MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN



MAKALAH MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN
Bermain Dan Permainan PAUD










Dosen Pembimbing
 Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh 
BUNGA MERCY WELY




SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini berisikan tentang MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN. Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.


Jambi, Oktober 2017
Penulis












DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii                  
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii


BAB I PENDAHULUAN
1.1       Latar belakang........................................................................... 1
1.2       Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3    Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1       Asumsi dasar kebutuhan alat bermain....................................... 4
2.2      Tips menciptakan alat bermain................................................... 5
2.3      Dimensi-dimensi pembuatan alat bermain.................................. 6
2.4      Menciptakan alat bermain dalam gamitan dimensi perkembangan
         anak........................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan.................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 9












BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang masalah

       Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap anak, bahkan dikatakan anak mengisi sebagian besar dari kehidupannya dengan bermain. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2003:697) disebutkan bahwa  yang dimaksud dengan bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati (dengan alat tertentu atau tidak). Dengan bermain disebabkan karena adanya sisa kekuatan di dalam dirinya yang sedang berkembang dan tumbuh. Produksi kekuatan dalam diri anak itu melebihi apa yang dibutuhkan lahir dan batin.
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan anak secara berulang-ulang demi kesenangan tanpa adanya tujuan dan sasaran yang hendak dicapai (M. Hariwijaya, 2009 : 103). Anak dibawah usia 6 tahun mempunyai masa bermain yang cukup panjang adapaun yang dilakukan anak dapat menimbulkan kesenangan. Bermain adalah dunia main bagi anak usia 5-6 tahun dan menjadi hak pada anak untuk dapat selalu bermain. Sebab masa mereka hanya untuk bermain.
 
Para ahli mengatakan bahwa tidak mudah mendefinisikan pengertian bermain secara tepat, dalam kehidupan sehari-hari anak membutuhkan pelepasan dari kekangan yang timbul dari lingkungannya. Bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan emosinya secara wajar,  “bermain” (play) merupakan istilah yang digunakan secara bebas, sehingga arti utamanya mungkin hilang, arti yang paling tepat ialah : setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
Menurut Piaget (2010:138) permainan sebagai suatu media yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak. Permainan memungkinkan anak mempraktikan kompetensi-kompetensi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dengan cara yang santai dan menyenangkan .
Vigotsky (2010:138) menyatakan bahwa permainan adalah suatu seting yang sangat bagus bagi perkembangan kognitif ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan hayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah itu seekor kuda.
 
Bentuk permainan yang sangat dikenal dari permainan yang konstruktif adalah membuat benda-benda. Pada masa permainan awal-awal konstruktif, anak-anak membuat benda-benda dari tanah, pasir, balok-balok kayu, tanah liat, kertas, lilin dan cat. Maka anak-anak akan memcoba membuat ide-ide yang mereka miliki. Seorang anak mungkin akan membuat menara yang miring, sedangkan anak yang lain membuat jembatan.

1.2     Rumusan Masalah
a.       Apa Pengertian asumsi dasar alat kebutuhan bermain?
b.      Apa saja tips menciptakan alat bermain?
c.       Apa yang termasuk dimensi-dimensi pembuatan alat bermain?
d.     Apa  saja menciptakan alat bermain dalam gamitan dimensi perkembangan anak?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan asumsi dasar alat kebutuhan bermain
b. Menjelaskan tips menciptakan alat bermain
c. Menjelaskan dimensi-dimensi pembuatan alat bermain
d. Menjelaskan menciptakan alat bermain dalam gamitan dimensi perkembangan anak











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asumsi dasar kebutuhan alat permainan

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi suatu kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Jadi, apapun kegiatannya bila dilakukan dengan senang bisa dikatakan bermain. Bermain dapat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, kreativitas, pengetahuan, tingkah laku sosial dan nilai moral anak.

Menurut Aase Erikse dalam bukunya yang berjudul Playground Design, Outdoor Environments for Learning and Development, mengatakan bahwa fungsi bermain adalah sebagai proses pembelajaran mengenai aturan tertentu, sarana pelepasan emosi dan cara anak memahami dunia dengan melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya dan tujuan bermain bagi anak adalah untuk mengeluarkan energi yang berlebihan, melatih dan menyempurnakan insting, persiapan bagi anak untuk kehidupan masa depannya dan untuk memulihkan tenaga, penyegaran setelah kegiatan belajar secara formal

Upaya Mendidik Anak Melalui Permainan Edukatif

rumah sebagai “sekolah bermain” pertama dan utama. Efektivitas rumah sebagai sekolah bermain sangat ditentukan oleh hubungan yang harmonis antara orang tua. Inilah sebabnya,  mengapa anak-anak korban  broken home sangat sulit dididik. Sebab, mereka setiap saat selalu melihat dan mendengar peristiwa terburuk dalam hidupnya, yakni pertengkaran dan pertikaian kedua orang tuanya. Jika rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi anak telah dirusak orang tuanya dengan pertengkaran, maka rusaklah sekolah pertama dan utama
tersebut. Jika sekolahnya telah rusak, maka anak pun bisa dipastikan akan ikut rusak, bahkan hancur. Sehingga sekolah pertama dan utama tersebut tidak efektif. Sebab, anak yang rusak sulit diajak bermain, bersosialisasi, bernyanyi dan lain sebagainya. Inilah sebabnya, mengapa kunci efektivitas PAUD tergantung pada efektivitas rumah sebagai sekolah pertama bagi anak (Suyadi, 2009: 233-235). Oleh karena itu, orang tua sebagai guru pertama dan utama tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjalankan tugasnya sebagai pendidik atas anak-anaknya. Dengan demikian keharmonisan rumah tangga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi keberhasilan pendidikan di keluarga tersebut.

2.2 Tips menciptakan alat bermain
 Syarat pemilihan dan penggunaan alat dan bahan permainan
Selain permainan yang dapat dilaksanakan tanpa bantuan alat, permainan juga dapat dilakukan dengan alat bantu alat permainan. Beberapa   aspek   yang   perlu   diperhatikan   dalam   memilih   bahan  dan   peralatan   belajar   dan   bermain   anak yaitu:
  1. Pilih alat atau bahan yang mengundang perhatian anak,   Alat    dan   bahan    dapat  memuaskan  kebutuhan     anak,   menarik minat   dan   menyentuh   perasaan   mereka   baik   dari   warna,   jenis,   bentuk, ukuran   atau   berat.   Jenis   dan   bentuk   alat   belajar   juga   akan   berpengaruh          terhadap   perkembangan   belajar   anak.  Oleh karena   itu   pilih   yang   bobotnya tidak    terlalu   berat   sehingga    anak    mudah     memindah-mindahkannya, kecuali memang peralatan tersebut dirancang khusus untuk tidak dipindah, digeser atau dibawa oleh anak.
  2. Pilih bahan yang mencerminkan karakteristik tingkat usia anak.   Dalam mencari alat permainan kita  harus mempelajari  perkembangan dan ciri-ciri belajar anak sebagaimana karakteristik anak.
  3. Pilih alat atau bahan yang memiliki unsur multiguna. Alat   dan  bahan   mainan  ini  dapat  memenuhi    bermacam-macam tujuan     pengembangan        atau   jika    memungkinkan  seluruh    aspek perkembangan   anak   dan   dapat   dipergunakan   secara   fleksibel   dan   serba guna. Misalnya ketika anak bermain dengan balok ia akan berfikir untuk membangun sesuatu dari balok (kognitif) membolak-balik/mengeksploras balok tersebut (motorik halus) membuat bangunan baru/aneh (kreatif) atau kerjasama dengan temannya untuk menyusun balok (sosial).
  4. Alat    permainan     sebaiknya    beraneka    macam      sehingga    anak dapat bereksplorasi dengan berbagai macam alat permainan.
  5. Pilih    bahan     yang    dapat    memperluas       kesempatan      anak    untuk  menggunakannya dengan bermacam cara. Tingkat kesulitan sebaiknya disesuaikan dengan rentang usia anak.
  6.   Peralatan mainan tidak terlalu rapuh
  7. Pilih bahan yang tidak membedakan jenis kelamin dan tidak meniru-niru. Sebaiknya alat   atau    bahan    yang     dipilih   tidak   dibedakan     berdasarkan jenis  kelamin. Pada    anak   usia  dini   perlu   diperkenalkan     berbagai peran dan hal.
  8. Pilih alat dan bahan yang sesuai dengan filsafat dan nafas pendidikan.  Alat   dan   bahan   ini   sering   disebut   dengan   APE   (Alat   Permainan     Edukatif)   untuk   mendapatkan  dapat  berkonsultasi   dengan   seorang   ahli baik  , ahli  mainan,  pendidik    anak   psikolog    atau   perawat    anak   yang  profesional.
2.3 Dimensi-dimensi pembuatan alat bermain          
Penggolongan kegiatan bermain anak berdasarkan dimensi perkembangan
          Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan anak menurut Gordon dalam Moeslichatoen (2004:37) dibagi dalam 4 golongan yaitu: “ Bermain secara soliter, bermain secara parallel, bermain secara asosiatif, dan bermain secara kooperatif”. Bermain soliter artinya bermain sendiri tanpa teman. Bermain parallel artinya  kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok anak dengan menggunakan alat permainan yang sama, tetapi masing-masing anak bermain sendiri. Bermain Asosiatif artinya anak bermain dalam permainan yang  sama tapi tidak ada peraturan. Sedangkan bermain kooperatif adalah Masing-masing anak memiliki peran tertentu guna mencapai tujuan bermain. Anak-anak dari kelompok usia akan menunjukan tahapan perkembangan bermain sosial yang berbeda-beda.
Penggolongan kegiatan bermain tersebut diatas dilakukan oleh anak-anak sesuai dengan perkembangan anak secara fitrah. Penggolongan tersebut merupakan tahapan-tahapan perkembangan bermain anak. Anak dapat bermain sendiri dengan bimbingan orang tua atau guru, permainan saling meniru dengan teman, bermain bersama dengan permainan yang mengandung unsur kompetisi. Perkembangan kecerdasan personal anak sangat dirasakan manfaatnya.

Dalam proses permainan terdapat unsur aturan-aturan yang harus ditaati, mengerti orang lain, toleransi, kerjasama dan persahabatan. Oleh karena itu melalui permainan anak dapat dirangsang dan dilatih kecerdasan personalnya karena anak dapat berinteraksi sosial dan berempati.
Kegiatan bermain anak berdasarkan kegemaran
Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak, dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
  1. Bermain bebas dan spontan
  2. Bermain Pura-pura, Pola bermain pura-pura merupakan permainan untuk mengembangkan imajinatif anak yang sangat unik, bahkan terkadang kurang difahami oleh orang dewasa. Oleh karena itu sebaiknya orang dewasa disekitarnya dapat lebih faham dan mengembangkan secara maksimal kemampuan anak dalam berimajinasi tersebut. dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk:
    • Minat pada personifikasi (bicara pada boneka atau benda-benda mati)
    • Bermain dengan menggunakan peralatan (minum dengan menggunakan cangkir kosong, dll)
    • Bermain pura-pura dalam situasi tertentu, misalnya situasi dalam keluarga, tempat praktek dokter,dan sebagainya)
  3. Bermain dengan cara membangun dan menyusun. Bermain dalam bentuk seperti ini sangat baik untuk mengembangakan kreativitas anak Setiap anak akan menggunakan imajinasinya membentuk atau membangun sesuatu mengikuti daya khayalnya. Anak akan merasa bangga dan akan menunjukan kreasinya kepada teman atau gurunya. Membangun dan menyusun ini bukan hanya dengan menggunakan alat bantu (APE-Alat Permainan Edukatif)), akan tetapi bentuk gambar, lukisan (finger painting), meronce, dll, merupakan bentuk lain dari kreatitivitas anak dalam hal membentuk dan membangun.
  4. Bertanding atau berolah Raga,  Bermain dengan jenis permainan yang mengandung unsur game atau pertandingan dalam konsep permainan, baik juga dilakukan di sekolah. Permainan yang bermakna pertandingan hendaknya dilakukan dengan aturan sederhana dan jelas, dan usahakan tempo permainan tidak terlalu panjang. Berbagai kegiatan bermain yang megandung unsur pertandingan misalnya:
  5. Belajar mendengar dan menguasai kosa kata
  • Belajar mendengar dan mengapresiasi nada musik
  • Permainan yang menuntut penguasaan anak dalam hal menjodohkan (kartu Kuartet, Domino,dll)
  • Permainan yang menuntut penguasaan koordinasi motorik halus
Bahan dan Alat permainan sesuai dengan  Perkembangan Anak
  1. Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan  motorik anak. Sebaiknya sekolah memiliki tempat atau ruang khusus untuk aktivitas motorik anak. Sebaiknya anak diberikan ruang untuk melatih gerakan otot kasarnya (seluncuran, besi-besi panjatan, ayunan, arena sepeda, dll).  Peralatan bermain yang beroda sebaiknya dapat digunakan oleh anak untuk mengembangkan aspek sosialnya. Anak bisa bermain bersama, bergantian, sehingga interaksi social dapat terjalin diantara mereka.
  2. Bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan kognitif anak. Kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain: Kemampuan mengenal, mengingat, berpikir konvergen, divergen, dan member penilaian. Kegiatan bermain dilakukan dengan cara mengamati dan mendengar.Bahan atau peralatan yang dibutuhkan hendaknya membantu dalm perkembangan anak dalam mengamati dan mendengarkan. Contohnya: Papan pasak kecil,menara gelang, balok ukur, dll
  3. Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan kreativitas anak. Bermain dapat meningkatkan kreativitas anak. Kreativitas bagi anak-anak adalah suatu permainan. Anak-anak mampu membuat apa saja yang mengasyikan untuk menjadi permainan yang mengasyikan dirinya. Anak anak tidak terbelenggu oleh berbagai tabu, gengsi, dan aturan seperti permainan orang dewasa. Kreativitas adalah karakter standar yang dimiliki setiap orang sebagai suatu karunia Allah S W T, dan menjadikan manusia memiliki kelebihan dari mahlik Allah yang lainnya. Kreativitas harus terus distimulus agar dapat berkembang dengan baik. Permaina yang dilakukan bersama anak anak di sekolah sebaiknya perminan yang menantang kreatifitas anak secara maksimal.
  4. Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Bahasa Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Kemampuan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk:
                                                                                 
  • Menguasai bahasa reseptif (mendengar dan memahami apa yang didengar):
    1. Memahami perintah
    2. Menjawab pertanyaan
    3. Mengikuti urutan peristiwa
  • Menguasai bahsa ekspresif yang meliputi:
    1. Menguasai kata-kata baru
    2. Menggunakan pola bicara orang dewasa
  • Berkomunikasi secara verbal dengan orang lain: berbicara sendiri atau berbicara pada orang lain
  • Keasyikan menggunakan bahasa
  • Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Emosi Anak usia Taman Kanak-Kanak.
Hal penting dalam melakukan kegiatan untuk mengembangkan emosi diantaranya harus dapat :
  1. Meningkatkan kemampuan untuk memahami perasaan (dengan cara menyebutkan perasaan, menerima perasaan, mengekspresikan secara tepat, dan memahami perasaan orang lain
  2. Meningkatkan kemampuan berlatih membuat pertimbangan
  3. Meningkatkan kemampuan memahami perubahan
  4. Menyenangi diri sendiri
Bahan dan alat permainan yng dapat digunakan misalnya tanah liat/plastisin yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam bentuk, balok-balok mainan, memelihara hewan peliharaan, bermain drama,dan buku-buku cerita.
  • Bahan dan peralatan bermain bagi Pengembangan Sosial Anak usia
  • Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain harus bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku
  • yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak lain. Moeslichatoen (2004:56) menyatakan:

Peralatan bermain dan permainan yang dilakukan sebaiknya dapat digunakan secara bersama atau permainan  dapat dilakukan bersama agara memperoleh makna, diantaranya adalah:
  1. Setiap perbuatan yang dilakukan dalam interaksi dengan anak lain itu ada dampaknya
  2. Setiap tingkah laku sosial yang positif yang dapat diterima anak lain
  3. Setiap anak akan dapat melkukan keinginannya asal dilaksanakan secara secara wajar
  4. Setiap anak dapat menuntut haknya dengan cara yang dapat diterima anak lain
  5. Setiap anak dapat mengekspresikan perasaannya bila dilaksanakan dengan cara yang dapat diterima anak lain.
Mengamati pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial yang harus dicapai anak merupakan wujud dari pengoptimalan kecerdasan personal, khususnya Kecerdasan Interpersonal. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa konsep permainan merupakan bagian utama dari kehidupan anak. Dengan demikian wajar bila kebijakan Pemerintan Republik Indonesia di Bidang Pendidikan Prasekolah (RA/TK) menetapkan  bermain sebagai alat belajar utama bagi anak. Dalam kebijakan tersebut secara eksplisit dinyatakan sebagai berikut:
“ Bermain adalah sifat yang melekat lansung pada kodrat anak.  Jika ada anak yang tidak mau bermain, itu menunjukan adanya suatu kelainan dalam diri anak tersebut.  Mengabaikan kenyataan ini, apalagi mengingkari, jelas bertentangan dengan kebutuhan perkembangan jiwa anak” (Depdikbud, 1994/1995) dalam Solehuddin (2000:87).
Kostelnik dalam montolalu (2008:105) mengemukakan tentang karakteristik bermain pada anak sebagai berikut:, ”Play is fun, not serious, meaningful, active, voluntary, intrinsically motivated, rule governed”. Selanjutnya Bergen (1988), mengemukakan terdapat empat kategori bermain, yaitu:
  1. Bermain bebas (free play). Dalam bermain bebas, anak memilih apapun yang dimainkannnya, bagaimana bermain, dan di mana mereka bermain. Bermain seperti ini menuntut para pendidik untuk menyediakan lingkungan yang aman, menyediakan berbagai peralatan dan bahan yang mendukung
  2. Bermain terbimbing (guided play). Bermain terbimbing memiliki aturan, lebih sedikit pilihan, dan adanya pengawasan dari orang dewasa.
  3. Bermain yang diarahkan (directed play). Dalam bermain ini kegiatan bermain ditentukan oleh orang dewasa.
  4. Work disguised play. Bermain ini menggambarkan kegiatan diorientasikan pada tugas tertentu, dan orang dewasa berusaha mentransformasikannya kedalam kegiatan bermain terbimbing atau yang diarahkan.
Dalam pengimplentasiannya para pendidik  dapat mengintegrasikan pendekatan belajar melalui konsep permainan  tersebut dalam metode-metode pembelajaran lain yang  digunakan misalnya bercakap-cakap, bercerita, karyawisata, sosiodrama atau bermain peran, proyek, eksperimen, tanya jawab, demonstrasi, dan pemberian tugas


2.4 menciptakan alat bermain dalam gamitan dimensi perkembangan anak
PerkembanganFisik
Motorik kasar :
  • Mulai dapat memanjat dan melompat
  • Mulai kenal irama dan mulai membuat gerakan-gerakan yang berkaitan dengan menari
  • Berlari, namun belum dapat melambat atau membelok
  • Melompat dengan 2 kaki
  • Berdiri dengan satu kaki selama beberapa saat
  • Naik turun 4-6 anak tangga tanpa bantuan dan biasanya tidak jatuh
  • Menaiki dan mendorong benda keras seperti meja, kursi, dan lain-lain
  • Bermain dengan bola (melempar, menangkap dan menggulirkan)
  • Dapat berjalan jinjit, berjingkat-jingkat mengambil objek dari lantai tanpa terjatuh
  • Melempar bola dengan kedua tangan di atas kepala
  • Mengayuh sepeda roda tiga
Motorik halus :                    
  • Melakukan kegiatan dengan satu lengan, seperti mencorat-coret dengan alat tulis
  • Membuka halaman buku berukuran besar satu persatu
  • Memakai dan melepas sepatu berperekat/tanpa tali
  • Memakai dan melepas kaos kaki
  • Memutar pegangan pintu
  • Memutar tutup botol
  • Melepas kancing jepret
  • Mengancingkan/membuka velcro dan retsleting (misalnya pada tas)
  • Melepas celana dan baju sederhana
  • Membangun menara dari 4-8 balok
  • Memegang pensil/krayon besar
  • Mengaduk dengan sendok ke dalam cangkir
  • Menggunakan sendok dan garpu tanpa menumpahkan makanan
  • Menyikat gigi dan menyisir rambut sendiri
  • Memegang gunting dan mulai memotong kertas
  • Menggulung, menguleni, menekan, dan menarik adonan atau tanah liat.
Sosioemosional
  • Memiliki hasrat dan keinginan yang melebihi kemampuannya
  • Ditentukan oleh suasana hatinya dan sulit diduga
  • Membangun kesadaran akan dirinya sendiri (sense of self), kesadaran ini berkembang dan sangat tergantung pada cara figur-figur kelekatan memperlakukannya
  • Dapat mematuhi perintah sederhana
  • Bangga pada diri sendiri karena mulai dapat mengatur/mengendalikan BAB dan BAK
  • Minta untuk tidak ditunggui saat BAB atau BAK
  • Ingin dianggap sebagai individu mandiri dan anggota keluarga dengan perasaan kedirian yang berkembang
  • Apapun yang dilakukannya merupakan pengujian untuk mengukur prestasi, potensi dan kemampuannya
  • Penting baginya untuk berhasil dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan, rutinitas sehari-hari, dan mengurus diri sendiri
  • Mencari banyak interaksi sosial tapi memiliki ketrampilan sosial yang sangat terbatas
  • Merasa sulit untuk berbagi dengan orang lain dan menunjukkan perasaan bersaing
  • Mencoba memaksakan kehendaknya pada orang lain
  • Ingin mandiri (mengerjakan segala sesuatunya sendiri) tapi masih mencari peneguhan orang dewasa
  • Dapat bereaksi tantrum (marah) pada figure otoritas (orang tua, guru, pengasuh) yang harus diabaikan saat itu terjadi
  • Dapat mematuhi perintah yang rumit
  • Minat bermain ditunjukkan dengan cara memperhatikan temannya ketika bermain dan segera bergabung bila tertarik
  • Tampak lebih sosial dan paham tentang artinya berkawan
  • Sikap kemandirian semakin jelas dengan lebih banyak berbuat untuk diri sendiri tanpa memperdulikan apakah temannya memperhatikan atau justru membelakanginya
  • Dapat bekerja sama dengan orang dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana
  • Mampu menanggapi pemberian temannya
  • Mempunyai rasa ingin tahu yang besar di sekeliling mereka dan bergerak dengan bebas
  • Anak mulai belajar kata “jangan” terhadap suatu barang dan juga diajarkan apa yang boleh
  • Belajar memisahkan diri dari orang tua, terutama ibu
  • Aktif bergaul dengan teman dan belajar mengikuti aturan permainan
  • Sudah mulai memperlihatkan rasa cemburu/iri terhadap saudaranya
  • Timbul perasaan-perasaan marah, takut, ingin tahu dan kegembiraan secara berganti-ganti
  • Rasa takut memuncak seperti pada binatang, halilintar, gelap, orang lain dan situasi asing
  • Mampu mempertahankan hak milik
  • Mampu memilih di antara dua alternatif
  • Tanggapan marah mengambil bentuk melonjak-lonjak, berguling-guling, meronta-ronta dan menahan napas
  • Memahami perbedaan jenis kelamin
  • Menunjukkan rasa puas ketika mampu melakukan tugas sederhana untuk orang lain
Kognitif
  • Aktif dan punya rasa ingin tahu yang besar
  • Bersemangat pada kesempatan eksplorasi
  • Kreatif
  • Mulai mengembangkan kemampuan berfantasi dan berimajinasi
  • Fokus pada hal-hal yang tampak
  • Dapat berkonsentrasi untuk mendengarkan bacaan antara 5-10 menit
  • Mulai menambah detil-detil pada suatu konsep umum misal kuda punya ekor panjang
  • Mengetahui satu atau dua sajak anak-anak dan menemukannya dalam buku (anak Indonesia jarang yang diperkenalkan dengan sajak – sajak melalui buku, bisa diganti dengan lagu anak-anak tanpa buku)
  • Tahu lebih banyak warna
  • Mengetahui namanya, juga nama orang-orang di sekitarnya
  • Mengatakan “Tidak”, “Tidak mau” dam “Tidak bisa”
  • Memahami konsep di alam/di luar, menutup/membuka, di depan dan di belakang
  • Menunjuk benda besar dan kecil
  • Meniru perbuatan orang lain
  • Bermain dengan balok mainan sebanyak 6 buah balok,
  • Mengumpulkan atau memasangkan benda yang sejenis
Bahasa
  • Bentuk-bentuk kalimat masih tunggal
  • Dapat mengekspresikan kebutuhannya melalui kata-kata yang berupa kalimat singkat yang merupakan kalimat seru, bertanya atau penjelasan
  • Pertanyaan yang diajukan biasanya berupa pengertian nama-nama benda-benda, letak benda
  • Cepat menguasai banyak bahasa dalam bentuk sederhana
  • Sangat menyukai buku-buku cerita tentang pengalaman sehari-hari
  • Menyukai teks dengan bahasa yang sederhana sehingga ia mulai dapat mengenali dan menghafal kata-kata tersebut
  • Melaksanakan 2 perintah sekaligus
  • Menyebut nama diri dan menggunakan kata ganti aku
  • Dapat menyatakan hak milik/benda kepunyaannya
  • Menambah perbendaharaan kata sebanyak 50 kata
  • Memperlihatkan minat pada kata-kata baru
  • Menceritakan suatu kejadian dengan melihat gambar
  • Mengerti larangan “jangan”, “tidak”
  • Mulai menggunakan kata sandang, kata yang menunjukkan tempat, kata hubung, kata kerja
  • Mempergunakan beberapa frase kata dan mempergunakan kata benda jamak, contoh mobil-mobil
  • Menggunakan kata ganti orang ketika menyebut orang lain, seperti : kamu
  • Pada akhir tahun kedua, beberapa anak mungkin memiliki lebih dari dua ratus kosa kata
  • Meniru modulasi suara dan perilaku orang dewasa
  • Menyatakan kebutuhan dan permintaan
  • Senang menikmati buku cerita sederhana selama 5-10 menit dan meminta dibacakan kembali
Disiplin
  • Disiplin dilakukan berdasarkan pembentukan kebiasaan dari orang lain, terutama ibu
  • Cenderung membantah kehendak orang tua
  • Sulit diatur
  • Dapat mengikuti pola yang tidak menyulitkan bagi orang tua pada saat perilaku menjelajah
  • Dapat BAB dan BAK pada tempatnya
  • Meletakkan sepatu atau tas pada tempatnya
Moral
  • Moralitas berdasarkan dorongan naluriah. Akibat yang menyenangkan dari tingkah lakunya cenderung akan diulangi dan akibat yang tidak menyenangkan dari tingkah lakunya cenderung tidak akan diulanginya
  • Anak mengikuti begitu saja apa yang diinginkan/diharapkan oleh orang dewasa
  • Mulai mengerti konsep benar atau salah
  • Mulai mau berbagi/bermain dengan teman sebayanya walaupun sifat egonya masih ada
  • Anak tidak perduli terhadap mainan yang dirusaknya atau untuk merapikan mainannya
Agama
  • Anak belum mengetahui konsep Tuhan dengan benar
  • Hanya tahu dan mendengar dari cerita-cerita orang tua dan orang lain
  • Dapat dibiasakan berbuat baik dalam kegiatan ibadah dan sudah bisa dilarang jika ia berbuat salah








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

     Dunia anak adalah dunia bermain, anak-anak dirinya disibukkan dengan bermain, dengan bermain itulah anak belajar dan dengan bermain itu pula anak belajar berbagai hal tentang kehidupan sehari-hari. Dengan permainan, kita sebagai orang tua bisa memasukkan unsur-unsur pendidikan didalamnya. Permainan edukatif bagi anak pada garis besarnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu permainan aktif dan bermain pasif. Dalam hal ini orang tua memilki peran yang signifikan dalam memilihkan jenis permainan yang edukatif dan
tidak membahayakan anak-anak mereka ketika bermain.
                                                                         

























DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991.
Psikologi Perkembangan . Jakarta: Rineka Cipta. Bawono, Yudho. 2007. Memilih Mainan Buat Si Kecil.  Majalah Psikologi Plus Vol. II No. 11 Juli 2007. Semarang: PT Niko Sakti. BP-4 Pusat Jakarta. 1994.
Majalah Bulanan Nasehat Perkawinan dan Keluarga , Nomor 260/Tahun XXII, Jakarta





Oval: JAMBU BATU






























































Komentar

  1. Assalamualaikum kak ijin save materinya untuk bahan makalah persentase terimakasih🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS PERMAINAN DAN PERLENGKAPAN AKTIFITAS DI LUAR KELAS

STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK