Profesionalisme guru dalam menggelola lingkungan belajar
MAKALAH 2
Profesionalisme guru dalam menggelola lingkungan belajar
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kompetensi dan perkembangan guru PAUD

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh
Bunga Mercy Wely
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.
Jambi, Februari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Profesionalisme guru dalam menggelola lingkungan belajar ..... 4
2.3 Dukungan fasilitas dan kebijakan sekolah.................................. 5
2.4 Peran serta orang tua dan masyarakat ........................................ 6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................. 7
3.2 Saran............................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya guru merupakan kunci utama dalam pengajaran. Guru secara langsung berupaya mempengaruhi, mengarahkan dan mengembangkan kemampuan siswa di dalam proses belajar mengajar, sebab guru yang paling banyak berhubungan dengan para siswa jika dibandingkan dengan personel sekolah lainnya. Guru juga mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting, mengingat sebagian besar waktu dalam kehidupan siswa di sekolah adalah bersama guru, sehingga guru sebagai tenaga pendidik bukan hanya menyampaikan materi pelajaran kepada siswa saja, tetapi guru tersebut harus menguasai materi serta pengelolaan kelas yang efektif agar menjadi manusia yang cerdas, terampil, dan cekatan. Sesuai dengan perkembangan zaman, pendidik dituntut untuk memiliki kompetensi professional.
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Oleh karena itu guru yang merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional dan harus mampu menciptakan suatu kondisi belajar mengajar yang baik, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.
Sejalan dengan pendapat diatas, bahwa guru itu sebagai pengemudi profesional yang akan membawa peserta didik kearah yang lebih optimal. Oleh kerena itu, guru Pendidikan Agama Islam selain memiliki kepakaran dalam ilmu agama Islam, juga harus mengetahui psikologi terutama berkaitan dengan psikologi peserta didik dan psikologi pendidikan agar ia dapat menempatkan diri dalam kehidupan peserta didik dan memberikan bimbingan sesuai dengan perkembangan peserta didik. Guru dituntut untuk bisa mengembangkan profesinya sesuai dengan era perkembangan, sehingga guru itu dapat menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan berusaha supaya siswa fokus terhadap materi yang disampaikan.
Sebagai seorang pendidik, guru harus memenuhi beberapa syarat khusus yang mana semuanya itu akan menyatu dalam diri seorang guru baik pengetahuan, sikap dan keterampilan keguruan serta penguasaan beberapa ilmu pengetahuan yang akan ditransformasikan pada anak didiknya, sehingga mampu membawa perubahan prestasi belajar siswa tersebut.
Sesuai dengan sistem pendidikan nasional, kewajiban seorang pendidik adalah sebagai berikut:
1.Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.
2. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan
3. Memberi teladan, dan menjaga nama baik lembaga profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agar kualitas pendidikan di dalam proses belajar mengajar menjadi lebih baik adalah dengan meningkatkan kompetensi yang dimilikinya di dalam proses kegiatan mengelola dan melaksanakan interaksi belajar mengajar. Kompetensi disini yaitu kemampuan, kecakapan atau keterampilan seorang guru di dalam kegiatan belajar mengajar baik kompetensi dalam bidang pengelolaan kelas maupun dalam bidang penguasaan materi.
Pengelolaan kelas merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana tercantum dalam daftar kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh guru yang telah ditetapkan oleh Depdiknas. Hal tersebut dapat diungkapkan bahwa peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar sangat banyak, di antaranya adalah sebagai pemimpin kelas, pembimbing, dan pengatur lingkungan. Pengelolaan kelas yang baik adalah mengetahui posisinya sebagai pemimpin kelas, memiliki ilmu, memiliki karakter sebagai seorang pendidik, memberikan bimbingan dan bisa menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
Masalah kompetensi yang harus dimiliki seorang guru kenyataannya tidak semua guru dapat menguasainya dengan baik, meskipun mereka sudah cukup lama mengajar. Tetapi kenyataannya dengan adanya pengalaman mengajar cukup lama belum tentu dapat menguasainya dengan baik, apalagi guru yang masih baru. Penguasaan materi dengan baik belum tentu dalam melaksanakannya pada proses interaksi belajar mengajar bisa dengan baik pula, tanpa didukung oleh pengelolaan kelas yang maksimal. Karena itulah kompetensi guru bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, yakni latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar. Faktor-faktor tersebut sangat erat kaitannya dengan masalah prestasi belajar siswa. Kompetensi guru juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu kualitas kompetensi guru mempunyai peranan yang penting dalam proses interaksi belajar mengajar. Ini berarti berkualitasnya prestasi belajar siswa, kompetensi guru ikut menentukan.
Dari teori di atas, jelaslah bahwa kompetensi guru adalah salah satu unsur yang berperan terhadap keberhasilan belajar siswa. Dengan kata lain, tinggi rendahnya prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru. Dengan demikian kompetensi guru merupakan salah satu unsur yang tidak bisa diabaikan dalam pengelolaan proses interaksi belajar mengajar. Selain itu dengan adanya kompetensi, guru tersebut diharapkan mampu mengarahkan segala kemampuan dan keterampilannya secara profesional agar pelaksanaan belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kebanyakan guru melaksanakan tugasnya hanya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang guru tanpa menyadari bahwa dirinya adalah seorang panutan yang mempengaruhi anak didiknya. Mereka lupa bahwa tugas guru yang paling utama bahkan dianggap suci adalah mengajar dan mendidik dengan baik untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Keberhasilan seorang siswa dalam belajar merupakan keinginan atau dambaan bagi setiap guru dan orang tua siswa tersebut. Dengan ilmu yang dimiliki siswa tersebut, diharapkan bisa mengembangkan dirinya baik ketrampilan maupun sikapnya serta dapat berperan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendidik dalam melakukan proses belajar mengajar hal utama yang harus dimilikinya adalah menguasai materi dan pengelolaan kelas. Seorang guru profesional mampu merubah terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Ada empat fase asumsi yang melandasi keberhasilan guru dan pendidikan guru. Fase pertama, (sekitar tahun 1930-an) penelitian terfokus kepada sifat-sifat kepriibadian guru. Kepribadian guru yang dapat menjadi suri teladanlah menjamin keberhasilannya mendidik anak. Fase kedua, keberhasilan guru di dalam mengajar adalah metode mengajar. Metode penyampaian yang baik menjamin keberhasilan pendidikan. Fase ketiga, mengutamakan iklim interaksi di kelas. Interaksi guru di kelaslah yang paling dominan dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Fase keempat, memusatkan perhatian kepada penampilan (performance) yang menggambarkan dia memiliki kemampuan (competency).
Berdasarkan pandangan di atas dapat dikatakan bahwa keberhasilan peserta didik sangat ditentukan oleh frofesional guru. Guru selain mempunyai tanggung jawab dalam mengajar hal yang utama yang harus diperhatikan sebelum memasuki ruang belajar adalah fokus terhadap dirinya sendiri baik dari segi materi, metode belajar, dan penampilan. Untuk pengelolaan kelas yang baik hendaknya pendidik khususnya guru PAI berpenampilan yang menarik baik dari segi ekpresi wajah, gerak-gerik yang dapat mencerminkan wibawa seorang guru, serta berpakaian yang rapi sesuai dengan syariah/layaknya seorang guru. Hal tersebut diperlukan untuk memusatkan perhatian siswa sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Setelah itu ciptakan suasana ruangan yang nyaman dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif dalam proses belajar mengajar.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja profesional guru dalam menggelola lingkungan belajar?
b. Apa saja dukungan fasilitas kebijakan sekolah?
c. Apa peran serta orang tua dan masyarakat?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan profesional guru dalam menggelola lingkungan belajar
b . Menjelaskan dukungan fasilitas kebijakan sekolah
c. Menjelaskan peran serta orang tua dan masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profesionalisme guru dalam mengelola lingkungan belajar
Tersedianya dukungan fasilitas yang memadai serta kebijakan sekolah dan komite sekolah yang menunjang terealisasinya lingkungan belajar yang kondusif dan Peran serta masyarakat khususnya keterlibatan orang tua dalam membantu terciptanya lingkungan belajar yang efektif. Kompetensi dalam membangun dan mengatur lingkungan belajar Kompetensi dalam menata dan mengkreasikan lingkungan belajar Kompetensi dalam memelihara keselamatan
lingkungan belajar Kompetensi dalam memelihara kesehatan lingkungan belajar Kompetensi dalam hubungan komunikasi Profesionalisme Guru
Kata profesional menunjukkan bahwa guru adalah sebuah profesi, yang bagi guru, seharusnya menjalankan profesinya dengan baik.
Menurut Dictionary of Education: profession is an accupation usually involving relatively long and specialized preparation on the level of higher aducation and goferned by its owv code of ethic, profesion is one who has acquired a learned skill and comfroms to ethical standar of the profesion in which he practice to skill. Selanjutnya Mc Cully mengatakan, profession is a vocation in which professed knowledge of some department of learing or science is used in its application to the affairs of other or in the practice of an art founded upon it.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah profesionalisasi ditemukan sebagai berikut:
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu. Profesional adalah bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya dan menharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi professional.
Dari ketiga pengertian itu tersirat bahwa dalam profesi digunakan teknik dan prosedur intelektual yang harus dipelajari secara sengaja, sehingga dapat diterapkan untuk kemaslahatan orang lain. Dalam kaitan ini dalam seorang pekerja professional dapat dibedakan dari seorang amatir walaupun sama-sama menguasai sejumlah teknik dan prosedur kerja tertentu, seorang pekerja professional harus memiliki informed responsiveness ”ketanggapan yang berlandaskan kearifan” terhadap impilksi kemasyarakatan atas opjek kerjanya. Dengan perkataan lain, seorang pekerja professional memiliki filosofi untuk menyikapi dan melaksanakan pekerjaanya.
Profesionalis adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok yang menghasilkan nafkah hidup dan menghendaki suatu keahlian, cirinya, memiliki keahlian dibidang tersebut, menggunakan waktunya untuk bekerja dalam bidang tersebut, hidup dari pekerjaan tersebut, dan bukan sebagai hobi. Burhanuddin salam menyebutkan cirri profesi itu adalah pertama adanya pengetahuan khusus, kedua adanya kaidah atau standar moral yang tinggi, ketiga mengabdi kepada kepentingan masyarakat, keempat ada izin khusus untuk melaksakan suatu profesi, kelima biasanya menjadi anggota dari suatu organisasi profesi.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, profesional merupakan keahlian, ketrampilan, kepandaian, dan ketanggapan yang berlandaskan kearifan yang dimiliki oleh guru pendidikan agama Islam dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Guru tersebut harus memiliki kecerdasan khusus baik dalam penguasaan materi, memilih metode, memiliki wawasan serta pengelolaan kelas sehingga dalam proses belajar mengajar terlaksana sesuai dengan yang diinginkan.
Pengelolaan lingkungan belajar
Kelas merupakan tempat guru dan siswa melaksanakan PBM (proses belajar mengajar) dan merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang harus diorganisasikan agar kegiatan belajar mengajar terarah pada tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Menurut Swardi dan manulang, Istilah pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yakni kata”Pengelolaan” dan kata “kelas”. Kata pengelolaan memiliki makna yang sama dengan management dalam Bahasa Inggris, selanjutnya dalam bahsa Indonesia menjadi manajemen. Manajemen dapat diartikan sebagai seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan dari pada sumber daya, terutama sumber daya menusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian kelas menurut Hamalik, adalah sekelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru. Sementara Suharsimi menyebutkan bahwa kelas berarti sekelompok siswa dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama. Kedua pengertian tersebut, kelas dapat diartikan pada kelompok orang.
Menurut Djamarah dkk, secara sederhana pengelolaan kelas berarti kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Sedangkan menurut Mulyasa pagelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
Dari beberapa pendapat tersebut maka disimpulkan bahwa, pengelolaan kelas merupakan ketrampilan atau seni yang direncanakan guru pendidikan agama Islam dalam organisasi untuk menciptakan pembalajaran yang kondusif, memberikan pengarahan dan pengawasan agar terlaksana proses belajar mengajar.
2.2 Dukungan Fasilitas dan Kebijakan Sekolah
Perlengkapan dan bahan material belajar anak, seperti : meja, kursi, buku, alat tulis, dan pinsil warna;
Perlengkapan dan peralatan sekolah anak, seperti : seragam sekolah, baju olahraga, sepatu, perlengkapan pribadi anak,
Perlengkapan audiovisual dan komunikasi, seperti televisi, komputer, taperecorder, kamera, dan telepon.
Perlengkapan area aktivitas bermain anak, seperti balok, puzzle, boneka dan Fasilitas untuk anak dan staf sekolah, seperti kamar mandi, WC, tempat cuci tangan, tempat ibadah, dapur,
ruang kantor, ruang/gedung olahraga, ruang istirahat/tidur, dan ruang pertemuan.
2.3 Peran Serta Orang Tua dan Masyarakat
Menjalin komunikasi tertulis melalui buku penghubung Mengadakan pertemuan dengan orang tua secara berkala Membuat program sekolah yang melibatkan orang tua Menggunakan fasilitas teknologi komunikasi (telepon, e-mail, internet) Melakukan kunjungan rumah (home visits) Observasi orang tua di kelas dan Melibatkan orang tua dalam merencanakan aturan, keputusan dan evaluasi belajar anak. Manfaat yang diperoleh dari
kerjasama antara orang tua bagi sekolah Sekolah dapat menyelaraskan program sekolah dengan kebijakan pemerintah dalam pendidikan anak Guru dapat memadukan aktivitas program yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dengan adanya peran serta orang tua
Orang tua dapat dijadikan sumberdaya dalam mengembangkan program sekolah dengan bakat dan keahlian yang dimiliki orang tua Orang tua lebih memiliki rasa empati khusus dalam menjelaskan program sekolah dan pelayanan terhadap orang tua yang lainnya
Orang tua dapat menjelaskan kebiasaan anak kepada guru dengan akurat, sehingga guru akan menjadi lebih empati terhadap anak Pembagian tanggung jawab dengan guru disekolah dan di rumah orang tua dapat diikutsertakan dalamcmengambil keputusan dan kebijakan Orang tua memiliki kesempatan untuk mengobservasi anaknya dengan anak seusianya yang lain dan memperoleh gambaran yang lebih realistik mengenai kekurangan dan kelebihan anak mereka.
Sementara ini sebagian besar masyarakat kita menyerahkan pendidikan pada satuan pendidikan yang ada. Banyak orang tua cenderung apatis dan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada bapak-ibu guru. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab guru, tapi juga orang tua dan masyarakat. Waktu pembelajaran di lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tidak lebih dari 3 jam sehari, sisanya adalah waktu di rumah dan di lingkungan masyarakat. Beban orang tua dalam pendidikan anak sudah semestinya lebih besar dari dari pada guru, mengingat waktu yang dimilki anak jauh lebih besar di rumah dari pada di lembaga PAUD.
Kurikulum PAUD yang ada sekarang ini sudah baik, ada juga program pelibatan orang tua dan masyarakat, namun masih belum maksimal, dan masih memungkinkan dimaksimalkan dengan memasukkan program pelibatan orang tua dan masyarakat secara riil. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menyamakan pola pikir atau pola pandang antara guru dengan orang, disertai komunikasi intensif antara guru dan orang tua. Dalam mempertemukan pola pikir ini guru dan orang tua harus duduk bersama, membicarakan pendidikan apa saja yang bisa dilakukan dirumah dan pendidikan apa saja yang harus dilakukan disekolah. Agar pendidikan di PAUD efektif, sebaiknya materi pembelajaran difokuskan pada hal-hal yang tidak setiap hari bisa dilakukan di rumah. Demikian juga sebaliknya, kegiatan yang bisa dilakukan setiap hari di rumah diajarkan semaksimal mungkin oleh orang tua. Ketiga unsur (guru, orang tua dan masyarakat) secara bersama-sama memaksimalkan kegiatan pendidikan dalam ranah masing-masing. Salah satu contohnya adalah cara makan atau memakai baju. Kedua hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan setiap saat dilakukan. Oleh karena itu pembelajaran cara makan yang baik, menggunakan alat makan yang tepat, termasuk cara membuat makanan, dapat dilakukan oleh orang tua sampai tuntas. Demikain juga cara memakai baju, mengancingkan baju, merapikan baju dan sabagainya, sampai anak bisa mandiri dengan dirinya sendiri. Guru disekolah bisa focus pada pembelajaran yang memerlukan kebersamaan, kegiatan yang tidak dapat dilakukan sendirian, mulai dari bagaimana berkomunikasi dengan teman sebaya, melakukan kegiatan kelompok, mempererat rasa kebersamaan, memahami perbedaan sesama teman sebaya, sampai dengan makan bersama. Antara guru dan orang tua harus memiliki kesamaan visi, jangan sampai apa yang diperoleh dari guru tidak sama dengan yang diperoleh dari orang tua atau bahkan sebaliknya. Disinilah pentingnya komunikasi efektif antara guru dan orang tua.
Ada pepatah mengatakan, manusia dibentuk oleh lingkungannya, anak lahir bagai kertas putih. Pepatah ini mengingatkan kita betapa besar peran masyarakat dalam PAUD. Meskipun kehidupan keluarga demikian harmonis, anak setiap saat mendapat pujian orang tua atas kegiatannya, anak selalu mendapat perhatian sejak bangun pagi sampai menjelang tidur, dan memperoleh pengajaran yang baik dari keluarganya tetapi bila lingkungan masyarakat sekitar kurang mendukung atau bahkan tidak sesuai dengan yang diperoleh di rumah maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan anak.
Anak membutuhkan contoh dan bukan teori. Mereka lebih dekat dengan segala sesuatu yang bersifat konkrit dan bukan abstrak. Contoh berperilaku baik bukan hanya ranah guru. Orang tua dan masyarakat juga harus peduli, memberikan contoh baik dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat harus peduli terhadap pendidikan anak. Kalau bicara dengan nada tinggi, apalagi mengumpat haruslah umpan papan, jangan sampai anak kecil meskipun bukan anak sendiri, mendengar atau melihatnya. Kalau minum minuman keras apalagi sampai mabuk, jangan sampai menjadi tontonan anak-anak. Ini akan menjadi contoh buruk bagi anak.
Masyarakat yang mau kerja bakti (gotong royong) dan peduli pada sebagian masyarakat yang kurang mampu akan menjadi contoh yang baik dalam menumbuhkan sensitivitas kehidupan bersama dalam diri anak.
Bila di sekolah guru mengajarkan membuang sampah pada tempatnya, maka masyarakat juga harus memperlihatkan contoh yang sama demikian juga dengan orang tua. Jangan sampai terjadi, di sekolah guru memberi contoh membuang sampah pada bak sampah. Tetapi di rumah anak melihat orang tuanya membuang sampah dengan cara melempar ke halaman tetangga dan melihat para tetangga membuang sampah di sungai. Ini pasti akan membuat anak bingung, mana sebenarnya yang harus diikuti, guru, orang tua atau tetangganya. Bisa jadi anak akan berpikir bahwa ketiganya benar.
Dari sini kita harus memulai secara bersama-sama menggalang pendidikan anak. Gaya lama dimana orang tua menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada guru, sudah saatnya mulai dikikis. Demikian juga masyarakat yang masih tutup mata terhadap pendidikan anak harus mulai ditumbuhkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang terjadi dalam diri siswa yang ditandai dengan perubahan tingkah laku secara kuantitatif dalam bentuk seperti penguasaan, pengetahuan atau pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi bentuk ikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjdi bekal bagi siswa sebagai individu dan masyarakat. Hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi membentuk sikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjadi bekal bagi siswa sebagai individu dan masyarakat.
Saran
Hendaknya Melakukan pengamatan langsung untuk meninjau kesesuaian antara informasi yang diperoleh dengan hasil pengamatan dilapangan, untuk membuktikan ada tidaknya pengembangan kompetensi profesional guru dalam pengelolaan kelas sehingga proses belajar mengajar lebih efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Sadirman, Interaksi dan Motifasi Belajar, (Raja Grafindo Persada), Jakarta 2004,
Trianto, “Profesionalissasi Guru Masa Depan”. Dalam Mimbar Pembangunan Agama, (April,2005),
UU RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Sinar Grafika 2003), Jakarta 2003
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Guru, (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta
Usman dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya), Bandung 2005.
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Usaha Nasional), Surabaya 1994
UU No.14 tahun 2005, tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10
Muslim, Seri Tesis profesionalisme guru dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi pendidikan agama pada Madrasah Aliah, (Banda Aceh:PPs IAIN Ar-Raniry, 2007)
Bakhtiar, dalam tesisnya, personality guru dan pengaruhnya terhadap akhlak peserta didik di MAN Model Banda Aceh (Banda Aceh:PPs IAIN Ar-Raniry, 2009)
Slots – Casino, Roulette, Blackjack, Slots – Casino, Roulette,
BalasHapusFree Slots 포항 출장안마 and Casino Games 충청남도 출장안마 at the 삼척 출장샵 Best Real Money Casinos of 2021 · Best Slots Games at Slots.lv · Best Slots Online 오산 출장마사지 Casino for 구리 출장안마 Paypal · Top Slots with Bonuses at