JENIS-JENIS ALAT PERMAINAN
MAKALAH
JENIS-JENIS ALAT PERMAINAN
Pengembangan
Kreatifitas Anak Usia Dini

Dosen Pembimbing
Dra. Hotma Sumeriwati,M.Pdi
Di Susun Oleh
Bunga Mercy Wely
Nim :1686207045
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
AL-AZHAR DINIYYAH JAMBI 2017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan untuk junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah serta taufik-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah
ini.Makalah ini berisikan tentang bermain pasif dan jenis-jenis alat permainan.
Kami menyadari makalah yang dibuat ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu,
apabila ada kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, kami
sangat berterima kasih. Demikian makalah ini kami susun. Semoga dapat berguna
untuk kita semua. Amin.
Jambi, Desember 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang........................................................................... 1
1.2
Rumusan masalah...................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................ 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Jenis-jenis alat permainan .......................................................... 7
2.2 Permainan berdasarkan kemampuan keterampilan
yang di
kembangkan anak....................................................................... 8
2.3 Bahan dan alat permainan sesuai dengan
perkembangan anak.. 9
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan.................................................................................. 10
3.2 Saran............................................................................................ 11
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang masalah
Dunia bermain adalah dunia yang penuh
warna dan menyenangkan. Para pelaku permainan akan merasa terhibur dan senang
dengan melakukannya. Dari kata “bermain” saja sudah menunjukan bahwa kegiatan
ini berdampak memberikan penyegaran pikiran dari berbagai aktifivitas yang
menjenuhkan. Bagi anak-anak, bermain memiliki peranan yang sangat penting.
Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi
sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan, anak-anak akan
terlatih secara fisik. Dengan demikian kemampuan kognitif dan sosialnyapun akan
berkembang. Singkatnya, permainan dimasa kecil akan mempengaruhi pertumbuhan
fisik dan perkembangan jiwa anak kelak. Suhendi (2001:8) yang menjelaskan
bahwa Setiap diri manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa terdapat
hasrat untuk bermain. Seperti halnya kebutuhan bersosialisasi dan berkelompok,
bermain merupakan hasrat yang mendasar pada diri manusia…Anak-anak ingin
bermain karena saat itulah mereka mendapatkan berbagai pengalaman lewat bermain
melalui eksplorasi alam d sekitarnya. Dari kegiatan tersebut, mereka dapat
mengenal alam dan teman sepermainan dalam suasana yang menyenangkan. Sementara
orang dewasa membutuhkan permainan sebagai sarana relaksasi dan menghibur diri.
Dari pernyataan diatas, kita mengakui bahwa melalui
kegiatan bermain berbagai kompetensi bidang pengembangan dapat diperoleh
khusunya untuk anak usia dini Kompetensi tersebut merupakan dasar pengembangan
potensi anak kelak dikemudian hari. Pemilihan permainan yang berupa game-game
menarik dan kreatif sangat menentukan pencapaian kompetensi-kompetensi diatas.
Guru sebagai kreator, pemimpin dan pembimbing permainan di lembaga PAUD/RA/TK
harus jeli dan kreatif mengoptimalkan permainan di sekolah agar bidang
pengembangan dan kecerdasan anak dapat dioptimalkan.
Diperlukan wawasan yang luas bagi guru untuk terus
menggali kemampuannya dalam memilih permainan yang kreatif, inovatif, tepat
sasaran, sarat makna dan harus tetap menyenangkan. Inilah yang menjadi
masalah besar bagi guru-guru. Kurangnya informasi tambahan pengetahuan baik
secara teori maupun praktek, terbatasnya kompetensi yang dimiliki guru sebagai
akibat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki guru merupakan penyebab
kurangnya kreatifitas guru dalam mengajar dengan menggunakan metoda
permainan.
Berdasarkan kenyataan diatas, maka penulis tertarik
untuk mengkaji mengenai metoda pembelajaran melalui permainan di lembaga
PAUD/RA/TK sebagai usaha untuk memaksimalkan tugas perkembangan anak usia dini.
Manfaat yang diperoleh guru setelah memahami tentang metode permainan ini
adalah guru dapat menerapkan strategi belajar baik di dalam maupun kegiatan di
luar kelas disesuaikan dengan tujuan bidang perkembangan anak. Diharapkan guru
dapat lebih semangat untuk menambah ilmu baik secara teori maupun praktek.
Usaha tersebut dapat diperoleh dari berbagai kegiatan baik yang berupa seminar,
workshop maupun diklat. Kajian ini diberi judul metoda permainan dalam
pembelajaran anak usia dini . Istilah Anak Usia Dini pada kajian ini dibatasi
pada usia sekolah awal (PAUD/RA/TK) atau usia 4-6 tahun. Adapun rumusan
masalahnya adalah Bagaimana metode permainan dalam pembelajaran
Anak Usia Dini dilakukan?
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja
jenis-jenis alat permainan?
b.
Apa saja permainan berdasarkan kemampuan keterampilan yang di kembangkan
anak?
c.
Apa saja bahan dan alat permainan sesuai dengan perkembangan anak?
1.3 Tujuan
a.
Menjelaskan jenis-jenis alat permainan
b.
Menjelaskan permainan berdasarkan kemampuan keterampilan yang di kembangkan
anak
c.
Menjelaskan bahan dan alat permainan sesuai dengan perkembangan anak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis-jenis alat permainan
A. BERMAIN PASIR
Lumpur dan
tanah sebenarnya adalah alat permainan yang paling dekat dengan anak. mereka
sangat senang dan bahagia apabila bereksplorasi dengan tanah dan lumpur
(tentunya yang bersih). Pasir memiliki tekstur yang lain dengan lumpur atau
tanah. Pasir juga digemari anak hingga orang dewasa karena pasir sangat
bernilai tinggi dalam pendidikan. Kebanyakan bak pasir dibuat dari bahan kayu
yang dilapisi seng dengan ukuran 100 x 90 x 30 cm atau 2 x 1 x 0,35 m.
Bentuk dan ukuran dapat saja diciptakan sendiri sesuai dengan tempat, kemampuan
dan kebutuhan sekolah. Bila hari hujan, anak masih dapat bermain pasir. Apabila
pasir tidak digunakan, bak pasir harus ditutup karena kotoran kucing atau
binatang lain akan membahayakan kesehatan anak. Demikian pula
peralatan-peralatan yang dipakai senantiasa diganti atau ditambah agar anak tidak
merasa bosan dan mendapatkan berbagai pengalaman baru.
B. BERMAIN AIR
Secara fisik, bak air dapat sangat sederhana. Ambil
saja ember berukuran yang paling besar atau buatlah bak yang berukuran sama
dengan bak pasir. Bak atau ember sebaiknya ditempatkan di atas rumput luar
kelas atau di dalam kelas asal lantainya diberi alas plastic agar mudah
dibersihkan. Di kota dijual kolam renang kecil terbuat dari plastic yang dapat
digunakan untuk mengenalkan air dan kegiatan renang agar anak tidak takut
dengan air.
C. BERMAIN BALOK
Balok mempunyai tempat di hati anak serta menjadi
pilihan favorit sepanjang tahun, bahkan sampai tahun ajaran berakhir. ketika
bermain balok banyak temuan-temuan terjadi. Demikian pula pemecahan masalah
terjadi secara alamiah. Bentuk konstruksi mereka dari yang sederhana sampai
yang rumit dapat menunjukkan adanya peningkatan perkembangan berpikir mereka.
Daya penalaran anak akan bekerja aktif. Konsep pengetahuan matematika akan
mereka temukan sendiri, seperti nama bentuk, ukuran, warna, pengertian
sama/tidak sama, seimbang. Sosialisasi juga terjadi pada saat anak membagi
tugas, menentukan pilihan, berbagi pengalaman, tenggang rasa dan berkomunikasi
dengan baik. Pengetahuan sosial uga dapat timbul, misalnya membuat kota, gedung-gedung,
kantor, rumah, stasiun. Begitu juga kemampuan berbahasanya timbul saat anak
menyebutkan nama hasil kreasinya.
D. BERMAIN ALAT
MANIPULATIF
Alat
manipulative adalah alat permainan yang kecil dan dapat diletkkan di atas meja
sehingga membuat anak terampil bekerja dan membayangkan daya pikirnya.
Contohnya permainan puzzle, roncean, biji-bijian, manic-manik dan lain
sebagainya.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan ketika bermain dengan alat manipulatif adalah sebagai
berikut :
1. Pemilihan
alat permainan yang memungkinkan berkembangnya berbagai keterampilan,
kemampuan, dan bersifat menantang.
2. Bermain yang
tahan lama dan aman.
3. Penjagaan
alat permainan yang bervariasi dan selalu siap dimainkan.
4. Tempat yang
digunakan untuk bermain di dalam atau diluar ruangan, di lantai atau di meja,
dan bebas dari lalu-lalang.
5. Pemilihan
bahan sesuai dengan minat anak.
6. Jumlah
permainan dalam satuan waktu. Tidak terlalu lama dan mainan diganti secara
teratur.
7. Permainan sederhana
dan cukup menantang.
8.
Permainan
yang dapat dikendalikan dan dikoreksi sendiri.
E. SUDUT RUMAH TANGGA
Sudut rumah
tangga yang berbentuk sederhana sampai dengan yang bersifat kompleks dan semua
serba sungguh-sungguh dalah cirri khas dari suatu Taman Kanak-Kanak. Biasanya
benda-benda yang mengisi sudut rumah tangga adalah alat dapur, kompor, lemari
dapur, alat makan, alat minum, alat masak, kursi tamu dan lain-lain.
F. BERMAIN DI PERPUSTAKAAN
Di mana pun
TK itu berada sebaiknya dilengkapi dengan perpustakaan di dalamnya terdapat
beberapa kumpulan buku anak, buku referensi, ensiklopedi atau gambar-gambar
(poster). Di tempat ini anak dapat mebaca atau, mendengarkan cerita yang di
bacakan oleh guru atau temannya.
G. BERMAIN DI LUAR
Halaman sekolah
adalah tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka dapat bersosilisasi
serta mengembangkan fisiknya baik dengan berlari maupun dengan memainkan alat
lain yang disediakan seperti: ayunan, papan jungkit, papan luncur, palang
bertingkat, jembatan goyang, jarring laba-laba dan lail-lain. Ketika anak
bermain di luar, pengawasan oleh guru sangat diperlukan. Dibutuhkan kerja sama
guru dalam mengawasi anak-anak saat bermain yang juga di sesuaikan dengan
luasnya area bermain.
Alat
permainan yang baik adalah yang sesuai dengan usia perkembangan anak dan
membantu perkembangan motorik kasar dan halus, koordinasi mata-tangan,
emosional, sosial, daya imajinasi, serta kemampuan kognitif dan bahasa si buah
hati. Berikut ini adalah jenis alat permainan berdasarkan fungsinya dalam
perkembangan batita seperti ditulis di dalam buku Buku Pintar Mengasuh
Batita.
Alat permainan
yang membantu perkembangan motorik kasar
Rangsang pertumbuhan motoriknya dengan berlari, memanjat, lompat, melempar
bola, menari, ataupun naik sepeda. Berikan dukungan dan kesempatan anak untuk
bermain, baik di dalam maupun di luar rumah, karena semua kegiatan ini membantu
meningkatkan kemampuan motorik kasarnya.
Alat permainan yang sesuai untuk membantu perkembangan motorik anak adalah
mainan yang dapat ditarik dan didorong, mobil-mobilan/motor-motoran, sepeda,
perosotan, ayunan, dan bola.
Alat permainan
yang membantu perkembangan motorik halus dan koordinasi mata-tangan
Banyak alat permainan yang dapat melatih anak untuk meningkatkan
kemampuan motorik halus dan koordinasi mata-tangan seperti puzzle
(teka-teki gambar), balok konstruksi, menyusun gelas, memasukkan dan melepas
sesuai bentuk (shape shorter), mengurutkan bentuk, membentuk
lilin/malam, bermain dengan pensil/krayon atau mewarnai, permainan papan
aktivitas, mainan alat musik seperti keyboard, dll.
Alat permainan yang membantuk perkembangan sosial dan
emosional
Semua mainan yang dapat dimainkan bersama/dibagi dengan teman. Sesuai
usianya sekarang ini anak biasanya senang bermain sendiri atau bermain di dekat
anak lain walaupun tetap bermain sendiri-sendiri. anda dapat melihat anak akan
bermain mengikuti pola anak lain, sehingga mereka seolah-olah memainkan satu
permainan padahal sedang bermain sendiri-sendiri.
Ajarkan anak untuk berbagi mainan dengan anak lain sehingga kemampuan
sosialnya terasah dan dia juga belajar menunggu giliran bermain.
2.2 Permainan berdasarkan kemampuan keterampilan yang
di kembangkan anak
1. Bermain untuk Pengembangan Kemampuan Kognitif
1. Bermain untuk Pengembangan Kemampuan Kognitif
Permainan
ini berfungsi untuk mengingatkan kemampuan kognitif anak dari kognitif yang sederhana kepada
kognitif yang lebih kompleks. Contoh-contoh
permainanya,antara lain berikut ini.
a. Bermain klasifikasi beragam benda
b. Memperkirakan jumlah benda
c. Mencoba beragam rasa
d. Mengamati berbagai benda-benda alam sekitar,seperti
daun,batu karang atau pohon.
2. Bermain sebagai Latihan
Koordinasi Gerakan Motorik (Fisik)
Jenis
permainan ini menitikberatkan pada keterampilan dalam mengkoordinasikan gerak motorik, baik motorik kasar maupun
halus. Hal ini dapat dilihat dari
aktivitas anak yang melakukan gerakan motorik secara
berulang-ulang, seperti berlari, memanjat, naik sepeda, lompat, englek, berguling, merangkak, merayap,
dan lain-lain. Secara bersama juga
mengembangkan aspek kognitif anak, seperti berikut.
a. Memperkirakan tingginya suatu pohon dengan kemampuanya
untuk memanjat pohon tersebut.
b. Memperkirakan kemampuan keseimbangan tubuhnya saat
mengendarai sepeda agar tidah terjatuh
dan lain-lain.
3. Bermain Konstruktif untuk
Pengembangan Kemampuan Kognitif dan Keterampilan
Motorik Halus
Pada
permainan ini anak dapat menyusun berbagai macam bentuk dan ukuran balok, lego, rakitan menjadi suatu
bangunan, seperti rumah, menara,
dan hotel. Disamping itu, anak juga dapat melatih motorik halus. Hal ini terlihat pada anak
yang menggunakan jari-jarinya untuk menyusun
balok-balok agar tidak jatuh. Pada waktu yang bersamaan anak juga mengoperasikan kemampuan kognitifnya
untuk memikirkan agar baloknya
tidak jatuh, dan memilih balok-balok yang tepat untuk dijadikan bangunan, seperti yang diinginkanya.
4. Bermain Drama sebagai
Latihan Pengembangan Bahasa
Bermain
drama merupakan refleksi dan pengembangan kognitif anak yang akan ditekankan dalam imajinasi atau
fantasi. Aktivitas ini sangat berguna pengembangan
kreativitas anak. Aktivitas ini berfungsi untuk meningkatkan pembendaharaan kosakata spontasitas dan
kelancaran anak berbicara dan
keterampilan anak berbicara dan keterampilan anak berkomunikasi. Walaupun permainan ini lebih ditekankan pada pengembangan berbahasa, akan tetapi
secara bersamaan juga mengembangkan seluruh aspek yaitu kognitif, fisik, sosial
emosional, seni moral dan nilai-nilai kehidupan anak.
Contohnya saat bermain drama,
anak diminta untuk berimajinasi, aktif
bercakap-cakap dengan anak lain
tentang hal yang terkait dengan cerita drama tersebut.
5. Bermain untuk Perkembangan
Kemampuan Seni
Permainan
ini berfungsi untuk meningkatkan kepekaan dan apresiasi anak terhadap seni gerak, rupa dan musik serta rasa
percaya diri dengan anak. Mereka dapat
menyenangkan diri sendiri,sekaligus untuk bisa menjadi
kreatif. Lewat melaksanakan kegiatan bersama teman anak belajar bekerja sama. Contoh permainan seni yang dapat
dilakukan adalah menyanyi,
menari, senam, bermain alat musik, melukis, mengambar, membentuk dari lilin, dan tanah liat, dan membuat prakarya
lainya.
6. Bermain sebagai Penumbuhan
Aspek Moral dan Nilai-nilai Kehidupan
Aktifitas
permainan ini bertujuan mengembangkan, menumbuhkan, mengasah kepekaan, kepeduliaan anak-anak menjunjung moral
dan nilai- nilai yang berlaku
universal. Pada setiap permainan yang sengaja yang diadakan orang dewasa hendaknya menumbuhkan aspek moral dan nilai- nilai
kehidupan. Contohnya saat diadakan
kegiatan bermain balok, air atau
pasir, guru akan menggilir waktu bermain sehingga diharapkan
terjadi penumbuhan sikap
antri, sabar menunggu giliran dan mau menerima
keputusan.
2.3 Bahan dan Alat permainan sesuai dengan
Perkembangan Anak
- Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan motorik anak. Sebaiknya sekolah memiliki tempat atau ruang khusus untuk aktivitas motorik anak. Sebaiknya anak diberikan ruang untuk melatih gerakan otot kasarnya (seluncuran, besi-besi panjatan, ayunan, arena sepeda, dll). Peralatan bermain yang beroda sebaiknya dapat digunakan oleh anak untuk mengembangkan aspek sosialnya. Anak bisa bermain bersama, bergantian, sehingga interaksi social dapat terjalin diantara mereka.
- Bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan kognitif anak. Kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain: Kemampuan mengenal, mengingat, berpikir konvergen, divergen, dan member penilaian. Kegiatan bermain dilakukan dengan cara mengamati dan mendengar.Bahan atau peralatan yang dibutuhkan hendaknya membantu dalm perkembangan anak dalam mengamati dan mendengarkan. Contohnya: Papan pasak kecil,menara gelang, balok ukur, dll
- Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan kreativitas anak. Bermain dapat meningkatkan kreativitas anak. Kreativitas bagi anak-anak adalah suatu permainan. Anak-anak mampu membuat apa saja yang mengasyikan untuk menjadi permainan yang mengasyikan dirinya. Anak anak tidak terbelenggu oleh berbagai tabu, gengsi, dan aturan seperti permainan orang dewasa. Kreativitas adalah karakter standar yang dimiliki setiap orang sebagai suatu karunia Allah S W T, dan menjadikan manusia memiliki kelebihan dari mahlik Allah yang lainnya. Kreativitas harus terus distimulus agar dapat berkembang dengan baik. Permaina yang dilakukan bersama anak anak di sekolah sebaiknya perminan yang menantang kreatifitas anak secara maksimal.
- Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Bahasa Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Kemampuan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk:
- Menguasai bahasa reseptif (mendengar dan memahami apa yang didengar):
- Memahami perintah
- Menjawab pertanyaan
- Mengikuti urutan peristiwa
- Menguasai bahsa ekspresif yang meliputi:
- Menguasai kata-kata baru
- Menggunakan pola bicara orang dewasa
- Berkomunikasi secara verbal dengan orang lain: berbicara sendiri atau berbicara pada orang lain
- Keasyikan menggunakan bahasa
- Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Emosi Anak usia Taman Kanak-Kanak.
Hal penting dalam melakukan kegiatan untuk
mengembangkan emosi diantaranya harus dapat :
- Meningkatkan kemampuan untuk memahami perasaan (dengan cara menyebutkan perasaan, menerima perasaan, mengekspresikan secara tepat, dan memahami perasaan orang lain
- Meningkatkan kemampuan berlatih membuat pertimbangan
- Meningkatkan kemampuan memahami perubahan
- Menyenangi diri sendiri
Bahan dan alat permainan yng dapat digunakan misalnya
tanah liat/plastisin yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam bentuk,
balok-balok mainan, memelihara hewan peliharaan, bermain drama,dan buku-buku
cerita.
- Bahan dan peralatan bermain bagi Pengembangan Sosial Anak usia
- Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain harus bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku
- yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak lain. Moeslichatoen (2004:56) menyatakan:
Peralatan bermain dan permainan yang dilakukan
sebaiknya dapat digunakan secara bersama atau permainan dapat dilakukan
bersama agara memperoleh makna, diantaranya adalah:
- Setiap perbuatan yang dilakukan dalam interaksi dengan anak lain itu ada dampaknya
- Setiap tingkah laku sosial yang positif yang dapat diterima anak lain
- Setiap anak akan dapat melkukan keinginannya asal dilaksanakan secara secara wajar
- Setiap anak dapat menuntut haknya dengan cara yang dapat diterima anak lain
- Setiap anak dapat mengekspresikan perasaannya bila dilaksanakan dengan cara yang dapat diterima anak lain.
“ Bermain
adalah sifat yang melekat lansung pada kodrat anak. Jika ada anak yang
tidak mau bermain, itu menunjukan adanya suatu kelainan dalam diri anak tersebut.
Mengabaikan kenyataan ini, apalagi mengingkari, jelas bertentangan dengan
kebutuhan perkembangan jiwa anak” (Depdikbud, 1994/1995) dalam Solehuddin
(2000:87).
Kostelnik dalam montolalu (2008:105) mengemukakan
tentang karakteristik bermain pada anak sebagai berikut:, ”Play is fun, not
serious, meaningful, active, voluntary, intrinsically motivated, rule governed”.
Selanjutnya Bergen (1988), mengemukakan terdapat empat kategori bermain, yaitu:
- Bermain bebas (free play). Dalam bermain bebas, anak memilih apapun yang dimainkannnya, bagaimana bermain, dan di mana mereka bermain. Bermain seperti ini menuntut para pendidik untuk menyediakan lingkungan yang aman, menyediakan berbagai peralatan dan bahan yang mendukung
- Bermain terbimbing (guided play). Bermain terbimbing memiliki aturan, lebih sedikit pilihan, dan adanya pengawasan dari orang dewasa.
- Bermain yang diarahkan (directed play). Dalam bermain ini kegiatan bermain ditentukan oleh orang dewasa.
- Work disguised play. Bermain ini menggambarkan kegiatan diorientasikan pada tugas tertentu, dan orang dewasa berusaha mentransformasikannya kedalam kegiatan bermain terbimbing atau yang diarahkan
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Bermain merupakan salah satu hak asasi manusia, begitu
juga pada anak usia dini. Ada banyak manfaat yang didaptkan dari kegiatan
bermain, salah satunya adalah pengemangan kreativitas. Bermain dalam bentuk
apapun, baik aktif maupun pasif, baik dengan alat maupun tanpa alat dapat
menunjang ktreativitas anak dalam berbagai taraf. Disini peran orang tua dan
guru pembimbing untuk dapat menjadi fasilitator pengembangan kreativitas anak,
dengan memfasilitasi anak agar dapat bermain dengan cara dan alat yang tepat
sesuai dengan bakat, minat, perkembangan, dan kebutuhan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Csikszentmihalyi, M., 1996, Creativity. Harper Collins
Publisher, Inc : New York
Hurlock, E. B., 1980. Psikologi Perkembangan (Suatu
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), edisi kelima. Penerbit Erlangga :
Jakarta
Hurlock, E. B., 1999. Perkembangan Anak Jilid 1(Edisi 6).
Penerbit Erlangga : Jakarta
Mönks,
F.J, Knoers, A.M.P dan Haditono, S.R. 2004. Psikologi Perkembangan
Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta
Munandar, S.C.U.,1995. Pengembangan Kreativitaas Anak Berbakat.
Rineka Cipta kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta
Mulyadi, S., 2004. Bermain dan Kreativitas(Upaya
Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain). Papas Sinar Sinanti :
Jakarta
Nursisto. 1999.Kiat
Menggali Kreativitas. Mitra Gama Media : Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar