MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI “NILAI-NILAI AGAMA PADA ANAK USIA DINI DAN MEMPRAKTEKKAN IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI”
MAKALAH METODE PENGEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI
“NILAI-NILAI AGAMA PADA ANAK USIA DINI DAN MEMPRAKTEKKAN IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI”

DOSEN PEMBIMBING
Dra. Almai Nova,Mpd.i
DI SUSUN OLEH
BUNGA MERCY WELY
NIM : 16862207045
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2018
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam....................... 4
2.2 Tujuan Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam ............................. 5
2.3 Materi Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam .............................. 6
2.4 Metode penanaman nilai-nilai agama Islam................................ 7
2.5 Usaha pengembangan nilai agama melalui cerita........................ 8
2.6 Mengajarkan sholat pada anak usia dini...................................... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................. 10
3.2 Saran............................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut Adams dan Gullota (1983), agama memberikan kerangka moral sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Perkembangan moral (moral development) adalah mencakup perkembangan pikiran, perasaan, dan perilaku menurut aturan atau kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang ketika berinteraksi sengan orang lain (Hurlock)
Penanaman agama pada anak usia dini yang di lakukan pertama kali ada di pengaruhi oleh keluarga , dan lingkungan sekitar karena anak usia dini adalah pribadi yang gampang meniru orang lain.
Permasalahan nya sekarang adalah pengaruh zaman yang membuat anak usia dini malas melakukan ibadah dan lebih suka bermain game atau handphone
Penyelesaian nya kita sebagai orang tua maupun guru harus lah memberikan perhatian yang lebih pada hal ini.
Seperti misal nya mendownload aplikasi agama
Sehingga ketika anak memainkan handphone pun tetap bisa belajar agama
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam?
b. Apa saja Tujuan Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam ?
c. Apa saja Materi Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam ?
d. Apa Metode penanaman nilai-nilai agama Islam?
e. Apa Usaha pengembangan nilai agama melalui cerita?
d. Apa saja Mengajarkan sholat pada anak usia dini?
1.3 Tujuan
a. Menjelaskan Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
b. Menjelaskan Tujuan Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
c. Menjelaskan Materi Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
d. Menjelaskan Metode penanaman nilai-nilai agama Islam
e. Menjelaskan Usaha pengembangan nilai agama melalui cerita
d. Menjelaskan Mengajarkan sholat pada anak usia dini
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
Penanaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya proses, cara, perbuatan menanam, menanami atau menanamkan (Depdiknas KBBI,2008: 1392)
Nilai adalah kadar, mutu, sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (W.J.S Poerwadarminta,1982: 677). Nilai dalam pandangan Zakiyah Daradjat (1984:260) adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku.
Nilai adalah tolak ukur tindakan dan perilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupan (Said Agil Al-Munawar,2005: 4).
Menurut Raths, Harmin dan Simon sebagaimana dikutip oleh Kamrani buseri (2003: 71), mengatakan bahwa nilai merupakan hasil proses pengalaman, yang mana seseorang mempunyai rasa kekaguman, pilihan sendiri, dan mengintegrasikan pilihannya ke dalam pola kehidupannya sehingga nilai akan tumbuh dan berkembang dalam kehidupannya.
Nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, budaya yang dapat menunjang kesatuan bangsa yang harus kita lestarikan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,2011: 356). Nilai tidak terletak pada barang atau peristiwa, tetapi manusia memasukkan nilai kedalamnya jadi barang mengandung nilai, karena subjek yang tahu dan menghargai nilai itu (Khoiron Rosyadi,2004: 11).
Penanaman nilai-nilai agama Islam adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian, budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah yang sesuai kemampuan anak sehingga menjadi motivasi bagi anak untuk bertingkah laku (http://massofa.wordpress.com)
Penanaman nilai-nilai agama Islam yang penulis maksud di sini adalah suatu tindakan atau cara untuk menanamkan pengetahuan yang berharga berupa nilai keimanan, ibadah dan akhlak yang belandaskan pada wahyu Allah SWT dengan tujuan agar anak mampu mengamalkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar dengan kesadaran tanpa paksaan.
2. 2 Tujuan Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
Tujuan artinya sesuatu yang dituju, yaitu yang akan dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha. Suatu kegiatan akan berakhir, bila tujuannya sudah tercapai. Kalau tujuan itu bukan tujuan akhir, kegiatan berikutnya akan langsung dimulai untuk mencapai tujuan selanjutnya dan terus sampai pada tujuan akhir (Zakiah Dardjat dkk,1996: 72).
Begitu pula dengan penanaman nilai-nilai agama Islam juga harus mempunyai tujuan yang merupakan suatu faktor yang harus ada dalam setiap aktifitas. Secara umum pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, penghayatan, dan pengamalan peserta tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlakul mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Muhaimin, 2008: 78).
Dari tujuan tersebut di atas dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pendidikan agama Islam, yaitu:
a. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam
b. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
c. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yangg dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam.
d. Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasikan oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT (Muhaimin, 2008: 78).
Secara khusus tujuan penanaman nilai-nilai agama Islam pada anak usia dini adalah sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar keimanan
b. Meletakkan dasar-dasar kepribadian/budi pekerti yang terpuji
c. Meletakkan kebiasaan beribadah sesuai dengan kemampuan anak.
Memperhatikan tujuan khusus penanaman nilai-nilai agama Islam pada anak guru melihat dan mempertimbangkan aspek usia, aspek fisik dan aspek psikis anak Karena pada usia 4-6 tahun aspek fisik dan psikis anak taman kanak-kanak terlihat seiring dengan perkembangan usia anak (Otib Sabiti Hidayat, 2011: 8.4).
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwasannya tujuan penanaman nilai-nilai agama Islam yaitu memberikan bekal bagi anak berupa ajaran-ajaran Islam sebagai pedoman dalam hidupnya. Dengan harapan potensi yang dimilikinya dapat berkembang dan terbina dengan sempurna sehingga kelak anak akan memilki kualitas fondasi agama yang kokoh.
2. 3 Materi Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam
Muatan materi pembelajaran dalam proses penanaman nilai-nilai agama Islam bagi anak usia dini seyogyanya bersifat sebagai berikut:
a. Aplikatif
Sifat yang pertama ini memiliki makna bahwa yang harus anak dapatkan saat mereka mengikuti proses pembelajaran. Materi pembelajaran bersifat terapan yang berkaitan dengan kegiatan rutin anak sehari-hari yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan aktivitas anak, serta yang dapat dilakukan anak dalam kehidupannya.
b. Enjoyable
Topik kegiatan inti dari pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak salah satunya adalah memberikan kesempatan untuk bermain dan belajar tentang kehidupan yang religius. Oleh karenanya sifat materi yang harus disiapkan atau yang dipilih oleh guru diupayakan mampu membuat suasana yang menyenangkan bagi anak, membuat anak bahagia, dan menjadikan anak mau mengikuti dengan antusias materi yang diajarkan oleh guru.
c. Mudah ditiru
Materi yang disajikan dapat dipraktekkan sesuai dengan kemampuan fisik dan karakteristik lahiriyah anak. Sehingga kualitasdan kuantitas materi pembelajaran nilai-nilai agama Islam harus menjadi salah satu pertimbangan para guru dan orang tua, karena kurangnya pertimbangan terhadap hal tersebut, akan mengakibatkan munculnya pembelajaran yang sia-sia atau kurang bermakna bagi anak itu sendiri (Otib Sabiti Hidayat, 2011: 8.31).
Materi penanaman nilai-nilai agama Islam yang harus diajarkan sedini mungkin pada anak antara lain:
a. Nilai Keimanan
Pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan, rukun Islam dan dasar-dasar syariat semenjak anak sudah mengerti dan memahami. Yang dimaksud dengan dasar-dasar keimanan adalah segala sesuatu yang ditetapkan melalui pemberitaan yang benar akan hakikat keimanan dan perkara ghaib seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab,semua Rasul dan pertanyaan dua malaikat, azab kubur, kebangkitan, hisab, surga dan neraka.
Sedangkan yang dimaksud dengan rukun Islam adalah semua peribadatan anggota dan harta, seperti shalat, puasa, zakat, haji bagi yang melaksanakan. Adapun maksud dari dasar-dasar syariat adalah setiap perkara yang bisa mengantarkan kepada jalan Allah, ajaran-ajaran Islam baik akidah, akhlak, hukum, aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan.
Ruang lingkup materi keimanan meliputi rukun iman yang enam yaitu:
1) Iman kepada Allah yang meliputi empat hal
· Bahwa Allah itu ada tanpa sesuatu lain yang mengadakannya
· Dia adalah Rabb (pemilhara seluruh alam)
· Dialah pemilik alam semesta yang memiliki wewenang mutlak untuk mengaturnya
· Dia adalah satu-satunya Tuhan yang harus diibadahi, tidak ada yang diibadahi selainnya
Hal ini dilakukan dengan mengenalkan pada anak tentang Allah SWT, Tuhan yang maha tunggal dan maha berkuasa atas segala-galanya. Karena anak mulai mengenal Tuhan seperti yang dijelaskan oleh Dzakiyah Daradjat sebagai berikut:
“Anak-anak mulai mengenal Tuhan melalui bahasa.dari kata-kata orang tua yang berada di dalam lingkungan yang pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja. Akan tetapi setelah melihat orang-orang dewasa yang menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap sesuatu yang ghaib yang tidak dapat dilihatnya itu, mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya, lambat laun tanpa disadarinya akan masuklah pemikiran tentang Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya dan menjadi objek pengalaman agamis”(Zakiyah Dardjat,1990: 35-36)
2) Beriman kepada Malaikat
Para malaikat adalah utusan Allah kepada para Rasul, sedangkan Rasul adalah utuan Allah kepada seluruh umat manusia. Adanya malaikat telah disebutkan dalam al-Qur’andan barang siapa mengingkari sesuatu yang telah diberikan oleh al-Qur’an mengenai mereka maka ia telah kafir.
3) Beriman kepada Rasul
Rasul adalah manusia yang memiliki keistimewaan dengan wahyu berupa syariat serta diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya. Dalam al-Qur’an Allah telah menjelaskan bahwa untuk masing-masing umati ada Rasul yang diutus oleh Allah kepada masing-masing umat.
4) Beriman kepada kitab-kitab Allah
Kita beriman kepada kitab-kitab Allah yaitu kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah kepada utusannya.
5) Beriman kepada hari kiamat
Beriman kepada hati kiamat berarti percaya dan yakin akan datang suatu masa berakhirnya semua kehidupan di dunia ini.
6) Beriman kepada qadha dan qadar
Yang dimaksud dengan qadar adalah sunah-sunah (ketentuan, ketetapan,hukum)yang telah digariskan oleh Allah swt atas jagad raya ini, serta merupakan nizham (system) yang dijalankan, dan hukum-hukum alam yang diberlakukan sedangkan qadha yaitu pelaksanaan dari apa yang telah digariskan oleh Allah swt (Syaikh Ali Thanthawi, 2004: 33-133)
b. Nilai Ibadah
Pendidikan ibadah bagi anak-anak lebih baik apabila diberikan lebih mendalam karena materi pendidikan ibadah secra menyeluruh termaktub dalam fiqh Islam. Fiqih Islam tidak hanya membicarakan tentang hukum dan tata cara shalat saja melainkan juga membahas tentang pengamalan dan pola pembiasaan seperti zakat, puasa, haji, tata cara ekonomi Islam, hukum waris, munakahat, tata hukum pidana dan lain segbagainya.
Tata peribadatan diatas hendaknya diperkenalkan sedini mungkin dan sedikitnya dibiasakan dalam diri anak. Hal ini dilakukan agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar taqwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangannya. Ibadah sebagai realisasi dari akidah Islamiah harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh setiap anak (Mansur,2011:116).
Bentuk pengamalan ibadah yang diajarkan untuk anak-anak misalnya ditandai dengan hafal bacaan-bacaan shalat, gerakan-gerakan shalat yang benar, kemudian juga tertanam dalam jiwa anak sikap menghargai dan menikmati bahwasannya shalat merupakan kebutuhan rohani bukan semata-mata hanya menggugurkan kewajiban saja melainkan juga termasuk dari kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim.
c. Nilai Akhlak
Secara etimologis (lughatan) akhlaq (Bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Yunahar Ilyas, 2000: 1).
Menurut Al-Ghazali, akhlak adalah keadaan jiwa yang mantap dan bisa melahirkan tindakan yang mudah, tanpa membutuhkan pemikiran dan perenungan (Hasan Asari, 1999: 86). Ibn Maskawih juga sependapat dengan Al-Ghazali bahwasannya akhlak atau moral merupakan suatu sikap mental yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan (Hasyimah Nasution, 1999: 61). Sedangkan menurut Hamzah Yaqub (1991: 11) dalam bukunya mengungkapkan bahwa, akhlak adalah perangai, tabiat, budi pekerti atau tingkah laku manusia yang sudah merupakan suatu kebiasaan sehingga tidak memerlukan lagi pemikiran untuk menyatakannya. Ditinjau dari segi rangkaian pemikiran, istilah akhlak mencakup dua segi kehidupan manusia yakni segi vertikal dan segi horizontal.
Dari beberapa pendapat mengenai akhlak di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya akhlak merupakan sesuatu perbuatan yang spontan atau refleks, tanpa pemikiran dan juga pertimbangan serta dorongan dari luar,yang bertujuan untuk beribadah baik hubungannya dengan Allah ataupun hubungannya dengan manusia.
2.4 Metode penanaman nilai-nilai agama Islam
1). Pengertian metode penanaman
Metode adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu (Binti Maemunah, 2009: 56). Metode berarti suatu cara kerja sistematik dan umum (Zakiah Daradjat dkk, 2011:1).
Metode dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan (DEPDIKNAS , 2007: 740). Dalam dunia pendidikan, metode menempati kedudukan terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran. Tanpa adanya metode suatu materi pendidikan kurang berjalan secara sempurna. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sehingga bisa dikatakan tidak berhasil proses belajar mengajar jika tidak menggunakan metode.
Penanaman diartikan sebagai cara/proses atau suatu kegiatan atau perbuatan menanamkan sesuatu pada tempat yang semestinya (dalam hal ini mengenai niai-nilai agama Islam yang berupa nilai keimanan, nilai ibadah dan nilai akhlak pada diri seseorang agar terbentuk pribadi muslim yang Islami) (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1998: 890).
Dari definisi diatas dapat diambil pengertian bahwa metode penanaman adalah suatu cara kerja yang terencana, sistematis agar memudahkan dalam suatu penyampaian suatu materi guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam.
2). Macam-macam metode penanaman nilai-nilai agama Islam
Untuk mencapai tujuan dari penanaman nilai-nilai agama Islam yang telah ditentukan, seorang guru dituntut agar cermat memilih dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran pada peserta didik(Armai Arief,2002:109).
Oleh karenanya, pendidik harus mempunyai kekreatifan dalam mendidik peserta didik agar nantinya dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam, mereka tidak merasa kesulitan dan nilai-nilai agama Islam dapat tertanam baik dalam benak peserta didik.
Metode penanaman nilai-nilai agama Islam merupakan cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi keagamaan kepada peserta didik agar nilai-nilai agama Islam melekat dan mendasari setiap perilakunya.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses pendidikan diantaranya yaitu:
a) Menurut Abdullah Nashih Ulwan
Metode yang dapat digunakan dalam proses pendidikan ada lima yaitu :
1). Metode Keteladanan
2). Metode Pembiasaan
3). Metode Nasehat
4). Metode Perhatian/pengawasan
5). Metode Hukuman (2007: 141).
b) Menurut Ahmad Tafsir
1). Memberikan contoh
2). Membiasakan tentunya dengan hal yang baik
3). Menegakkan disipin
4). Memberikan motivasi atau dorongan
5). Memberikan hadiah terutama psikologis
6). Menghukum
7). Menciptakan suasana yang berpengaruh bagi pertumbuhan positif (2008: 64).
c) Menurut Muhamad Rosyid Dimas
1). Keteladanan
2). Memotivasi kebajikan dan wanti-wanti keburukan
3). Nasehat
4). Latih,latih dan latih
5). Mendidik dengan kasus (2008: 141-142).
d) Menurut Abdurrahman An-Nahlawi yang dikutip oleh Khoiron Rosyadi yaitu :
1). Metode Hiwar(percakapan) qur’ani dan nabawi
2). Mendidik dengan kisah-kisah qur’ani dan nabawi
3). Metode amtsal (perumpamaan) qur’ani dan nabawi
4). Mendidik dengan keteladanan
5). Membiasakan diri dan pengalaman
6). Mendidik dengan mengambil ibrah/pelajaran
7). Mau’izhah/peringatan
8). Mendidik dengan targhib/membuat senang atau takut (Khoiron Rosyadi, 2009: 226)
e) Menurut Obit Sabiti Hidayat dalam bukunya yang berjudul “metode pengembangan moral dan nilai-nilai agama”, metode yang digunakan antara lain :
1). Metode bermain peran
2). Karya wisata
3). Bercakap-cakap
4). Demonstrasi
5). Pendekatan Proyek
6). Bercerita
7). Pemberian tugas
8). Keteladanan
9). Bernyanyi (2011:11.7)
Dari pemaparan beberapa metode diatas, metode yang digunakan sangat banyak, namun hanya beberapa saja yang dibahas dalam skripsi ini yaitu:
a. Metode Keteladanan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Keteladanan”dasar katanya teladan yaitu perbuatan atau barang yang dapat ditiru dan dicontoh (Armai Arief,2002:117).
Keteladanan dalam pendidikan adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan anak dari segi akhlak, membentuk mental dan sosialnya. Hal ini dikarenakan pendidik adalah panutan atau idola dalam pandangan anak dan contoh yang baik di mata mereka. Anak akan meniru baik akhlaknya,perkataannya, perbuatannya dan akan senantiasa tertanam dalam diri anak. Oleh karena itu metode keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik dan buruknya kepribadian anak (Abdullah Nashih Ulwan, 2012: 516).
Dalam mendidik anak tanpa adanya keteladanan, pendidikan apapun tidak berguna bagi anak dan nasihat apapun tidak berpengaruh untuknya. Mudah bagi pendidik untuk memberikan satu pelajaran kepada anak, namun sangat sulit bagi anak untuk mengikutinya ketika ia melihat orang yang memberikan pelajaran tersebut tidak mempraktikkan apa yang diajarkan.
Memberikan keteladanan (contoh) merupakan salah satu cara terpenting dalam mendidik anak. Apabila anak telah kehilangan suri tauladannya, maka anak akan merasa kehilangan segala sesuatunya. Memberikan teladan yang baik merupakan metode yang paling membekas pada anak didik. Sehingga diharapkan dengan metode ini anak akan memilki akhlak yang mulia, misalkan saja bersikap ramah dan sopan tehadap orang tua ataupun yang lebih tua darinya, berbuat baik kepada temannya, jujur dan juga mau minta maaf bila berbuat salah.
b. Metode Pembiasaan
Pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk mebiasakan anak didik berfikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.
Pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relative menetap melalui proses pembelajaran yang berilang-ulang (Wening Wulandaru, 2012: 1).
Pembiasaan sangat efektif untuk diterapkan pada masa usia dini, karena memiliki rekaman atau ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari (Armai Arief, 2002:110).
Pembiasaan ini dilakukan dengan jalan memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya makna gerakan-gerakan, perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan dengan memperhatikan taraf kematangan anak. Di dalam pembelajaran anak usia dini di taman kanak-kanakperanan pembiasaan sangat dibutuhkan. Apalagi dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam pada anak, hendaknya semakin banyak diberikan latihan-latihan pembiasaan nilai keagamaan karena anak di usia ini masih suka meniru kegitan-kegiatan yang dilakukan orang yang disekelilingnya baik perbuatan berupa kegiatan ibadah yang dilakukan oleh orang disekitarnya. Diharapkan dengan metode pembiasaan, maka anak akan berproses secara langsung dengan lingkungan dan pendidikan yang diajarkan.
Oleh karena itu sebagai awal pendidikan metode pembiasaan merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam ke dalam jiwa anak.
d. Metode nasehat
Merupakan metode yang efektif dalam membentuk keimanan anak, akhlak, mental dan sosialnya, hal ini dikarenakan nasihat memiliki pengaruh yang besar untuk membuat anak mengerti tentang hakikat sesuatu dan memberinya kesadaran tentang prinsip-prinsip Islam (Abdullah Nashih Ulwan, 2012: 558).
Metode pendidikan dengan nasehat adalah memberikan nasehat atau petuah yang baik kepada anak sehingga anak meniru dan melaksanakan apa yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua.
Metode nasehat akan berjalan baik pada seseorang jika seseorang yang menasehati juga melaksanakan apa yang dinasehatkan yaitu dibarengi dengan teladan atau uswah. Bila tersedia teladan yang baik maka nasehat akan berpengaruh terhadap jiwanya dan akan menjadi suatu yang sangat besar manfaatnya dalam pendidikan rohani (Salman Harun, 1993: 334).
Fungsi metode nasehat adalah untuk menunjukkan kebaikan dan keburukan, karena tidak semua orang bias menangkap nilai kebaikan dan keburukan. Untuk itu diperlukan suatu pengarahan. Oleh karena itu, anak memerlukan nasehat, nasehat yang lembut, halus, tetapi berbekas, yang bisa membuat anak menjadi baik dan tetap berakhlak mulia (Muhammad Quthb, 1993: 335).
e. Metode Perhatian/Pengawasan
Maksud dari pendidikan perhatian adalah senantiasa mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan anak dan mengawasinya dalam membentuk akidah, akhlak, mental, social dan juga terus mengecek keadaannya dalam pendidikan fisik dan intelektualnya.
Metode ini merupakan salah satu asas yang kuat dalam membentuk muslim yang hakiki sebagai dasar untuk membangun fondasi Islam yang kokoh.
f. Metode Hukuman
Metode hukuman merupakan suatu cara yang dapat digunakan oleh guru dalam mendidik anak apabila penggunaan metode-metode yang lain tidak mampu membuat anak berubah menjadi lebih baik. Dalam menghukum anak, tidak hanya menggunakan pukulan saja, akan tetapi bisa menggunakan sesuatu yang bersifat mendidik.
Adapun metode hukuman yang dapat dipakai dalam menghukum anak adalah:
1). Lemah lembut dan kasih saying
2).menjaga tabi’at yang salah dalam menggunakan hukuman
3). Dalam upaya pembenahan, hendaknya dilakukan secara bertahap dari yang paling ringan hingga yang paling berat (Abdullah Nashih Ulwan, 2007:303).
Apabila hukuman yang diberikan kepada anak dengan menggunakan cara-cara diatas, niscaya anak-anak tidak akan merasa tersakiti dengan hukuman tersebut.
Jadi metode hukuman adalah metode terakhir yang digunakan dalam mendidik. Begitu mulianya Islam karena mendahulukan nasehat dan teladan barulah hukuman.
2.5 Usaha pengembangan nilai agama melalui cerita
Pengembangan nilai agama menjadi efektif jika di lakukan melalui cerita-cerita efektif yang di dalam nya terkandung ajaran-ajaran agama . dengan demikian daya fantasi anak berperan dalam menyerap nilainilai agama yang terdapat dalam cerita yang di terima.
Keberminatan anak terhadap agama mulai muncul sejak usia dini, akan tetapi minat terhadap agama ini tidak dapat selalu di tafsirkan bahwa anak mulai menunjukkan sifat rajin beribadah sesuai dengan ritual keagamaan keluarganya. Rasa ingin tahu anak terhadap agama biasanya muncul melalui banyak pertanyaan yang berkaitan dengan agama , seperti “ apakah Than memiliki mata sehingga Dia bisa melihat semua perbuatan yang kita lakukan ?”. atau dimanakah Tuhan bertempat tinggal ? atau pertanyaan lainnya.
a. Tingkat dongeng ( the fairy tale stage)
Tingkat ini di alami oleh anak yang berusia 3-6 tahun. Ciri-ciri perilaku anak pada masa ini masih banyak di pengaruhi oleh daya fantasinya sehingga dalam menyerap materi agama anak juga masih banyak menggunakan daya fantasinya..
b. Tingkat kenyataan ( The Realistic stage)
Tingkat ini dialami anak usia 7-15 tahun . pada masa ini anak sudah dapat menyerap materi agama berdasakan kenyataan – kenyataan yang di jumpai dalam kehidupan sehari –hari. Anak sudah tertarik pada apa yang di lakukan oleh lembaga-lembaga keagamaan . segala bentuk tindak amal keagamaan mereka ikuti dan tertarik untuk mempelajari lebih jauh.
Nilai agama ( spiritualitas)dan moral yaitu sebagai berikut
a. Pendidikan dengan keteladanan guru (pendidikan) dan orangtua merupakan model bagi anak yang patut ditiru dan gugu.pendidikan dengan memberikan contoh teladan kepada anak merupakan salah satu metode penanaman nilai agama yang paling efektif.dengan demikian, pendidikan seharusnya menunjukan prilakuyang jujur, dapat dipercayaserta menjauhkan diri dari perbuatan yang di tentang oleh agama.
b. Pendidikan dengan pembiasaan
Pembiasaan merupakan perwujudan praktek nilai – nilai keagamaan melalui kegiatan rutin sehari-hari. Seperti mengucapkan salam kepada ibu guru ketika sampai disekolah.
Agama yang anut, membiasakan beribadah, memahi prilaku mulia, membedakan baik dan buruk, mengenal ritual dan hari besar agama.,serta toleransi beragama dalam mengembangkan nilai- nilai agama dan moral, guru dapat memberikan stimulasi melalui;
. mengenalkan kepada anak agama yang di anut.
. membiasakan diri beribadah.
. memahami prilaku mulia ( jujur, penolong , sopan , hormat ,dsb.
. mengenalkan anak prilaku baik dan buruk.
. mengenalkan anak pada ritual dan hari besar agama.
. menghormati agama orang lain.
Bila dirumah anak tidak pernah melakukan, doronglah agar si anak terbiasa melakukan,hal ini sehari- hari kepada orangtua. Mungkin ditempat lain berbeda caranya.
Atau pertanyaan lain yang mengusik seperti ‘’apakah tuhan itu ada ‘’
Konsep anak tentang agama sangat realistik karena anak menterjemahkan apa yang didengar dan dilihat sesuai dengan apa yang sudah diketahuinya. Bagi anak, tuhan dapat berwujud,seperti seseorang yang berambut putih, berjanggut putih dan panjang serta berpakaian serba putih.contoh lainnya, anak mungkin mendeskripsikan sesosok malaikat sebagai makhuk yang berjenis kelamin laki – laki atauperempuan yang baik hati.
Berdasarkan tahapan dan karakteristik keagamaan yang dimiliki, maka pengembangan nilai agama sudah seharusnya di setarakan dengan perkembangan tersebut. Ulwan menguraikan lima metode yang dapat dikembangkan untuk mempersiapkan anak , agar anak mencapai kematangan dalam mengerjakan kebaikan . pendidik dapat juga membuka cakrawala berpikir anak tentang makhluk ciptaan Tuhan secara universal. Benda hidup dan benda mati, air sungai yang mengalir, bunga-bunga yang bermekaran dan jutaan ciptaan Tuhan lainnya
Pengembangan nilai-nilai agama pada ana harus di dasarkan pada arakteristi perembangan anak
Sesuai dengan standar tingkat pencapaian perkembangan anak dalam dinas no 58 tahun 2009 , maka dalam mengembangkan kemampuan moral agama anak usia dini guru sebagai fasilitator dan motivator , dapat melakukan beberapa hal berdasarkan penggelompokkan sebagai berikut.
Tahap usia 0-<12 bulan
Pada tahap usia ini, anak di harapkan memiliki kemampuan untuk mendengar sehingga dalam menggembangkan nilai-nilai agama dan moral, guru dapat memberikan stimulasi melalui : pengenalan senandung lagu bernuansa imtak kepada anak.
1. Pengenalan doa-doa singkat yang di baca kan kepada anak
2. Bercerita yang bernuansa keimanan kepada anak
3. Mengenalkan nama tuhan kepada anak ( sesuai agama masing-masing)
4. Memberian belaian Kepada anak untu dapat memberikan rasa sayang dan cinta kasih
5. Mengenalkan ungapan syair/pantun bernuansa keimanan kepada anak mengenalkan kalimat / kata-kata yang baik kepada anak
Tahap usia 12-<24 bulan
Pada tahap usia ini anak, di harapkan anak memiliki kemampuan untuk mendengar , mengikuti, meniru, merawat benda-benda serta mengenal nama tuhan , sehingga dalam menggembangkan nilai-nilai agama dan moral guru dapat memberikan stimulasi melalui :
Pengenalan dan mengajak anak untuk menirukkan senandung lagu .
a. Usia 2-<3 tahun
pada tahap ini , sesuai dengan indikator dalam standar tingkat pencapaian perkembangan anak, stimulasi yang dapat di berikan oleh guru dalam mengembangkan kemampuan moral dan agama anak adalah
1. Meniru gerakkan berdoa/sembayang sesuai dengan agama nya
2. Melafalkan dan meniru doa pendek sesuai dengan agamanya
3. Memahami kapan mengucapkan salam terimakasih maaf dsb
b. Usia 3-4 tahun
pada tahap usia ini, sesuai dengan indikator dalam standar pencapaian perkembangan anak , stimulasi yang dapat di berikan oleh guru adalah.
1. Mulai memahami pengertian perilaku yang berlawanan meskipun belum selalu di lakukan seperti pemahaman perilaku baik buruk. Benar salah. Sopan dan tidak sopan.
2. Mulai memahami arti kasihan dan sayang kepada ciptaan Tuhan.
c. Tahap usia 4-<6 tahun
Pada tahap usia ini, anak di harapkan memiliki kemampuan untuk mengenal tuhan , meniru gerak ibadah, mengucapkan doa, mengenal baik dan buruk serta mengucapkan dan membalas salam, sehingga dalam mengembangkan nilai-nilai agama dan moral, guru dapat memberikan stimulasi melalui :
1. Mengenalkan Tuhan melalui agama yang di anut nya
2. Meniru dan melakukan gerakan ibadah
3. Mengucapkan doa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu
4. Mengenal dan melakukan perilaku baik/sopan dan buruk
5. Membiasakan diri berperilaku baik
6. Mengucapkan dan membalas salam.
d. Usia 5-<6 tahun
pada tahap usia ini, anak di harapkan memiliki kemampuan untuk mengenal agama yang di anut , membiasakan beribadah, memahami perilaku mulia, membedakan perilaku baik dan buruk
2.6 Mengajarkan sholat pada anak usia dini
Sholat adalah tiang agama , fungsi tiang bagi sebuah bangunan adalah menjadi komponen yang sangat penting.
Agar bangunan tersebut tidak mudah roboh.ini menggambarkan betapa shalat memegang peranan pentingdalam membangun kehidupan berkeluarga karena shalat sendiri merupakan amalan yang sangat penting dibanding amalan ibadah lain . dengan begitu, jika dalam sebuah keluarga ada anggota keluarga yang tidak menegakkan shalat , maka kemungkinan besar menegakkan nilai menggambarkan betapa shalat memegang peranan penting dalam membangun kehidupan berkeluarga karena shalat penting dibanding amal ibadah lain. Dengan begitu, jika dalam sebuah keluarga ada anggota keluarga yang tidak menegakkan sholat, maka kemungkin besar penegakkan nilai – nilai agam tersebut akan rapuh. Maka dari itu bahwa seluruh anggota kelurga menegakkan shalat dengan baik, dan sangat diancurkan untuk membiasakan sejak dini pribadi muslim untuk mengerti dan paham tentang shalat. Bahkan akan lebih bagus lagi jika anak sudah diajarkan tat cara shalat sejak masih usia dini.
Berikut ini beberapa kiat mengajarkan shalat kepada anak sejak dini
1. membiasakan kepada anak untuk melibatkan dalam setiap aktivitas shalat kita, minimal dengan mendengarkan suara ajakan shalat, kemudian membawanya untuk duduk disamping dekat kita shalat .
2. ketika anak sudah mulai berdiri, dan bisa berbicara , latih anak untuk berdiri shalat disamping kita, dan ajak untuk mengikuti bacaan dan gerakan shalat kita, kalau dia belum mau mengikuti tidak usah dimarahi, biarkan saja untuk duduk dan melihat sholat kita . secara otomatis dia akan memperhatikan dan merekam tanpa sadar apa yang kita gerakkan .ajak perlahan – lahan anak untuk mengikuti bacaan mulai dari bacaan al – fatihah karena bacaan ini yang minimal harus dibaca oleh seorang yang sedang berlatih shalat , maka target bacaan pertama yang harus diajarkan untuk dihafal anak dlam rangka menegakkan shalat adalah bacaan al- fatihah . baru setelah ituberanjak mengajarkan bacaan – bacaan lainnya.
3. konsisten dan continue, dallam mengenalkan dan mengajarkan tata cara shalat kepada anak usia dini. Melatih gerakan dan bacaaan sholat pada anak usia dini harus berulang- ulang , semakin sering anak mendapatkan stimulasitentang gerakkan shalat dengan bacaan nya semakin sering dibaca dan didengar setiap hari, maka semakin anak – anak untuk hafal bacaan – bacaaan dan gerakkan sholat tersebut. Mengajarkan gerakkan dalam sholat secara bertahap , misal dalam tahap awal, fokus memperhatikan dan memastikan sedekap tangan anak sampai benar, sebelum beranjak ke gerakkan lain . perhatikan hasil latihan ini misalnya untuk jangka waktu 1-3 bulan baru selanjutnya fokus mengajarkan gerakkan lain. Lakukan lah semua latihan degan enjoy dan tidak dipaksakan .
4. memberikan pujian saat anak sudah mau melaksanakan shalat sesuai arahan kita. Misalnya dalam tahapan ini kita mentargetkan anak hafal al- fatihah, maka ketika anak sudah hafal, kita berikan ungkapan bahagia dan kagum kepadanya untuk menambah semangatnya dalam mengerjakan shalat.
5. menjaditeladan bagi anak – anak, ketika melakukan kegiatan sholat disekolah maka guurlah yang menjadi panutan bagi anak – anak didiknya. Akan tetapi ketika dirumah maka orangtualah yang mejadi panutan bagi anak- anaknya. Dalam hal ini, orangtua haruslah menjadi suri teladan yang aik bagi sang anak dengan senantiasa melakuakan hal- hal baik dalam lingkungan keluarga.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut penjelasan yang ada di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap anak
perlu mempunyai sikap yang positif. Terdapat beberapa fase dalam perkembangan
pengetahuannya tentang agama
Saran
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.
Daftar Pustaka
Sadirman, Interaksi dan Motifasi Belajar, (Raja Grafindo Persada), Jakarta 2004,
Trianto, “Profesionalissasi Guru Masa Depan”. Dalam Mimbar Pembangunan Agama, (April,2005),
UU RI NO. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Sinar Grafika 2003), Jakarta 2003
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Guru, (Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta
Usman dkk,.. Menjadi Guru Profesional. (Remaja Rosdakarya), Bandung 2005.
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Usaha Nasional), Surabaya 1994
Komentar
Posting Komentar