MAKALAH Jenis permainan dan perlengkapan aktifitas di luar kelas
MAKALAH
Jenis permainan dan perlengkapan aktifitas di luar kelas
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kompetensi dan perkembangan guru PAUD

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh
Bunga Mercy Wely
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah . Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.
Jambi, Februari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Jenis permainan dan perlengkapan aktifitas di luar kelas ........... 4
2.2 Suasana psikologis yang kondusif dalam pembelajaran di luar kelas......... 5
2.3 Memastikan keamanan anak-anak .............................................. 6
2.4 Memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anak................ 7
2.5 Pengawasan................................................................................. 8
2.6 Kenyamanan................................................................................. 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................. 10
3.2 Saran............................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Dunia bermain adalah dunia yang penuh warna dan menyenangkan. Para pelaku permainan akan merasa terhibur dan senang dengan melakukannya. Dari kata “bermain” saja sudah menunjukan bahwa kegiatan ini berdampak memberikan penyegaran pikiran dari berbagai aktifivitas yang menjenuhkan. Bagi anak-anak, bermain memiliki peranan yang sangat penting. Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan, anak-anak akan terlatih secara fisik. Dengan demikian kemampuan kognitif dan sosialnyapun akan berkembang. Singkatnya, permainan dimasa kecil akan mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak kelak. Suhendi (2001:8) yang menjelaskan bahwa Setiap diri manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa terdapat hasrat untuk bermain. Seperti halnya kebutuhan bersosialisasi dan berkelompok, bermain merupakan hasrat yang mendasar pada diri manusia…Anak-anak ingin bermain karena saat itulah mereka mendapatkan berbagai pengalaman lewat bermain melalui eksplorasi alam d sekitarnya. Dari kegiatan tersebut, mereka dapat mengenal alam dan teman sepermainan dalam suasana yang menyenangkan. Sementara orang dewasa membutuhkan permainan sebagai sarana relaksasi dan menghibur diri.
Dari pernyataan diatas, kita mengakui bahwa melalui kegiatan bermain berbagai kompetensi bidang pengembangan dapat diperoleh khusunya untuk anak usia dini Kompetensi tersebut merupakan dasar pengembangan potensi anak kelak dikemudian hari. Pemilihan permainan yang berupa game-game menarik dan kreatif sangat menentukan pencapaian kompetensi-kompetensi diatas. Guru sebagai kreator, pemimpin dan pembimbing permainan di lembaga PAUD/RA/TK harus jeli dan kreatif mengoptimalkan permainan di sekolah agar bidang pengembangan dan kecerdasan anak dapat dioptimalkan.
Diperlukan wawasan yang luas bagi guru untuk terus menggali kemampuannya dalam memilih permainan yang kreatif, inovatif, tepat sasaran, sarat makna dan harus tetap menyenangkan. Inilah yang menjadi masalah besar bagi guru-guru. Kurangnya informasi tambahan pengetahuan baik secara teori maupun praktek, terbatasnya kompetensi yang dimiliki guru sebagai akibat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki guru merupakan penyebab kurangnya kreatifitas guru dalam mengajar dengan menggunakan metoda permainan.
Berdasarkan kenyataan diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji mengenai metoda pembelajaran melalui permainan di lembaga PAUD/RA/TK sebagai usaha untuk memaksimalkan tugas perkembangan anak usia dini. Manfaat yang diperoleh guru setelah memahami tentang metode permainan ini adalah guru dapat menerapkan strategi belajar baik di dalam maupun kegiatan di luar kelas disesuaikan dengan tujuan bidang perkembangan anak. Diharapkan guru dapat lebih semangat untuk menambah ilmu baik secara teori maupun praktek. Usaha tersebut dapat diperoleh dari berbagai kegiatan baik yang berupa seminar, workshop maupun diklat. Kajian ini diberi judul metoda permainan dalam pembelajaran anak usia dini . Istilah Anak Usia Dini pada kajian ini dibatasi pada usia sekolah awal (PAUD/RA/TK) atau usia 4-6 tahun. Adapun rumusan masalahnya adalah Bagaimana metode permainan dalam pembelajaran Anak Usia Dini dilakukan?
Anak perlu menggunakan mainan dan bahan lainnya bermain yang aman dan bebas risiko sebagai mungkin. Mainan harus diperiksa untuk hazards.by menggunakan alat seperti bahaya terse
I. Keseimbangan Area
Keseimbangan antara area tenang dan area aktivitas merupakan hal yang penting dalam mengatur lingkungan bermain diluar kelas .Hal ini dapat diwujudkan dengan menciptakan beberapa area sabagai berikut : Area teduh; Area terbuka untuk sinar matahari; Area melompat; Area memanjat dan bergantungan; Area mendaki; Area menanam / bunga-bungaan; Area bermain pasir.
II. Jalan kecil /Trotoar
Jalan kecil dibuat dari semen atau batu bata. Dijalan kecil ini tidak ada satu barang pun yang ditempatkan karena akan kebebasan anak dan orang dewasa yang menggunakan jalan kecil tersebut.
III. Pemilihan peralatan Bermain
Berbagai jenis peralatan bermain perlu disediakan bagi lingkungan bermain diluar kelas , seperti peralatan untuk memanjat, meluncur, bergantungan, mendorong dan menarik, serta melempar dan menangkap
IV. Tingkat perkembangan dan Kebutuhan Anak
Materi serta kegiatan yang dipilih guru harus sesuai dengan minat, usia dan kemampuan murid. Umumnya kegiatan diluar kelas lebih banyak mengundang bahaya disbanding penyelenggaraan kegiatan dikelas. Frost dan Wortham (1988) memberikan berbagai saran agar terjaganya rasa aman, bermain diluar kelas, yaitu:
- Adanya pagar pengaman (tinggi minimal 4 kaki) melindungi anak dari bahaya.
- Jarak area bermain .misalnya pasir dari alat ayunan ,panjatan dan alat bergerak lain (jungkat –jungkit ) perlu diperhitungkan.
- Alat –alat yang depergunakan hendaknya sesuai dengan tahap usia anak
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja Jenis permainan dan perlengkapan aktifitas di luar kelas?
b. Apa saja suasana psikologis yang kondusif di dalam pembelajaran di luar kelas?
c. Apa saja hal yang dapat memastikan keamanan anak-anak?
d. Bagaimana cara memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anak?
e. Apa saja pengawasan pada anak?
f. Bagaimana cara memberikan kenyamanan pada anak?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan Jenis permainan dan perlengkapan aktifitas di luar kelas
b. Menjelaskan suasana psikologis yang kondusif di dalam pembelajaran di luar kelas
c. Menjelaskan memastikan keamanan anak-anak
d. Menjelaskan memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anak
e. Menjelaskan Apa saja pengawasan pada anak
f. Menjelaskan cara memberikan kenyamanan pada anak
BAB II
PEMBAHASAN
2.2 Jenis Permainan dan Perlengkapan Aktivitas di Luar Kelas
Arena luncur perorangan atau ganda sebaiknya menawarkan kenyamanan di ketinggian yang berbeda. Lantainya terbuat dari bahan-bahan yang menyerap
panas dan cahaya, dari tanah berumput yang dilapisi dengan pasir. Meja piknik yang dinaungi dengan pepohonan besar sangatlah tepat untk
menyantap makanan kecil atau aktivitas lainnya. Antara taman bermain 1 dan 2 terdapat sebuah gudang untuk menyimpan sekop pembersih pasir dan
mainan air, kendaraan beroda, tempat air, kursi dan peralatan lainnya yang terkadang dibutuhkan.
5. Jenis Permainan dan Perlengkapan Aktivitas di Luar Kelas
Pada arena outdoor diharapkan ada tempat yang menantang bagi anak untuk bereksplorasi dan mengembangkan anak secara total. Ada empat tipe
pengalaman bermain di luar ruangan menurut Johson, Christie dan Yawkey 1992 dalam bukunya Rita, Pengelolaan Lingkungan Belajar yaitu:
1. Permainan atau latihan fungsional yang melibatkan praktik dan pengulangan aktivitas motorik kasar
2. Permainan konstruktif yang melibatkan penggunaan materi-materi seperti cat atau pasir untuk diciptakan atau dibentuk
3. Permainan drama atau permainan pura-pura yang sering kali dilaksanakan dalam tempat tertutup;
4. Permainan kelompok atau permainan yang melibatkan lebih dari satu orang anak misalnya: jungkat-jungkit, permainan yang memiliki aturan.
Sedangkan Howard 1992 membahas sembilan area aktivitas di tempat bermain outdoor, yaitu:
1. Area penggalian
2. Area permainan air
3. Area permainan drama
4. Area memanjat
5. Area mendorongmenarik atau mengendarai
6. Area konstruksi
7. Area lari bebas
8.Area berkebun
9. Area diam
Dalam setiap pusat kegiatan dapat dipadukan lebih dari satu tipe permainan. Misalnya pusat permainan penggalian dapat juga menjadi pusat aktivitas
konstruktif dan dramatik.Pelaksanaannya terdapat beberapa perbedaan teknis di area kegiatan outdoor dengan kegiatan indoor. Kegiatan outdoor sering kali
kurang terstruktur dan pembagian kegiatan di setiap area kurang jelas. Misalnya “aktivitas mencuci hal ini melibatkan permainan air, permainan drama,
permainan dorong tarik serta naik kendaraan. Kegiatan di luar ruangan memiliki
peluang dan kebebasan yang lebih banyak untuk bergerak .
Alat-alat bermain di luar kelas yang disajikan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak guna memupuk perkembangan jasmani, intelektual, emosional, dan sosial. Tugas guru adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk memproleh berbagai pengalaman bermain dengan menggunakan berbagai macam alat bermain dan memberi bantuan serta bimbingan pada saat-saat diperlukan.
Penempatan alat-alat bermain di luar kelas hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga memberi kebebasan gerak kepada anak ketika bermain dan juga memprtimbangkan segi keamanan mereka. Adapun alat-alat permainan yang dipergunakan pada tiap-tiap area adalah sebgai berikut:
v Area Memanjat
Peratalan memenjat dapat digunakan oleh anak dari segala tingkat usia. Di bawah tempat memanjat perlu di sediakan bahan-bahan lembut, seperrti busa, matras, pasir. Kegunaannya adalah untuk menghindari kemungkinan anak jatuh dan mendapat cedera.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu anak memanjat adalah:
- Anak tidak dibiarkan memanjat sementara tangannya memegang suatu benda;
- Anak secara bergantian dalam melakukan kegiatan ini;
- Anak tidak dibiarkan memanjat selain pada area yang diperbolehkan untuk memanjat.
Alat-alat yang dapat digunakan di area memanjat, antara lain adalah pohon, tambang/tali, palang bertingkat, jaring laba-laba, dan lain-lain.
v Area Bermain Pasir dan Air
Sejak balita, anak-anak menikmati kegiatan bergairahan bermain dengan pasir dan air. Pada awalnya mereka bereksplorasi tanpa menggunakan alat yang banyak, lama-kelamaan mereka biasa bermain dengan alat yang lebih rumit.
Alat-alat yang dapat digunakan diarea ini, antara lain bak air, bak pasir, sekop, botol, literan, cangkir, mobil-mobilan, binatang, segelas berbagai ukuran, busa, berbagai cetakan plastik beraneka bentuk dan sebagainya.
v Area Melempar dan Menangkap
Untuk kegiatan melempat dam managkap dapat digunakan berbagai jenis bola.boal lainnya perlu disediakan dalam jumlah yang memandai sehingga dapat digunakan anak secara bebas.
Alat-alat yang digunakan di area ini, anatara lain bola kaki, bola basket, bola kasti, kontong biji, dan sebagainya.
v Area Olahraga/Jasmani
Aktivitas di area ini dilakukan dengan membentuk pos-pos kegiatan untuk menghindari antrian anak yang terlalu panjang, sementara peralatan yang dimiliki terbatas.
Alat-alat yang digunakan di area ini, antara lain simpai, papan titian, karet, kardus bekas, tali, lantai, dan bekas, dan sebagainya.
Selain itu masih ada beberapa alat bermain lain yang biasanya juga ada di luar kelas yaitu: ayunan, papan luncur, jungkitan, jembatan goyang, jala panjat, kebun/tanaman, kandang dan binatang peliharaan, kolam ikan, taman lalu-lintas, terowongan yang terbuat dari gorong-gorong, dan sebagainya.
Pengaturan lingkungan belajar dan bermain erat hubungannya dengan penataan ruangan. Perencanaan pengorganisasian kelas juga tidak lepas dari kemampuan yang diingin dicapai serta disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak didik.
Prinsip penataan area bermain outdoor pada anak usia dini adalah :
· Memenuhi aturan keamanan
· Harus sesuai dengan karakteristik alamiah anak
· Harus didasarkan pada kebutuhan anak dan
· Secara estetis harus menyenangkan
2.2 Suasana Psikologis yang kondusif dalam pembelajaran di luar kelas
Psikologi dan Pendidikan.
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak. Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai
Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.
Peran Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar Yang bisa menciptakan lingkungan yang kondusif
Dalam bukunya, Drs. Alex Subor, M,si. mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar.
Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam
- Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
- Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
- Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa ini inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik. Bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
A. Memastikan keamanan anak-anak
Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya/kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan adalah keadaan aman dan tentram.
Risiko keamanan lingkungan dalam maupun luar ruangan bervariasi. Lingkungan pengasuhan anak dalam ruangan dapat mencakup banyak bahaya fisik yang menimbulkan risiko melalui tersedak, kekerasan interpersonal, keracunan, luka bakar, keracunan timbal, dan lain-lain. Beberapa faktor-faktor berikut menunjukkan perlunya kebijakan untuk menutupi keamanan dalam ruangan:
Pencegahan adalah faktor tunggal yang paling penting dalam pengaturan keselamatan. Pengasuh memulai proses ini dengan mendefinisikan batas-batas untuk keselamatan dalam ruangan dan pengaturan lingkungan dengan tingkat perkembangan anak-anak dalam(CDC, 1999). Bahaya keamanan dapat dipecah oleh usia perkembangan dan kerentanan yang terkait dengan tahap tertentu seperti ditunjukkan pada tabel 2-1 Bayi. Bayi muda relatif tak berdaya dan harus di perhatikan untuk melindungi dan mencegah risiko cidera. Biasanya bayi lebih banyak bergerak mengembangkan keterampilan motorik dengan kecepatan tinggi yang membuat mereka lebih rentan untuk cidera.
Peralatan yang digunakan dalam perawatan anak harus kokoh dan bebas dari benda tajam atau sudut, serpihan, paku atau baut menonjol, bagian berkarat longgar, bagian-bagian kecil yang berbahaya, atau cat yang mengandung timbal (APHA & AAP , 2002). Furniture harus tahan lama, mudah dibersihkan, dan di mana ukuran yang tepat. Peralatan harus ditempatkan agar anak memiliki cukup kebebasan gerakan untuk mencegah kecelakaan dan tabrakan dengan peralatan dan satu sama lain. Lihat untuk mencari 2-3 untuk penempatan peralatan yang tidak tepat dan penempatan yang tepat dari peralatan yang sama.
Lingkungan sekolah. Pada umumnya anak akan memasuki lingkungan sekolah pada usia 4 – 5 tahun atau bahkan yang 3 tahun. Lingkungan di sekolah besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Sekolah yang baik akan mampu berperan secara baik dengan memberi kesempatan dan mendorong anak untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya.
Ukuran ruang kelas dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang dilakukan anak, serta jumlah anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Keterbatasan ukuran ruang kelas pada dasarnya diatasi dengan menambah tempat di luar ruangan sebagai suatu upaya untuk memenuhi aktivitas belajar anak.
Kelas perlu dirancang agar menyenangkan. Warna-warni terang dan riang sangat disukai anak. Akan tetapi jangan terlalu “ramai” karena akan mengalihkan perhatian anak. Cahaya matahari didusahakan dapat masuk dengan baik agar kelas tidak gelap. Ventilasipun baik sehingga temperatur terjaga kenyamanannya. Hindari cahaya matahari langsung karena akan menyilaukan dan merusak mata anak, antisipasi dengan memasang kaca buram. Pastikan semua anak dapat melihat ke papan tulis/guru dengan baik. Usahakan kelas sebagai lingkungan belajar. Kemanapun anak menghadap dia akan belajar. Dinding kelas, di atas papan tulis, atau tempat-tempat strategis di kelas dapat di beri huruf abjad, angka, dan lain-lain yang berukuran besar. Papan tulis sebaiknya agak rendah agar anak dapat mencapainya. Sediakan selalu alat tulis di dekat papan tulis untuk merangsang anak menulis. Mereka akan secara otomatis melihat abjad yang ditempel di dinding dan berlatih menulis. Selain itu, berbagai gambar dapat di pasang di dinding. Gambar yang menunjukkan keterampilan hidup perlu disediakan. Misalnya gambar bagaimana menyeberang jalan, memakai kaos kaki, memegang pensi, menali sepatu, mencuci tangan, makan dengan sendok, bersalaman dan berseragam yang benar. Itu merupakan gambar-gambar yang sewaktu-waktu dapat dipakai guru untuk mengajarkan keterampilan hidup yang akn dipakai anak selamanya. Selain itu, kabel-kabel listrik harus terlinding dan tidak berada dalam jangkauan anak.
Papan panjang di kelas perlu disediakan tempat untuk memajang dan menyimpan hasil karya anak, atau ada juga berisi tentang tema atau topik yang sedang diajarkan. Papan panjang sebaiknya diubah setiap pergantian tema. Mintalah anak-anak untuk berkomentar tantang karyanya dan karya temannya.
B. Memberikan kesempatan dan kepercayaan pada Anak
Memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anak sangat lah mempengaruhi tumbuh kembang nya .
ada anak usia 5-6 tahun biasanya sudah mandiri dalam mengerjakan tugasnya yang telah menjadi tanggung jawabnya sendiri untuk dikerjakan sampai selesai, karena ada guru yang selalu berupaya untuk mengembangkan kemandirian agar ia percaya diri anak di sekolah Namun demikian, kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa ada beberapa anak yang masih bergantung pada orang lain bisa dikatan belum mandiri dan belum percaya diri dengan apa yang ia kerjakan. Oleh karena itu, anak yang berada di Taman Kanak-Kanak sudah menjadi tugas, kewajiban dan tanggung jawab guru untuk mendidiknya dengan benar. Agar bisa memberikan kesempatan dan kepercayaan sepenuh nya pada anak agar dapat berkembang sesuai harapan. Dengan demikian, perlu adanya upaya dalam mengembangkan kemandirian anak melalui kegiatan pembelajaran yang memberikan kepercayaan sepenuhnya , upaya guru dalam mengembangkan kemandirian anak di luar kegiatan pembelajar, metode yang digunakan guru, serta upaya guru untuk mengatasi hambatan yang dialaminya dalam mengembangkan kepercayaan anak.
Anak usia dini merupakan periode perkembangan yang memanjang dari bayi hingga 5 sampai 6 tahun yang terjadi dalam banyak aspek perkembangan dan memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Sehingga kelak anak bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan, tidak haya lucu, namun juga cerdas, kreatif, inovatif, bertaqwa dan jenius.Masa usia dini adalah masa yang sangat menentukan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak selanjutnnya karena merupakan masa peka dan masa emas dalam kehidupan anak
memfasilitasi perkembangan rasa percaya diri anak dengan cara menghormatinya, menerima, menenangkan dan memaklumi perilaku anak. Perlu memfasilitasi perkembangan control diri anak. Setiap saat bertanggungjawab atas semua anak yang ada di bawah asuhnya, dan perlu memberikan kebebasan pada anak untuk melakukan berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan keterampilannya.
C. Pengawasan
sama hal nya dengan memastikan keamanan anak pengawasan juga sama penting nya
pengawasan dalam proses belajar mengajar atau dalam proses permainan.
Seperti memberikan pengawasan belajar didalam kelas
Ukuran ruang kelas dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan anak,serta jumlah anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Kelas perlu dirancang agar menyenangkan.
- Warna-warna terang dan riang sangat disukai anak. Akan tetapui jangan terlu “ramai”karena warna mengalihkan perhatian anak. Untuk menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan meningkatkan konsentari belajar siswa,pilihlah warna-warna cat dinding yang tidsak terlalu mencolok.
- Cahaya matahari diusahakan dapat masuk dengan baik agar kelas tidak gelap. Ventilasi pun baik sehinnga tempertur terjaga kenyamanannya.
Hindari cahaya matahari lansung karena akan menyilaukan dan merusak mata anak, antisipasi dengan memasang kaca buram.
- Pastikan semua anak dapat melihat kepapan tulis atau guru dengan baik.
- Usahakan kelas sebagai lingkungan belajar. Kemanapun anak menghadap akan belajar.
- Papan tulis sebaiknya agak rendah agar anak dapat mencapainya,dan sediakan selalu alat tulis didekat papan tulis untuk meransang anak menulis.
- Gambar dapat dipasang didinding. Gambar yang menunjukkan keterampilan hidup perlu disediakan,misalnya gambar bagaimana menyeberang jalan,memkai kaos kaki,mencuci tangan dan sebagainya.
- Kabel-kabel listrik harus terlindung dan tidak berada dalam jangkauan anak-anak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menata ruang kelas adalah:
ü Ukuran ruangan
Hal-hal yang harus diperhatikan dewngan seksama dalam penataan ruangan ini antara lain:
o Ruangan harus mengakomodasi kebutuhan siswa yang beragam.
o Area perpustakaan, belajar matematika, atau bahas ditempatkann di sisi yang lebih tenang dan tidak berdekatan dengan area bermain.
o Area yang berada dekat sumber air sebaiknya berdekatan dengan tempat kegiatan prakarya kerajinan anak atau kegiatan praktik sains.
o Setiap area belajar bisa diberi hiasan hasil karya siswa yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajarinya disekolah
ü Perlengkapan kelas/furniture
Pemilihan furniture juga harus disesuaikan dengan ruangan yang ada,misalnya jangan memakai meja bulat bila kapasitas ruangan terbats tapi pakilah meja segi empat memanjang,sehinnga memberi kesan ruang yang lebih lapang.
Selain itu perhatikan juga meja,kursi ,rak penyimpanan barang siswa dan media penunjang lainnya dalam belajar.untuk memudahkan dapat dilakukanhal berikut:
- Perhatikan akses siswa untuk mengambil peralatan untuk yang dibutuhkan seperti kertas, pensil, gunting, dan lain-lain.
- Pilihlah media pengajaran yang aman dan tidak terbuat dari bahan yang berbahaya.
- Gunakanlah furniture yang bersifat multiguna,misalnya papan tulis yang satu sisinya dapat dimanfaatkan sebagai rak buku dan bagian bawahnyaberfungsi untuk menyimpan peralatan tulis guru.
- Ketika mengatur letak furniture, pastikan semua siswa dapat melihat kepapan tulis dan guru drai tempat mereka duduk.
- Dideretan tempat duduk siswa, berilah jalan atau jarak diantaranya,sehinnga memudahkan guru berpindah apabila memberikan bantuan individubagi siswa yang membutuhkan.
- Persiapkan stok kebutuhan kelas seperti alat-alat tulis ,kebutuhan prakarya.
D. Kenyamanan
Faktor penunjang Kenyamanan Anak Didik Dalam Belajar
Melihat anak-anak didik kurang nyaman di kelas tentu sering kita jumpai. Ciri-ciri anak-anak didik kurang nyaman saat berada di kelas biasanya mereka cenderung enggan mendengarkan penjelasan guru, kurang aktif dalam menjawab pertanyaan guru, lebih suka mengganggu teman atau ngobrol dengan teman saat guru mengajar, serta kebiasaan yang lain. Agar hal ini tidak terjadi, tentu kita perlu tahu faktor-faktor apa sajakah yang menentukan kenyamanan anak didik dalam belajar di kelas?
· Pentingnya “Free Time”
Jam pelajaran yang terlalu padat, pembelajaran yang kurang bervariasi dan banyak faktor lain bisa menyebabkan anak menjadi merasa bosan belajar di kelas. Kita perlu mengambil satu waktu agar anak-anak bisa melakukan hal yang mereka suka (namun tetap dengan suasana tertib). Free time diadakan agar anak-anak bisa merasa “bebas” dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bereksplorasi secara bebas, dan mencegah ketegangan. Free time bisa dilakukan di dalam ruangan (bermain lego, balok, dll) ataupun di luar ruangan (main ayuanan, mobil-mobilan, dll).
· Kestabilan emosi guru
Sebagai pendidik, kita harus bisa menjaga emosi kita sendiri. Jangan sampai permasalahan yang berasal dari rumah, kita bawa ke dalam sekolah. Karena bila kita kurang bisa mengontrol emosi diri, maka akan mempengaruhi kinerja kita di sekolah. Siapkan hati dengan baik sebelum Anda mengajar. Bila perlu berdoa terlebih dahulu. Kita juga perlu menjaga kestabilan emosi dengan datang minimal 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Bagaimana pun anak-anak akan lebih menyukai pendidik yang mengajar dalam suasana hati yang ceria dan tanpa beban.
· Menjalin keharmonisan dengan siswa
Tugas guru di sekolah tidak hanya sebagai pendidik maupun pengajar. Guru yang baik harus bisa menjadi sahabat bagi anak-anak didiknya. Hubungan yang baik antara guru dan siswa layaknya sahabat. Guru harus siap mendengarkan segala keluhan siswa dan membantu mengatasi apa pun permasalahan yang dihadapi anak-anak didiknya. Ia juga sesekali waktu perlu bermain bersama anak-anak didiknya agar bisa bersatu hati dengan anak-anak didiknya. Keharmonisan hubungan antara guru dan anak didik akan mempermudah guru dalam menasihati anak didiknya, terutama saat anak didiknya melakukan suatu kesalahan.
· Kenyaman Kelas
Kelas yang nyaman bisa menunjang kenyamanan suasana belajar mengajar. Kelas yang nyaman adalah kelas yang jauh dari kebisingan, jauh dari polusi, bersih, rapi, serta didekorasi secara menarik. Agar kelas menjadi nyaman, tentu lingkungan sekitar kelas pun perlu mendukung. Misalnya tersedianya taman dan tempat bermain.
· Keakraban antar siswa
Pendidik perlu menekankan bahwa setiap anak didik di dalam kelas adalah sahabat bagi masing-masing anak didik. Jadi tidak ada yang namanya pilih-pilih teman, apalagi membuat semacam gank. Mengubah formasi bangku kelas, mengadakan pembelajaran kelompok, dan mengadakan aktivitas yang dilakukan secara bersama bisa mendukung suasana keakraban antar anak didik.
· Peran orang tua
Pendidik yang baik akan selalu berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua. Dengan adanya komunikasi yang baik antara orangtua dan guru, maka setiap permasalahan yang terjadi pada anak pun akan menjadi cepat terselesaikan dengan baik. Kadang anak-anak menjadi malas belajar hanya karena adanya masalah atau keluhan yang tidak terselesaikan atau tidak mendapatkan respon yang baik dari pihak sekolah.
Ada banyak cara untuk belajar, terutama agar anak-anak didik kita bisa lebih aktif dan suasana kelas menjadi interaktif. Diantaranya adalah dengan media lagu dan dongeng anak. Dongeng dan lagu anak dipercaya bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan di sekolah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
Saran
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.
Daftar Pustaka
Anwar, A. (2007). Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta.
Depdiknas, (2005) Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PADU PLSP.
Masitoh, dkk. (2007) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka :Menciptakan Kelas Yang Berpusat Pada Anak. CRI: Children’s Resources International, Inc.
Komentar
Posting Komentar