MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI “Mendidik moral dan nilai AUD dan model-model pembelajaran moral AUD”

 

MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI

Mendidik moral dan nilai AUD dan model-model pembelajaran moral AUD”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

DOSEN PEMBIMBING

Dra. Almai Nova,Mpd.i

 

 

DI SUSUN OLEH

Bunga Mercy Wely

 

 

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i

KATA PENGANTAR................................................................................... ii                  

DAFTAR ISI.................................................................................................. iii

 

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1       Latar belakang........................................................................... 1

1.2       Rumusan masalah...................................................................... 2

1.3    Tujuan........................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1    prinsif-prinsif dasar tentang moral  ............................................. 4

2.2    Nilai Moral Yang Perlu Diajarkan Pada Anak-Anak Sejak Usia Dini  

2.3     Mempertimbangkan Proses Menangkap  Pesan Moral  

BAB III PENUTUP

3.1    Kesimpulan.................................................................................. 8

3.2  Saran............................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Jika istilah moral didefinisikan akan berbunyi,” moral berkenaan dengan norma-norma umum, mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang.”
Ketika orang berbicara tentang nilai-nilai moral, pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain. Pada anak-anak, nilai-nilai moral akan terlihat dari mampu tidaknya seorang anak membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Jujur, baik hati, dapat dipercaya, ramah, setia kawan, dermawan, berempati, bersahabat, lembut, penuh kasih, ceria, menghargai orang lain, hanyalah beberapa ciri-ciri yang dapat ditemui pada orang-orang yang dianggap memiliki nilai-nilai moral yang baik.

 TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL MANUSIA
Dan anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral ini secara perlahan dan melalui beberapa tahapan tertentu. Dibutuhkan kesabaran orangtua untuk memahami perkembangan moral sebagai proses panjang dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seorang manusia. Salah satu tokoh yang menekuni masalah perkembangan moral adalah Kohlberg. Menurut teorinya, ada (3) tingkatan perkembangan moral anak, dan masing-masing tingkatan memiliki (2) tahapan, yaitu;
• Tingkat pertama dikenal dengan Preconventional Morality
Tahap 1: Obedience and Punishment orientation
Dalam tingkat ini anak cenderung menghindari hukuman, maka anak akan terlihat sangat patuh dan berbuat baik untuk menghindari hukuman. Misalnya tidak akan bermain jauh karena akan dimarahi orang tua.
Tahap 2: Naïve Hedonistic and Instrumental Orientation
Dalam tahap ini, anak akan mulai dapat membedakan akibat fisik (Jika hukuman fisik terpaksa dilakukan orang tua, misal memukul pantatnya). Disini pemikiran anak mengenai benar atau salah belum jelas, tergantung apakah itu memuaskan keinginannya atau tidak. Misalnya, anak berkata,” Saya akan mengerjakan PR kalau nanti malam boleh nonton TV”. Biasanya tingkat dan tahapan ini ditemui pada usia anak dibawah 10 tahun.
• Tingkat kedua dikenal dengan Conventional
Tahap 3: Good Boy Nice Girl Morality
Dalam tingkat ini anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh orang lain (keluarga atau kelompok lain seperti sekolah). Dan dalam tahap ke 3 ini, anak akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan social yang ada di sekitarnya. Anak akan bertindak tertentu karena menganggap prilaku itu baik untuk keluaga atau kelompoknya. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak egosentris lagi.
Tahap 4: Authority and Morality
Dalam tahap ini, anak menganggap nilai moral baik atau buruk merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban masyarakat.
Tingkat dan tahapan ini terjadi pada anak usia 10-21 tahun.
• Tingkat ketiga disebut dengan Post Conventional
Dalam Tingkat ini anak sudah mengerti aturan social yang ada.
Tahap 5: Social Legality
Dalam tahapan ini, anak akan menentukan apakah aturan tersebut sesuai dengan moral atau tidak, jika sesuai ia akan mengikuti aturan tersebut dan sebaliknya.
Tahap 6: Morality of individual principles and Conscience
Dalam tahap terakhir ini, penalaran moral sudah merupakan kata hati/ rilekunya sehari hari. Tindakan dalam tahapan ini sebagai keputusan kata hatinya .
Namun teori Kohlberg diatas tentu bersifat dinamis, tidak statis dan tergantung pada banyak faktor. Dan peranan orang tua dalam setiap perkembangan moral anak tentu sangat penting karena anak akan selalu butuh bimbingan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Namun yang menjadi masalah adalah tidak setiap orang tua mampu atau mengetahui/memahami bagaimana cara mengkomunikasikan moral kepada anak. Maka berdasarkan teori perkembangan moral anak, dalam pembahasan akan dibahas mengenai bagaimana orang tua dapat mendidik anak dan dapat mengembangkan moral anak dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

1.2     Rumusan Masalah

 

a.       Apa saja prinsif-prinsif dasar tentang moral?

b.      Apa saja Nilai Moral Yang Perlu Diajarkan Pada Anak-Anak Sejak Usia Dini?

c.    Apa saja Mempertimbangkan Proses Menangkap  Pesan Moral

 

 

1.3 Tujuan                                       

a. Menjelaskan prinsif-prinsif dasar tentang moral    

b. Menjelaskan Nilai Moral Yang Perlu Diajarkan Pada Anak-Anak Sejak Usia Dini

c. Menjelaskan Mempertimbangkan Proses Menangkap  Pesan Moral

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsif-prinsif dasar tentang moral

Sebelum sampai pada cara-cara bagaimana mengajarkan moral kepada anak, terlebih dahulu yang harus dipahami adalah beberapa prinsip dasar tentang moral,yaitu
Moralitas Adalah Penghargaan Orang tua perlu menghargai anak dan mengharapkkan penghargaan yang serupa dari anak. Disiplin harus benar benar mendapat penghargaan dan merupakan contoh bentuk pengendalian, kelembutan, dan keadilan yang orang tua harapkan dari anak. Anak mengembangkan moralitas secara gradual dan bertahap. Tahap-tahap ini adalah perasaan yang baik dan buruk yang terus ada sejak masa anak-anak hingga dewasa. Masing-masing tahap membawa anak menjadi lebih dekat dengan kematangan perkembangan moralnya.
Menghargai Anak Dan Mengharapkan Penghargaan yang Serupa Dari Mereka
Memperlakukan anak dengan penghargaan, berarti memperlakukan mereka sebagai seorang manusia, berlaku adil dengan anak. Dan menciptakan sejumlah penghargaan bagi tercapainya kematangan tahap perkembangan anak, ini berarti memberikan anak sebuah perasaan bahwa orang tua mempertimbangkan sudut pandang anak. Karena moralitas adalah jalan dua arah, jika orang tua mengharapkan penghargaan dari anak, maka orang tua harus sangat berhati-hati dalam menjalani kegiatan mereka sehari hari, karena anak selalu dapat belajar dari apapun yang orang tua lakukan.

 Mengajarkan Dengan Contoh   
Sebuah cara paling pasti untuk membantu anak mengubah pemikiran moral mereka ke arah prilaku moral yang positif adalah mengajari mereka dengan contoh. Orang tua mengajarkan penghargaan bagi semua orang dengan contoh-contoh langsung (dalam menghargai orang) yang orang tua berikan. Tidak ada hal lain yang lebih terpatri dan menggores lebih dalam di dalam benak anak-anak selain contoh perilaku orang tua atau orang dewasa lain disekelilingnya.
Mendengarkan pun adalah sebuah contohsalah satu cara menyampaikan nilai-nilai kepada anak-anak adalah dengan mendengarkan mereka. Maka anak-anak akan belajar mendengarkan pula.
Mengajarkan Dengan mengatakan
Meski penting mengajar anak dengan contoh, namun hal itu tidak cukup. Karena anak di kelilingi dengan contoh yang buruk juga, maka anak-anak membutuhkan kata-kata orang tua seperti halnya anak membutuhkan contoh dari orangtua.
Sempatkan waktu membacakan cerita-cerita rakyat yang dapat dijadikan ilustrasi suatu nilai moral. Bagi anak yang terpenting bukan ceritanya, namun kedekatan dengan orang tua. Hal ini akan sangat membantu anak untuk memahami prinsip-prinsip yang diajarkan melalui sikap-sikap dalam tokoh cerita. Jangan biarkan anak menonton film sendirian tanpa ada interaksi bertukar nilai-nilai, karena anak hanya akan menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa nilai.
Membantu Anak Belajar Berpikir.
Yaitu berpikir untuk mereka sendiri. Orang tua dapat membantu perkembangan moral anak dengan member mereka dorongan yang konstan untuk berhenti sejenak dan berpikir, dan untuk mengambil keadaan/kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan. Anak-anak yang lebih banyak berpikir akan lebih banyak mendiskusikan isu-isu moral, menciptakan jalan yang lebih baik melalui tahap-tahap pemikiran moral daripada anak-anak yang tidak banyak berpikir. Caranya, mintalah pada anak untuk berpikir dan merefleksikan diri. Tanyakan padanya bagaimana kalau hal ini terjadi padanya? Berikan anak wakt untuk merefleksikan diri atas perilakunya.
Membantu Anak Memikul Tanggung Jawab Nyata
Upayakan agar anak ikut memikul tanggung jawab tugas di rumah dan dorong mereka agar dapat menyelesaikanya. Biarkan mereka kerjakan sendiri tugas-tugas sekolahnya, atau menjaga adik, atau memelihara hewan peliharaan.
Seimbangkan Antara Kemandirian Dan Kontrol Yang di Berikan
Anak-anak membutuhkan batasan dalam kemandirian, antara tetap berpegang dengan sayap yang mereka miliki. Hal ini cukup rumit. Terlalu banyak kontrol dari orang tua menyebabkan anak berontak dan akan melakukan apa saja untuk mendapat sedikit kebebasan. Namun dengan kebabasan yang melimpah , membuat anak menjadi tidak disiplin.Jika orang tua bersikap lebih demokratis maka perkembangan moral anak akan terkontrol dengan lebih baik.
Cintailah Anak Dan Bantu Mereka Mengembangkan Konsep Diri Positif
Cinta dan kasih sayang orang tua membantu anak menangkap nilai-nilai dan peraturan orang tua. Orang tua yang melewatkan waktu bersama anak secara kuantitatif dan kualitatif sebaik mereka mencintai anak-anak mereka, akan memiliki anak-anak yang mempunyai level perkembangan moral yang tinggi. Membuat variasi kebersamaan dengan anak, atau menciptakan sesuatu yang membahagiakan keluarga, akan membuat anak-anak selalu teringat bahwa kebersamaan adalah bentuk cinta kasih. Mencintai anak-anak bukan berarti memanjakan mereka dan merusak konsep diri yang positif dari anak.

2.2 Nilai Moral Yang Perlu Diajarkan Pada Anak-Anak Sejak Usia Dini

Mengajarkan sikap saling menghargai

Saling menghargai satu sama lain merupakan salah satu pelajaran/pendidikan moral yang perlu diajarkan pada anak-anak sejak usia dini. Ajarkan pada anak untuk memiliki sikap menghargai setiap perbedaan dan beri penjelasan pada anak kalau saling menghargai merupakan sikap terpuji dan perbedaan itu merupakan sesuatu yang indah karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mencapai tujuan dan menjalani hidup. Nilai moral seperti ini penting untuk diajarkan pada anak supaya mereka mudah beradaptasi ketika berada dilingkungan sosial.

Mengajarkan sikap jujur dan jangan berbohong

Melihat fenomena zaman sekarang, rasanya sulit sekali menemukan orang yang memiliki sifat jujur. Faktor mendasar yang menyebabkan seseorang berbohong adalah kebiasaan pada waktu kecil sehingga terbawa samapi dewasa. Oleh karena itu penting sekali mengajarkan dan menerapkan kebiasaan bersikap jujur pada anak-anak sejak usia dini.

Orangtua harus memberikan penjelasan pada anak-anak bahwa bersikap jujur merupakan hal yang sangat penting dan termasuk sikap terpuji yang akan membawa kebahagiaan dalam hidup. Selain itu, berikan penjelasan pada anak kalau kebohongan hanya indah diawal dan akan membawa penderitaan sepanjang hidup. Sekecil apapun kebohongan tetap saja akan membawa dampak yang besar bagi kehidupan.

Mengajarkan sikap rendah hati dan suka menolong sesama

Nilai moral selanjutnya yang penting untuk diajarkan pada anak adalah sikap saling menolong dan rendah hati. Supaya anak mudah mengerti, Anda dituntut untuk tidak hanya member penjelasan secara lisan saja. Akan tetapi alangkah lebih baiknya kalau Anda memberikan contoh yang bisa dilihat langsung oleh anak seperti menolong orang lain yang sedang kesusahan. Hal tersebut tentunya akan menginspirasi anak untuk mengikuti kebiasaan baik Anda.

Anak-anak pada usia dini cenderung akan mudah meniru setiap perbuatan yang dilihatnya, baik itu perbuatan baik ataupun buruk. Maka dari itu peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengarahkan anak ke jalur yang lebih baik sejak uisa dini. Perilaku dan kebiasaan baik yang diajarkan pada anak akan terbawa sampai usia dewasa.

Mengajarkan sikap bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat

Pelajaran moral yang berhubungan dengan tanggung jawab penting sekali diajarkan pada anak-anak. Ajarkan pada anak untuk senantiasa meminta maaf apabila melakukan kesalahan terhadap orang lain. Berikan penjelasan pada anak-anak kalau meminta maaf adalah bentuk dari tanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat. Nilai moral ini akan membentuk pribadi anak yang memiliki sifat rendah hati dan mau mengakui kesalahan sendiri.

Mengajarkan sikap menyayangi

Saling menyayangi merupakan salah satu sikap untuk menciptakan persaudaraan antar sesama manusia. Ajarkan pada anak bahwa menyakiti orang lain adalah sikap yang salah dan akan berdampak negatif. Anak-anak harus di beri pengertian kalau menyakiti orang lain tidak hanya berupa perbuatan, akan tetapi bisa juga berasal dari perkataan.

2.3. Mempertimbangkan Proses Menangkap  Pesan Moral

Pada dasarnya suatu proses komunikasi moral bertujuan mengembangkan perilaku anak menjadi manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakatnya. Tujuan utama membentuk perilaku inilah yang paling sulit, karena pada dasarnya anak harus mengetahui terlebih dahulu atau berwawasan mengenai nilai-nilai moral. Wawasan ini akan masuk dalam pikirannya dan akhirnya menggerakan kesadaran dalam dirinya dan meyakini sebagai sikap yang benar. Setelah menyadari anak akan melakukan perbuatan tersebut. Lambat laun perilaku tersebut akan berubah menjadi adat kebiasaan. Proses ini berlangsung dalam kesatuan waktu dan saling melengkapi satu sama lain.
Perilaku yang terbentuk pada diri manusia mempunyai tahapan yang seharusnya mempertimbangkan aspek intelektual dan emosional anak secara utuh. Orang tua perlu mempertimbangkan tahapan dimana proses komunikasi moral sedang berlangsung. Komunikasi yang terjadi akan sekaligus mengarah pada proses penyadaran dalam diri anak. Pada tahapan dimana anak memahami nilai-nilai moral, apakah baru sampai tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku yang diharapkan.
• Pengetahuan
Pemahaman seseorang biasanya dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai sesuatu hal. Misal dalam nilai-nilai moral, anak biasanya mengetahui dari apa yang dia lihat dan dia dengar.
Sejak usia dini harus ditanamkan wawasan ini melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dan anak akan tertarik untuk mengembangkannya sejak mereka belajar bicara. Dengan tetap mempertimbangkan tingkatan usia anak. Mengembangkan wawasan kepada anak bukan hal yang mudah, perlu kehati-hatian dan kesabaran orang tua untuk mengembangkan wawasan mengenai anak dan pengembangan moralnya.
• Sikap
Setelah anak mempunyai wawasan yang cukup, maka akan berproses untuk mengolahnya sampai pada tahap menyadari dan meyakini sehingga membentuk suatu sikap. Pada awalnya anak baru sampai tahap meniru atau imitasi. Apabila orang tua menunjukkan sikap yang konsisten, anak-anak akan meyakininya bahwa tindakan itu baik dan pantas ditiru.
Pembentukan sikap ke arah nilai-nilai moral perlu melihat kecenderungan pada umur umur tertentu. Ada saat anak sangat bersifat egois, ada masa anak sangat ingin berinteraksi dan mulai bersikap social.
• Perilaku
Beranjak dari proses kesadaran, anak akan tergerak untuk melakukannya. Pada saat yang tepat hendaknya anak diajak melaksanakan nilai moral. Anak cenderung cepat frustasi bila merasa tidak bisa, maka orang tua harus sabar dalam mendampingi agar anak dapat melakukannya. Contoh-contoh konkret dari orang tua cara melakukannya untuk ditiru pada awalnya , akan sangat mempermudah. Lambat laun anak akan mampu membuat keputusan dan melakukan dengan caranya sendiri.

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Anak-anak kadang seperti tape perekam atau burung beo. Mereka mencontoh dan mengulang apa yang mereka dengar, dan lebih-lebih apa yang mereka lihat atau mereka amati. Hal ini benar untuk perilaku, sikap, dan pembentukan moral serta pilihan hidup. Ada sebuah tulisan yang dapat dijadikan pegangan oleh orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak agar perkembangan moral anak terjaga dengan baik, karenannya orang tua harus selalu menyadari bahwa mengajarkan sesuatu pada anak tidaklah cukup hanya secara verbal, namun juga non-verbal.
Saran
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

UU RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Sinar Grafika 2003), Jakarta 2003

Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Guru, (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta

Usman dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya), Bandung 2005. 

Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Usaha Nasional), Surabaya 1994

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS PERMAINAN DAN PERLENGKAPAN AKTIFITAS DI LUAR KELAS

STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN