurangan dan kelebihan anak
mereka.
Sementara ini sebagian besar masyarakat kita
menyerahkan pendidikan pada satuan pendidikan yang ada. Banyak orang tua
cenderung apatis dan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada bapak-ibu
guru. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab guru, tapi juga orang tua dan
masyarakat. Waktu pembelajaran di lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
tidak lebih dari 3 jam sehari, sisanya adalah waktu di rumah dan di lingkungan
masyarakat. Beban orang tua dalam pendidikan anak sudah semestinya lebih besar
dari dari pada guru, mengingat waktu yang dimilki anak jauh lebih besar di
rumah dari pada di lembaga PAUD.
Kurikulum PAUD yang ada sekarang ini sudah baik, ada
juga program pelibatan orang tua dan masyarakat, namun masih belum maksimal,
dan masih memungkinkan dimaksimalkan dengan memasukkan program pelibatan orang
tua dan masyarakat secara riil. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah
menyamakan pola pikir atau pola pandang antara guru dengan orang, disertai
komunikasi intensif antara guru dan orang tua. Dalam mempertemukan pola pikir
ini guru dan orang tua harus duduk bersama, membicarakan pendidikan apa saja
yang bisa dilakukan dirumah dan pendidikan apa saja yang harus dilakukan
disekolah. Agar pendidikan di PAUD efektif, sebaiknya materi pembelajaran
difokuskan pada hal-hal yang tidak setiap hari bisa dilakukan di rumah.
Demikian juga sebaliknya, kegiatan yang bisa dilakukan setiap hari di rumah
diajarkan semaksimal mungkin oleh orang tua. Ketiga unsur (guru, orang tua dan
masyarakat) secara bersama-sama memaksimalkan kegiatan pendidikan dalam ranah
masing-masing. Salah satu contohnya adalah cara makan atau memakai baju. Kedua
hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan setiap saat
dilakukan. Oleh karena itu pembelajaran cara makan yang baik, menggunakan alat
makan yang tepat, termasuk cara membuat makanan, dapat dilakukan oleh orang tua
sampai tuntas. Demikain juga cara memakai baju, mengancingkan baju, merapikan
baju dan sabagainya, sampai anak bisa mandiri dengan dirinya sendiri. Guru
disekolah bisa focus pada pembelajaran yang memerlukan kebersamaan, kegiatan
yang tidak dapat dilakukan sendirian, mulai dari bagaimana berkomunikasi dengan
teman sebaya, melakukan kegiatan kelompok, mempererat rasa kebersamaan,
memahami perbedaan sesama teman sebaya, sampai dengan makan bersama. Antara
guru dan orang tua harus memiliki kesamaan visi, jangan sampai apa yang
diperoleh dari guru tidak sama dengan yang diperoleh dari orang tua atau bahkan
sebaliknya. Disinilah pentingnya komunikasi efektif antara guru dan orang tua.
Ada pepatah mengatakan, manusia dibentuk oleh
lingkungannya, anak lahir bagai kertas putih. Pepatah ini mengingatkan kita
betapa besar peran masyarakat dalam PAUD. Meskipun kehidupan keluarga demikian
harmonis, anak setiap saat mendapat pujian orang tua atas kegiatannya, anak
selalu mendapat perhatian sejak bangun pagi sampai menjelang tidur, dan
memperoleh pengajaran yang baik dari keluarganya tetapi bila lingkungan masyarakat
sekitar kurang mendukung atau bahkan tidak sesuai dengan yang diperoleh di
rumah maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan anak.
Anak membutuhkan contoh dan bukan teori. Mereka lebih
dekat dengan segala sesuatu yang bersifat konkrit dan bukan abstrak. Contoh
berperilaku baik bukan hanya ranah guru. Orang tua dan masyarakat juga harus
peduli, memberikan contoh baik dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat harus peduli terhadap pendidikan anak.
Kalau bicara dengan nada tinggi, apalagi mengumpat haruslah umpan papan, jangan
sampai anak kecil meskipun bukan anak sendiri, mendengar atau melihatnya. Kalau
minum minuman keras apalagi sampai mabuk, jangan sampai menjadi tontonan
anak-anak. Ini akan menjadi contoh buruk bagi anak.
Masyarakat yang mau kerja bakti (gotong royong) dan
peduli pada sebagian masyarakat yang kurang mampu akan menjadi contoh yang baik
dalam menumbuhkan sensitivitas kehidupan bersama dalam diri anak.
Bila di sekolah guru mengajarkan membuang sampah pada
tempatnya, maka masyarakat juga harus memperlihatkan contoh yang sama demikian
juga dengan orang tua. Jangan sampai terjadi, di sekolah guru memberi contoh
membuang sampah pada bak sampah. Tetapi di rumah anak melihat orang tuanya
membuang sampah dengan cara melempar ke halaman tetangga dan melihat para
tetangga membuang sampah di sungai. Ini pasti akan membuat anak bingung, mana
sebenarnya yang harus diikuti, guru, orang tua atau tetangganya. Bisa jadi anak
akan berpikir bahwa ketiganya benar.
Dari sini kita harus memulai secara bersama-sama
menggalang pendidikan anak. Gaya lama dimana orang tua menyerahkan pendidikan
sepenuhnya pada guru, sudah saatnya mulai dikikis. Demikian juga masyarakat
yang masih tutup mata terhadap pendidikan anak harus mulai ditumbuhkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang
terjadi dalam diri siswa yang ditandai dengan perubahan tingkah laku secara
kuantitatif dalam bentuk seperti penguasaan, pengetahuan atau pemahaman,
keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan hasil belajar harus
bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas,
artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi
bentuk ikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya
menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjdi bekal bagi siswa
sebagai individu dan masyarakat. Hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu
sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas, artinya tidak terbatas pada
perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi membentuk sikap yang diperoleh
dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar
pengalaman belajar berikutnya dan menjadi bekal bagi siswa sebagai individu dan
masyarakat.
Saran
Hendaknya Melakukan
pengamatan langsung untuk meninjau kesesuaian antara informasi yang diperoleh
dengan hasil pengamatan dilapangan, untuk membuktikan ada tidaknya pengembangan
kompetensi profesional guru dalam pengelolaan kelas sehingga proses belajar
mengajar lebih efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Sadirman,
Interaksi dan Motifasi Belajar, (Raja Grafindo Persada), Jakarta 2004,
Trianto,
“Profesionalissasi Guru Masa Depan”. Dalam Mimbar Pembangunan Agama,
(April,2005),
UU
RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Sinar Grafika 2003),
Jakarta 2003
Depdiknas.
2004. Standar Kompetensi Guru, (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat
Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta
Usman
dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya), Bandung 2005.
Syaiful
Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Usaha Nasional),
Surabaya 1994
UU
No.14 tahun 2005, tentang guru dan dosen
pasal 1 ayat 10
Muslim,
Seri Tesis profesionalisme guru dalam implementasi kurikulum berbasis
kompetensi pendidikan agama pada Madrasah Aliah, (Banda Aceh:PPs IAIN
Ar-Raniry, 2007)
Bakhtiar,
dalam tesisnya, personality guru dan pengaruhnya terhadap akhlak peserta didik
di MAN Model Banda Aceh (Banda Aceh:PPs IAIN Ar-Raniry, 2009)
min numpang share ^^
BalasHapusbosan tidak tahu mesti mengerjakan apa ^^
daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^