BERMAIN DAN PERKEMBANGAN ANAK



MAKALAH BERMAIN DAN PERKEMBANGAN ANAK
Bermain Dan Permainan PAUD














 
Dosen Pembimbing
 Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh 
BUNGA MERCY WELY
 
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini berisikan tentang BERMAIN DAN PERKEMBANGAN ANAK. Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna untuk kita semua. Amin.


Jambi, November 2017
Penulis














DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii                  
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii


BAB I PENDAHULUAN
1.1       Latar belakang........................................................................... 1
1.2       Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3    Tujuan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1       Bermain dan perkembangan kognitif......................................... 4
2.2      Bermain dan perkembangan bahasa........................................... 5
2.3      Bermain dan perkembangan sosial dan emosional..................... 6
2.4      Bermain dan perkembangan kreativitas..................................... 7
2.5    Konsep perkembangan bermain................................................ 8
2.6    Perkembangan bermain sosial.................................................... 9
2.7   Perkembangan bermain objek..................................................... 10
2.8   Perkembangan bermain simbolik................................................ 11
2.9   Perkembangan bermain motorik................................................. 12
2.10 Perkembangan bermain usia sekolah (6-8 tahun)....................... 13
BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan.................................................................................. 14
3.2  Saran............................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 15






BAB I
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Masalah
               Perkembangan kognitif merupakan perubahan kemampuan berfikir atau intelektual. Seperti juga kemampuan fisik. Dalam perkembangan kognitif, berfikir kritis merupakan hal yang penting. Ketika anak tertarik pada obyek tertentu, ketrampilan berfikir mereka akan lebih kompleks. Dilain pihak ketika anak mengalami kebigungan terhadap subyek tertentu, ketrampilan berfikir menjadi lebih itensif.
Perkembanagan kognitif pada anak-anak terjadi melalui urutan yang berbeda. Tahapan ini membantu menerangkan cara anak berfikir, menyimpan informasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut jean piaget terdapat empat tahapan perkembangan kognitif. Tahap pertama disebut periode sensorik motorik (sekitar lahir 0-2 tahun). Pada tahap ini, bayi menggunakan alat indra dan kemampuan motorik untuk memahami dunia sekitarnya. Bayi mengalami perkembangan dari gerak reflek sederhana menuju beberapa langkah skematik yang lebih terorganisasi. Tahap kedua disebut periode praoperasional (sekitar 2-7 tahun) . Anak dapat membuat penyesuaian perseptual dan motorik terhadap obyek dan kejadian yang dipresentasikan dalam bentuk simbol(bayangan mental, kata-kata, isyarat) dalam meningkatkan bentuk organisasi dan logika. Tahap ketiga adalah periode konkrit operasional (sekitar 7-11 tahun). Anak mendapatkan struktur logika tertentu yang membuatnya dapat melaksanakan berbagai macam operasi mntal, yang merupakan tindakan terinternalisasi yang dapat dikeuarkan bila perlu. Anak melakukan operasi ini dalam situasi konkret. Tahap terakhir adalah periode formal operasional (sekitar11-15 tahun). Operasi mental tidak lagi hanya terbatas pada obyek konkret, tetapi juga sudah dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika, yang tidak hanya menjangkau kenyataan melainkan juga kemungkinan, tidak hanya menjangkau kini tetapi masa depan.
Selama ini tampaknya banyak orang menganggap remeh kemampuan pada anak usia dini, kita sering mendengar orang berkata “ah’ dia masih kecil, tidak mengerti apa-apa”. Padahal, apabila bayi dan batita tersebut sudah dapat berbicara dengan jelas. Tentu mereka akan memprotes pandangan ini.
Menurut Papalia (1993) bayi yang normal dan sehat memasuki dunia kemampuan kognitif yang dapat berfungsi dengan baik. Mereka dapat belajar dan dapat menggunakan bahasa. Sejak dilahirkan, manusia memainkan peran aktif dalam mempengaruhi lingkungannya dan bereaksi terhadap lingkungan tersebut.
Khususnya masa usia 3-5 tahun, sebagian besar anak dirasakan seolah-olah sebagai masa yang terpanjang dalam rentang kehidupan. Mengapa demikian? Karena masa kanak-kanak sering dianggap tidak ada akhirnya, mereka sering merasa tidak sabar menunggu saat yang didambakan yakni pengakuan dari orang sekitarnya bahwa mereka bukan anak bayi lagi yang penuh ketergantungan melainkan ingin dianggap sebagai “Orang dewasa cilik”. Umumnya masa kanak-kanak dibagi menjadi masa kanak-kanak awal dan akhir.
Satu hal yang menonjol pada masa ini adalah bentuk kreatifitas bermain sehingga para ahli menamakan periode ini masa kreatif yakni bahwa kreatifitas yang ditujukan anak merupakan bentuk kreatifitas yang orisinal dengan frekuensi tanpa terkendali dibandingkan dengan masa lain dalam kehidupan seorang anak setelah masa ini berlalu.
Media yang digunakan dalam pengembangan kognitif anak TK pada dasarnya merupakan media yang tidak berbahaya dan menyenangkan. Akan tetapi dibanyak pengalaman lapangan, seorang guru jarang memanfaatkan fungsi ini secara optimal. Kondisi ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tugas yang diemban guru sebagai perancang pembelajaran adalah sangat rumit, karena berhadapan dengan dua variabel diluar kontrolnya, yaitu cakupan isi pembelajaran yang telah diterapkan terlebih dahulu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dan anak yang membawa serangkaian kemampuan awal, sikap dan karakteristik perseorangan lainnya kedalam situasi pembelajaran.
Dalam konteks sekolah sumber informasi adalah guru dan penerimanya adalah anak. Guru dapat menggunakan media sebagai perantara dalam menyampaikan pesan kepada anak. Media dapat menolong guru memberikan sebagian informasi kepada anak. Hasil yang positif dalam belajar akan didapat apabila media direncanakan dengan baik dalam penggunaan dikelas.
Suatu kegiatan yang digemari oleh anak TK adalah kegiatan bermain. Walaupun kegiatan ini dapat dilakukan tanpa menggunakan alat permainan, tetapi hampir semua kegiatan bermain justru menggunakan alat permainan. Alat permainan yang digunakan ada yang dibuat khusus untuk kegiatan bermain, seperti boneka, mobil-mobilan dan lain-lain yang di jual di toko-toko mainan. Adapula yang disiapkan sendiri dari bahan-bahan disekitar anak.
Dunia anak adalah dunia bermain, bermain terungkap dalam berbagai bentuk. Bila anak sedang beraktifitas. Sehingga strategi pembelajaran melalui permainan sangat penting untuk mengembangkan aspek kognitif pada anak usia dini. Menurut J. Ronald Lally yang dikutip oleh Ratna Dumilah.
salah satu yang terbaik yang dapat dilakukan seorang pendidik anak usia dini (prasekolah) adalah memfasilitasi serta berpartisipasi dalam permainan. Bermain bagi anak adalah explorasi experiment, imitasi (peniruan) dan penyesuaian (adaptasi).
Guru menggunakan media permainan dalam peningkatan perkembangan kognitif untuk menarik perhatian siswa dan mempermudah siswa dalam kegaiatan disekolah. Sehingga pembelajaran akan lebih menarik dan anak akan lebih memperoleh kesempatan mengembangkan semua potensi yang ada, anak akan menemukan dirinya sendiri, yaitu kekuatan, kelemahan, kemampuan dan minatnya bahkan kebutuhannya sendiri. Sehingga memberi peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya baik fisik, intelektual dan bahasa maupun perilaku (psikososial dan emosional). Anak terbiasa menggunakan seluruh aspek panca inderanya sehingga terlatih dengan baik, dan secara alamiah memotivasi anak untuk mengetahui sesuatu lebih mendalam lagi.




















1.2     Rumusan Masalah
 1. Apa Bermain dan perkembangan kognitif ?
 2. Apa Bermain dan perkembangan bahasa?
 3. Apa Bermain dan perkembangan sosial dan emosional?
 4. Apa Bermain dan perkembangan kreativitas?
 5. Apa Konsep perkembangan bermain?
 6. Apa Perkembangan bermain sosial?
 7. Apa Perkembangan bermain objek?
 8. Apa Perkembangan bermain simbolik?
 9. Apa Perkembangan bermain motorik?
 10. Apa Perkembangan bermain usia sekolah (6-8 tahun)?

1.3 Tujuan
 1. Menjelaskan Bermain dan perkembangan kognitif            ?
 2. Menjelaskan  Bermain dan perkembangan bahasa?
 3. Menjelaskan Bermain dan perkembangan sosial dan emosional?
 4. Menjelaskan Bermain dan perkembangan kreativitas?
 5. Menjelaskan Konsep perkembangan bermain?
 6. Menjelaskan Perkembangan bermain sosial?
 7. Menjelaskan Perkembangan bermain objek?
 8. Menjelaskan Perkembangan bermain simbolik?
 9. Menjelaskan Perkembangan bermain motorik?
 10. Menjelaskan Perkembangan bermain usia sekolah (6-8 tahun)?









BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bermain dan perkembangan kognitif
A. Definisi dan Peristilahan Kognitif
Kognitif adalah suatu proses berfikir yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan , menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa.
Potensi kognitif ditentukan pada saat konsepsi ( pembuahan ) namun terwujud atau tidaknya tergantung dari lingkungan dan kesempatan yang diberikan. Potensi kognitif yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan yang akan menentukan batas perkambangan tingkat intelegensi (batas maksimal). Proses kognitif berhubungan dengan kecerdasan itelegensi.
Pada dasarnya istilah intelektual sama pengertiannya dengan istilah kognitif. Kognitif lebih bersifat pasif atau statis yang merupakan potensi atau daya untk memahami sesuatu. Sedangkan intelegensi lebih bersifat aktif yang merupakan aktualisasi atau perwujudan dari daya atau potensi tersebut yang berupa aktivitas atau perilaku.. .
Teori Dasar Perkembangan Kognitif
Pada rentang usia 3 – 4 sampai 5 – 6 ahun, Anak mulai memasuki masa pra sekolah merupakan masa persiapan memasuki pendidikan formal. Menurut montessori masa ini ditandai dengan masa peka terhadap stimulus yang diterimanya melalui panca indranya.
Setiap anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan berbagai dimensi, perkembangan sikap anak tidaklah sama karena setiap individu mempunyai tempo dan perkembangan yang berbeda.
Apabila anak diberikan stimulus edukatif secara intensif dari lingkungannya maka anak mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik sekalipun bahaya potensial selalu perlu di waspadai.
Pada rentang usia 3 – 5 tahun jika orang tua kurang memberikan respon kurang baik pada usia prasekolah, dikhawatirkan anak tidak akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Pentingnya Pengembangan Kognitif
Pada dasarnya pengembangan kognitif dimaksudkan agar anak mampu melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca indranya, sehingga dengan pengetahuan yang didapatnya anak dapat melangsungkan hidpnya sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan. Proses kognisi meliputi aspek : Persepsi, Ingatan, Fikiran, Simbol, Penalaran dan pemecahan masalah.
kegiatan belajar melalui bermain atau permainan  Seperti:
1. Dengan kemampuan berbicaranya semakin kuat akan banyak mengajukan pertanyaan.
2. Mampu mengenali berbagai bunyi yang pernah didengar.
3. Dapat menyebutkan hari-hari dalam satu minggu.
4. Mampu menggunakan konsep waktu yang sederhana
5. Anak menggunaka benda sebagai simbol untuk manusia dan mampu mengambil peran pura-pura sendiri.
6. Tidak bisa mengerti penalaran abstrak
7. Daya imajinasi tinggi
8. Mampu memasangkan gambar-gambar dari benda yang dikenalnya
9. Mampu membuat gambar berdasarkan ingatannya.
10. Mampu menyebutkan nama benda dan mengenal sifat benda.
11. Mampu mengenal dan menyebutkan perbedaan kasar halus.
12. Mampu menghubungkan konsep bilangan sama tidak sama.
13. Mampu menyusun kembali keping-keping sederhana
14. Dapat membedakan bentuk-bentuk geometri
15. Mampu mencocokan sesuatu
16. Mampu membuat perbandingan benda-benda menurut ukurnnya.
2.2 Bermain dan perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa sebagai salah satu dari kemampuan daar yang harus dimiliki anak, sesuai dengan tahapan usia dan karakteristik perkembangannya. Perkembangan adalah suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai factor yang saling berinteraksi seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti), sintaksis (tata bahasa), semantic (variasi arti), dan pragmatic (penggunaan) bahasa. Dengan bahasa, anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaannya pada orang lain.
·         Pengembangan bahasa lisan
Anak “mempelajari” bahasa dengan berbagai cara, yakni meniru, menyimak, mengekspresikan, dan juga bermain. Melalui bermain, anak dapat belajar menggunakan bahasa secara tepat dan belajar mengkomunikasikannya secara efektif dengan orang lain. Melalui bermain anak juga belajar tentang daya bahasa.
  1. Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Bahasa Anak Usia Taman Kanak-Kanak .
Kemampuan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk:
  1. Menguasai bahasa reseptif (mendengar dan memahami apa yang didengar):
    1. Memahami perintah
    2. Menjawab pertanyaan
    3. Mengikuti urutan peristiwa
  2. Menguasai bahsa ekspresif yang meliputi:
    1. Menguasai kata-kata baru
    1. Menggunakan pola bicara orang dewasa
  1. Berkomunikasi secara verbal dengan orang lain: berbicara sendiri atau berbicara pada orang lain
  1. Keasyikan menggunakan bahasa
Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Emosi Anak usia Taman Kanak-Kanak.
2.3 Bermain dan perkembangan sosial Dan bermain dan perkembangan Emosional
faktor baru mulai mempengaruhi perkembangan kepribadiannya dan sosialnya. Memasuki dunia sekolah anak mulai dihadapkan bukanhanya pandangan orang tua tentang dirinya, tapi juga pandangan guru, teman dan masyarakatterhadap dirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri pada masa pertengahan :
1.Kondisi fisik Kesehatan yang buruk dan cacat fisik yang menghalangi anak untuk bermain denganteman-teman dan menyebabkan anak meresa rendah diri dan terbelakang.
2.Bentuk tubuh Anak yang terlalu kecil atau terlalu gemuk merasa tidak mampu mengikuti teman-temannya, sehingga mengakibatkan perasaan rendah diri.
3.Nama dan julukan Nama dan julukan yang dapat mengakibatkan ejekkan dapat menimbulkan rendah diridan dendam.baik karena bnetuk fisik, maupun karena kelompok minoritas.
4.Status sosial ekonomiAnak yang memiliki rumah bagus dan kondisi keluarga mapan akan merasa lebihtinggi dari pada anak yang berasal dari sosial ekonomi yang rendah dari pada temansebayanya ia akan merasa rendah diri.
5.Lingkungan sekolahPenyesuaian diri yang baik didukung oleh guru yang kompeten dan penuh perngertian, sedangkan guru yang menerapkan disiplin yang dianggap tidak adil olehanak atau yang menentang anak akan memberi pengaruh yang berbeda.
6.Dukungan sosialDukungan atau kurangnya dukungan dari teman-teman memengaruhi kepribadiananak melalui konsep diri yang terbentuk. Yang paling berpengaruh adalah anak yang populer dan tidak.
7.Keberhasilan dan kegagalanKeberhasilan menyelesaikan tugas memberikan rasa percaya diri dan menerima diri.Kegagalan menyebabkan rasa timbulnya perasaan tidak mampu dan rendah diri.

Banyak di antara landasan baru ini dibina oleh hubungan sosial dengan teman sebaya di luar rumah dan hal-hal yang diamati anak dari tontonan televisi atau buku komik. Pola perilaku dalam situasi sosial banyak yang nampak tidak sosial atau bahkan anti sosial, tetapi masing-masing tetap penting bagi proses sosialisasi. Landasan yang diletakkan pada masa kanak-kanak awal akan menentukan cara anak menyesuaikan diri dengan orang lain. Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978 : 239) terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku yang sosial dan pola perilaku yang tidak sosial. Pola perilaku yang termasuk dalam perilaku sosial adalah :
 1. Kerja sama. Sekelompok anak belajar bermain atau bekerja bersama dengan anak lain. Semakin banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama-sama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan bekerja sama.
 2. Persaingan. Persaingan merupakan dorongan bagi anak-anak untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu akan menambah sosialisasi mereka. Jika hal itu diekspresikan dalam pertengkaran dan kesombongan, dapat mengakibatkan timbulnya sosialisasi yang buruk yang dialami anak.
3. Kemurahan hati. Kemurahan hati, terlihat pada kesediaan untuk berbagi sesuatu dengan anak lain meningkat dan sikap mementingkan diri sendiri semakin berkurang setelah anak belajar bahwa kemurahan hati menghasilkan penerimaan sosial.
 4. Hasrat akan penerimaan sosial. Jika hasrat pada diri anak untuk diterima kuat, hal itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal dibandingkan dengan hasrat untuk diterima oleh teman sebaya.
 5. Simpati. Anak kecil tidak mampu berperilaku simpati sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan dukacita. Anak mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih.
 6. Empati. Empati adalah kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini dapat berkembang pada anak jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud pembicaraan orang lain.

Perkembangan Sosial-Emosional anak
A.    Makna Perkembangan Sosial Anak Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa
 Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari
FUNGSI BERMAIN DALAM PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa : Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks. Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semamin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia. Perkembangan sosial pada anak umur kelahiran sampai tiga tahun hingga 6 memiliki kemampuan seperti :
 Ø Bereaksi terhadap Orang lain
 Ø Menikmati pada saat bergaul dengan orang lain
Ø Dapat memelihara keterlibatan dengan anak lain untuk suatu periode yang pendek.
 Ø Mampu berbagi tanpa perlu membujuk
Ø Menunjukkan kemampuan yang sangat kecil untuk menunda kepuasan
Ø Dapat meniru tindakan dari orang lain.
Usia Empat Tahun :
 Ø Menjadi lebih sadar akan diri sendiri
Ø Mengembangkan perasaan rendah hati
Salovey (Goleman, 2000 :57) membagi lima aspek kecerdasan emosi atau kemampuan emosi yaitu :
 1). Kesadaran diri,
2) Mengelola emosi,
3). Memanfaatkan emosi secara produktf/motivasi diri sendiri,
4). Empati
5). Membina hubungan.
Kesadaran diri mengenai perasaan sewaktu perasaan itu terjadi yang merupakan dasar kecerdasan emosional. Mengelola emosi yang berarti menangani persaan agar perasaan dapat diungkapkan dengan tepat yang merupakan kecakapan yang bergantungpada kesadarn diri. Orang yang mampu mengelola akan memiliki kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, melepaskan kemurungan, dan melepaskan ketersinggungan. Mengenai memotivasi diri sendiri merupakan kemampuan menata emosi dengan alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Kemudian empati kemampuan yang juga bergantung pada kesadaran emosional, merupakan « keterampilan bergaul », Orang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain. Membina hubungan, sebagian besar merupakan kemampuan mengelola emosi orang lain. Dalam perkembangan emosional bayi bereaksi terhadap emosi apapun dengan tangisan yang tidak dibedakan untuk mencerminkan berbagai emosi. Dalam beberapa bulan kemudian bayi mulai menjerit dengan penuh kemarahan meskipun tidak mengeluarkan air mata dimana hal ini disebabkan oleh adanya kesakitan fisik. Beberapa peneliti yaitu Thomas dan Chess dalam Catron dan Allen,1999 dikutip oleh Nurani Sujiono (2009:76)) menemukan bahwa anak-anak mempunyai perangai yang baik di waktu muda maka akan memiliki kestabilan emosi dari waktu kewaktu: perangainya memberikan pengaruh terhadap lingkungan. Pada saat anak mencapai usia tiga tahun, mereka sudah menumbuhkan beberapa sikap toleransi untuk mengatasi hal keputus asaan . mereka sudah dapat menunggu untuk jangka waktu singkat. Jika ibu mereka menjelaskan bahwa makan malam akan segera siap, maka mereka sudah dapat bersikap sabar untuk menantikan hal tersebut.
2.4 Bermain dan perkembangan kreativitas
Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Begitu pula dalam suasana bermain aktif, dimana anak memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya, anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan, drama, bermain konstruktif, dan sebagainya. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan pearasaan bebas secara psikologis
Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Anak-anak diterima apa adanya, dihargai keunikannya, dan tidak terlalu cepat di evaluasi, akan merasa aman secara psikologis. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak.
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Ia dapat berekperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik, ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini, karena menambah bumbu dalam permainannya. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas
Bermain memberikan keseempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru, untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda, menemukan hubungan yang baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara.Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif, serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak
Berbagai bentuk bermain yang dapat membantu mengembangkan kreativitas, antara lain
1. Mendongeng
2. Menggambar
3. Bermain alat musik sederhana
4. Bermain dengan lilin atau malam
5. Permainan tulisan tempel
6. Permainan dengan balok
7. Berolahraga
PERKEMBANGAN BERMAIN
2.5 Konsep perkembangan bermain
kegiatan yang spontan pada anak usia dini yang menghubungkannya dengan kegiatan orang dewasa dan lingkungan termasuk di dalamnya imajinasi, penampilan anak dengan menggunakan seluruh perasaan, tangan atau seluruh badan (Carol Seefeldt & Nita Barbour :205). Kegiatan bermain yang dilakukan anak biasanya bersifat spontan penuh imaginatif dan dilakukan dengan segenap perasaannya.

Konsep Dasar Bermain Pada Anak Usia Dini (PAUD)

Dalam bermain, anak membuat pilihan, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan bernegosiasi. Mereka menciptakan peristiwa khayalan, melatih keterampilan fisik, sosial, dan kognitif.
Saat bermain anak dapat mengekspresikan dan melatih emosi dari pengalaman dan kejadian yang mereka temui setiap hari. Melalui main bersama dan mengambil peran berbeda, anak mengembangkan kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan terlibat dalam perilaku pemimpin atau pengikut – perilaku yang akan diperlukannya saat bergaul ketika dewasa.
Dapat disimpulkan bermain menjadi sebuah milieu yang tak tertandingi dalam mendukung perkembangan dan belajar anak (Carol Cople and Sue Bredekamp, 2006: P. 20). Ini juga alasan mengapa anak usia dini memerlukan waktu main lebih besar dalam sepanjang harinya.
TAHAPAN PERKEMBANGAN BERMAIN
1.      Tahapan umum
Agar dapat meberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik baiknya, guru perlu mengetahui bahwa pada umumnya anak akan melalui tingkatan-tingkatan atau tahap-tahap bermain sebagai berikut:
1.1 Tahap manipulatif
Pada umumnya tahap ini dapat dilihat pada anak usia 2 sampai 3 tahun. Dengan alat-alat atau benda yang ia pegang, anak melakukan penyelidikan dengan cara membolak-balik, meraba-raba, bahkan menjatuhkan lalu melempar dan memungut kembali, meraba-raba dan sebagainya. Anak-anak melakukan hal ini untuk mengetahui apa yang dapat diperbuatnya dengan benda-benda atau alat tersebut. kegiatan bermain ini jangan dianggap tidak ada manfaatnya karena selain anak-anak dapat mengenal sifat dan fungsinya, mereka juga memperoleh pengalaman dan keterampilan manipulatif yang diperlukan untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Contoh permainan pada tahap manipulatif ini yaitu: Bermain dengan plastiasin atau tanah lia
1.2 Tahap simbolis
Peralihan dari tahap manipulatif ke tahap simbolis hampir tidak terlihat karena anak yang sudah sampai pada tahap simbolis kadang-kadang kembali lagi melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pada tahap manipulatif. Anak yang berada pada tahap ini kadang-kadang berbicara sendiri tentang apa yang dibuatnya sesuai dengan fantasinya atau hal-hal yang pernah dilihat di lingkungannya. Seperti anak yang bermain dengan balok-balok, terdengar berucap “ini mobil papaku”. Pada umumnya anak yang berada pada tahap simbolis adalah anak yang berumur 3-4 tahun.
1.3 Tahap eksplorasi
Pada tahap ini anak sering bermain sendiri, ia lebih senang tidak berteman dalam bermain. Di bak pasir misalnya, ia melakukan penyelidikan dan penemuan tentang sifat pasir kering, pasir basah serta alat-alat pelengkap yang digunakannya seperti mengoyak pasir, menyendok, dan menuangkan pasir kedalam wadah dan sebagainya. Kegiatan bermain ini dilakukan berulang-ulang dengan hati yang riang, walaupun sepintas tampaknya kegiatan ini tidak berarti tetapi anak yang berada dalam tahap eksplorasi ini mulai memperoleh penemuan-penemuan besar tentang sifat pasir basah, pasir kering dan memupuk keterampilan manipulatif dari kesibukan yang dilakukannya.
1.4 Tahap eksperimen
Setelah anak-anak memperoleh pengalaman baru dalam tahap-tahap sebelumnya, mereka mulai melakukan percobaan-percobaan, yang berarti mereka memasuki tahap eksperimen. Perhatian mulai tertuju pada kegiatan bentuk dan ukuran, menyamakan bentuk dan ukuran, serta memilih bentuk-bentuk tertentu yang akan digunakan dalam membuat kue dari pasir misalnya. Pada tahap ini anak-anak pada umumnya berusia 4-5 tahun.
1.5 Tahap dapat dikenal
Anak usia 5 sampai 6 tahun pada umumnya telah mencapai tahapan bermain yaitu, membangun bentuk-bentuk yang realistis, bentuk-bentuk yang sudah dikenal atau dilihat anak dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk-bentuk yang dibuatnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain yang melihatnya, karena sudah mendekati bentuk-bentuk yang sesungguhnya. Misalnya membentuk beberapa jenis hewan tiruan dengan plastisin lalu mempergunakan berbagai-bagai alat pelengkap, seperti ranting dan daun-daunan, mobil-mobilan untuk membuat hasil karyanya tampak lebih realistis, sering juga anak-anak yang berada pada tahap bermain ini membuat sesuatu bersama, mereka belajar menentukan apa yang akan dibuatnya, merundingkan apa yang akan diperlukan, alat-alat pelengkap yang akan dipakai, membagi tugasnya masing-masing dan bertanggung jawab pula atas berhasilnya kegiatan yang mereka lakukan bersama. Anak usia 5-6 tahun di TK yang duduk di kelompok B diharapkan sudah melewati tahap-tahap bermain dari tahap manipulatif sampai tahap dapat dikenal. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan pada tahap sebelumnya merupakan pembuka jalan untuk sampai pada tahap dapat dikenal.
Jadi, setelah mengenal kelima tahapan bermain anak perlu kita ketahui bahwa setiap anak berkembang sesuai dengan kecepatannya sendiri.
2.6 Perkembangan bermain sosial
Tingkat perkembangan bermain sosial
Unoccupied
Mengamati kegiatan oranglain. Bermain dengan tubuhnya, naik turun tangga, berjalan kesana kemari tanpa tujuan, bila tidak ada hal yang menarik perhatiannya.
Onlookers (berperilaku seperti penonton/pengamat)
Mengamati, bertanya dan berbicara dengan anak lain, tetapi tidak ikut bermain. Berdiri dari kejauhan untuk melihat dan mendengarkan anak-anak lain atau bercakap-cakap.
Bermain Solitaire (bermain sendiri)
Bermain sendiri dan tidak terlibat dengan anak-anak lain. Bermain dengan mainannya sendiri merupakan tujuannya.
Bermain Paralel
Bermain berdampingan atau berdekatan dengan anak lain menggunakan alat, tetapi bermain sendiri. Tidak menggunakan alat-alat bersama, hanya berdampingan dengan anak lain, tidak bermain dengannya.
Bermain Associative
Bermain dengan anak-anak lain dengan jenis permainan yang sama. Terjadi percakapan dan tanya jawab serta saling meminjam alat permainan, tetapi tidak terlibat dalam kerjasama, misalnya dalam kegiatan menggunting bentuk-bentuk gambar.
Bermain Kooperatif(group play)
Bermain bersama melakukan suatu proyek bersama, misalnya dalam permainan drama, permainan konstruktif, membangun dengan balok sebuah kota atau melakukan permainan bersama yang ada unsur kalah menang, bermain di bak pasiratau bermain bola kaki yang sederhana, petak umpat dan lain-lain.
2.7 Perkembangan bermain objek
Istilah bermain berarti objek atau suatu benda yang bisa di permainkan, fungsinya bukan lagi suatu kata kerja melainkan sebagai sebuah objek.
2.8 Perkembangan bermain simbolik
 Pada tahapan symbolic/ make believe play (bermain pura-pura/bermain peran/ dramatic play),
Adalah kegiatan bermain anak yang diwarnai dengan kegiatan bermain khayal dan pura-pura. Anak sudah mulai dan dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau resentasi dari benda lain.
 Permainan Simbolik (± 2-7 tahun)
Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya . Seringkali anak hanya sekedar bertanya, tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.


2.9 Perkembangan bermain Motorik
Stimulasi motorik kasar yang bisa dilakukan dalam perkembangan bermain:
– Bermain kasti, basket, dan bola kaki. Kegiatan ini sangat baik untuk melatih keterampilan menggunakan otot kaki. Anak juga belajar mengenal adanya aturan main, sportivitas, kompetisi dan kerja sama dalam sebuah tim.
– Berenang. Manfaat dari kegiatan ini sangat banyak karena melatih semua unsur motorik kasar anak. Anak pun mendapat pelajaran dan latihan mengenai perbedaan berat jenis maupun keseimbangan tubuh.
– Lompat jauh. Manfaatnya hampir sama dengan bermain bola kaki dan sejenisnya. Pada kegiatan ini anak mendapatkan point plus, yaitu prediksi terhadap jarak.
– Lari maraton. Manfaatnya mirip sekali dengan lompat jauh, hanya caranya yang berbeda.
– Kegiatan outbound. Seperti halnya berenang, maka dengan ber-outbound semua kemampuan motorik kasar dilatih. Malahan anak bisa mendapatkan hal yang lain, seperti keberanian, survival, dan kedekatan dengan Maha Pencipta serta kesadaran pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan.
Stimulasi motorik halus yang di lakukan dalam perkembangan bermain:
– Menggambar, melukis dengan berbagai media.
– Membuat kerajinan dari tanah liat.
– Membuat seni kerajinan tangan, misalnya membuat boneka dari kain perca.
– Bermain alat musik seperti gitar, biola, piano dan sebagainya.
Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun)
Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutankenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.
2.10 Perkembangan bermain usia sekolah (6-8 tahun)
Perkembangan merupakan sesuatu yang kompleks dan berbagai faktor yangmempengaruhinya pun tidak dapat diukur dengan akurat. Beberapa pengaruh atas perkembangan berakar dari hareditas, yaitu kualitas genetik yang diwarisi dari orang tua biologis saat pembuahan. Pengaruh lain berasal dari lingkungan dalam dan luar.
Turunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.Anak lahir ke dunia ini dengan membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari keduaibu bapak atau nenek dan kakek. Hal ini sesuai dengan
Hukum Mendel
yang dicetuskan oleh Gregor Mendel, warisan tersebut yang terpenting, antara lain, bentuk tubuh, sifat-sifat, bakat, penyakit, dan cacat tubuh.Bentuk tubuh dan warna kulit Salah satu warisan yang dibawa anak sejak lahir adalahmengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Ada anak yang kurus badannya mengikuti ayahnya,wajahnya seperti ibunya. Rambut keriting seperti ayahnya. Walaupun makan sebanyak apapun, badannya tetap kurus. Demikian juga dengan rambutnya. Walaupun berusaha untuk meluruskannya, pada akhirnya kembali ke bentuk semula.Sifat-sifat yang dimiliki seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu,ayah atau nenek dan kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia antara lain, penyabar, pemarah, kikir, pemboros, hemat, dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut dibawa anak sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui selagi anak masih kecil dan ada pula yangdiketahui sesudah ia besar. Misalnya, sifat keras atau pelawan sudah dapat dilihat sewaktumasih berumur kurang dari satu tahun. Sedangkan sifat pemarah baru dapat diketahui setelahanak lancar berbicara, yaitu sekitar lima tahun.Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuanyang dimiliki seseorang. Misalnya, ada orang yang berbkat di bidang seni, bahasa,matematika, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga orang yang tidak memiliki bakat, artinyadalam semua bidang ilmu dan keterampilan dia lemah. Ada pula orang yang memiliki bakat
 Perkembangan anak usia 6-8 tahun :
  • membaca seperti mesin
  • mengulangi tiga angka mengurut ke belakang
  • membaca waktu untuk seperempat jam
  • anak wanita bermain dengan wanita
  • anak laki-laki bermain dengan laki-laki
  • cemas terhadap kegagalan
  • kadang malu atau sedih
  • peningkatan minat pada bidang spiritual



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Bermain merupakan salah satu hak asasi manusia, begitu juga pada anak usia dini. Ada banyak manfaat yang didaptkan dari kegiatan bermain, salah satunya adalah pengemangan kreativitas. Bermain dalam bentuk apapun, baik aktif maupun pasif, baik dengan alat maupun tanpa alat dapat menunjang ktreativitas anak dalam berbagai taraf. Disini peran orang tua dan guru pembimbing untuk dapat menjadi fasilitator pengembangan kreativitas anak, dengan memfasilitasi anak agar dapat bermain dengan cara dan alat yang tepat sesuai dengan bakat, minat, perkembangan, dan kebutuhan anak.













DAFTAR PUSTAKA
Csikszentmihalyi, M., 1996, Creativity. Harper Collins Publisher, Inc : New York
Hurlock, E. B., 1980. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), edisi kelima. Penerbit Erlangga : Jakarta
Hurlock, E. B., 1999. Perkembangan Anak Jilid 1(Edisi 6). Penerbit Erlangga : Jakarta
Mönks, F.J, Knoers, A.M.P dan Haditono, S.R. 2004. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Munandar, S.C.U.,1995. Pengembangan Kreativitaas Anak Berbakat. Rineka Cipta kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta
Mulyadi, S., 2004. Bermain dan Kreativitas(Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain). Papas Sinar Sinanti : Jakarta
Nursisto. 1999.Kiat Menggali Kreativitas. Mitra Gama Media : Yogyakarta

Komentar

  1. di bagian A tertulis paragraf seperti ini :

    " Dalam konteks sekolah sumber informasi adalah guru dan penerimanya adalah anak. Guru dapat menggunakan media sebagai perantara dalam menyampaikan pesan kepada anak. Media dapat menolong guru memberikan sebagian informasi kepada anak. Hasil yang positif dalam belajar akan didapat apabila media direncanakan dengan baik dalam penggunaan dikelas.
    Suatu kegiatan yang digemari oleh anak TK adalah kegiatan bermain. Walaupun kegiatan ini dapat dilakukan tanpa menggunakan alat permainan, tetapi hampir semua kegiatan bermain justru menggunakan alat permainan. Alat permainan yang digunakan ada yang dibuat khusus untuk kegiatan bermain, seperti boneka, mobil-mobilan dan lain-lain yang di jual di toko-toko mainan. Adapula yang disiapkan sendiri dari bahan-bahan disekitar anak."

    Apakah mainan anak balok susun , juga termasuk mainan untuk anak TK ? apakah mainan , sebagai media mengajar , harus ada di setiap TK atau PAUD ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS PERMAINAN DAN PERLENGKAPAN AKTIFITAS DI LUAR KELAS

STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN