LEGENDA DATUK MARSAM SANG BELALANG KUNYIT


LEGENDA DATUK MARSAM SANG BELALANG KUNYIT


Dahulu kala, di pinggiran Sungai Batanghari, (tepatnya di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari sekarang)
terdapat sebuah desa yang bernama Desa Paseban. Desa tersebut merupakan salah satu desa yang sangat kental dengan budaya Melayu Jambi.
Penduduknya hidup saling menghormati.
Selain itu, Desa Paseban juga dikenal sebagai salah satu desa yang sangat makmur dan sejahtera. Hal itu ditandai dengan melimpahnya hasil sumber daya alam pertanian dan perikanan. Kemakmuran dan kesejahteraan Desa Paseban disebabkan penduduknya saling menolong dan bergotong royong. Kehidupan yang demikian menunjukkan bahwa penduduk Desa Paseban selalu memelihara rasa persaudaraan yang tinggi.Desa Paseban memiliki seorang pemimpin yang bernama Datuk Marsam. Datuk Marsam merupakan pemimpin yang sangat kharismatik sehingga sangat disegani oleh masyarakat Desa Paseban. Selain itu, ia
sangat dicintai oleh masyarakatnya karena memimpin dengan adil, arif, dan bijaksana. Semua permasalahan yang ada di Desa Paseban mampu diselesaikannya dengan cara musyawarah dan mufakat. Sebagai seorang pemimpin, ia juga dikenal dengan keramahan dan kesantunan dalam berbicara karena kemampuannya dalam berpantun dan berseloka. Berpantun dan berseloka adalah salah satu kebiasaan atau tradisi yang sudah sangat lama hidup dalam masyarakat Melayu Jambi. Apalagi, bagi seorang pemimpin di suatu kelompok masyarakat, kebiasaan atau tradisi tersebut harus dikuasai.Pada suatu ketika Desa Paseban diserang wabah penyakit yang disebut dengan nyampu bujang (penyakit demam panas tinggi yang melanda para pemuda). Wabah penyakit tersebut menyerang para pemuda dengan tiba-tiba tanpa diketahui asal muasalnya. Sudah berbagai cara penyembuhan dilakukan oleh penduduk yang keluarganya terkena wabah penyakit tersebut, mulai dari pengobatan secara tradisional hingga pengobatan secara spiritual. Namun, penyakit tersebut tidak juga teratasi. Bahkan, banyak di antara mereka
3
4yang akhirnya pasrah dan menyerahkan persoalan tersebut kepada pemimpin mereka, Datuk Marsam.“Duhai, Datuk Marsam. Mohon maaf kalau kedatangan kami ke sini telah mengganggu Datuk. Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan kepada Datuk,” kata salah seorang penduduk.“Ada apa gerangan kalian datang ramai-ramai begini?” tanya Datuk Marsam.“Begini, Datuk. Mungkin Datuk juga telah mendengar wabah penyakit yang saat ini melanda kampung kita.”“Oh, ya, saya sudah mendengar. Lalu?”“Kami telah mencoba berbagai cara untuk mengobati keluarga kami yang terkena wabah penyakit itu. Namun, sampai sekarang kami masih belum berhasil. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Hanya Datuk harapan kami satu-satunya. Untuk Datuk ketahui, sudah sangat banyak pemuda yang tidak sanggup lagi pergi ke sawah dan ladang. Bahkan, hanya beberapa orang pemuda saja yang pergi mencari ikan di sungai. Bagaimana menurut Datuk?”Ketika mendengar banyak penduduknya yang terkena wabah penyakit tersebut, Datuk Marsam pun
5merasa cemas. Ia tidak ingin desa yang dipimpinnya terancam dengan wabah penyakit tersebut. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh penduduk Desa Paseban untuk bermusyawarah menyelesaikan perkara itu.“Sebenarnya, saya sudah mengetahuinya. Sebagai pemimpin, saya merasa ikut bertanggung jawab atas kejadian ini,” ujar Datuk Marsam dengan wajah sedih.“Apa yang harus kita lakukan, Datuk?” tanya penduduk yang lain.“Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kita bersama perlu mencari jalan keluar atas perkara ini. Karena itu, tolong sampaikan kepada seluruh penduduk untuk datang ke rumah saya pada malam Jumat nanti,” pungkas Datuk Marsam.“Baiklah, Datuk. Sebelumnya kami berterima kasih kepada Datuk. Ada baiknya kami permisi pulang. Sekali lagi, kami mohon maaf telah mengganggu Datuk karena kedatangan kami ini.”“Ya. Tidak apa-apa.”Lalu, para penduduk yang datang ke rumah Datuk Marsam untuk mengadukan perkara wabah penyakit tersebut pulang ke rumah mereka masing-masing.
6Sementara itu, Datuk Marsam kembali ke dalam rumahnya untuk beristirahat.* * *Pada malam Jumat di sebuah loteng(tempat pertemuan atau bermusyarawah seperti balai-balai atau pentas) yang terdapat di halaman rumahnya, Datuk Marsam bersama penduduk Desa Paseban bermaksud mengadakan musyawarah. Sudah banyak penduduk yang berdatangan. Beberapa orang di antaranya tampak membawa serta anak-anak mereka. Bahkan, ada wanita yang menggendong bayinya yang sedang tertidur.Sebelum memulai musyawarah, Datuk Marsam terlihat hilir mudik, keluar masuk loteng, dengan raut wajah gelisah. Tampak ia seperti menanti-nanti seseorang yang sangat ia harapkan datang, tetapi masih belum datang.Penduduk yang sudah sejak habis Magrib berkumpul di sana mulai riuh dan gelisah.“Maaf, Datuk. Kira-kira siapa lagi yang mesti kita tunggu?” tanya salah seorang penduduk.Datuk Marsam hanya diam. Sementara itu, matanya terus saja menatap keluar.
7“Hari sudah makin malam, Datuk. Ada baiknya kita mulai saja,” ujar penduduk yang lain.Datuk Marsam pun melihat ke seluruh penduduk yang hadir. Ia yakin semuanya tentu sangat berharap banyak kepada dirinya. Sebagai pemimpin, ia harus sesegera mungkin mengambil keputusan.“Baiklah,” ujar Datuk Marsam, “kita mulai saja musyawarah kali ini.”Sebelum memulai, Datuk Marsam mengawali per-temuan tersebut dengan melantunkan sebuah seloko.“Kalaulah aek sudah tatumpah, eloklah diisi lagi. Kalaulah tumbuh alang di laman, hendaklah kito tebas (Kalau air sudah tertumpah, sebaiknya diisi kembali. Kalau tumbuh ilalang di halaman, hendaknya kita tebas).”Seluruh hadirin terhening. Tak satu pun di antara mereka berani lagi bercakap-cakap. Semua mata tertuju kepada lelaki yang sangat dihormati itu. Setelah itu, Datuk Marsam melanjutkannya dengan berpantun. “Bedaro masak jatuh di tepi, jatuh memantul wajan yang keno, perkaro besak sedang dihadapi,
8mohonlah usul yang bijaksano (Bidara masak jatuh di tepi, jatuh memantul wajan yang kena, perkara besar sedang dihadapi, mohon usul yang bijaksana).”Hening makin pekat. Hanya suara jangkrik yang sesekali mencoba meningkahinya. Lalu, Datuk Marsam pun mulai membuka musyawarah tersebut.“Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan tuan-tuan sekalian, termasuk alim ulama, cerdik pandai, dan tuo tengganai (orang tua yang sangat dihormati dalam budaya Melayu Jambi) yang ada di seluruh Desa Paseban ini. Saya sengaja mengundang kalian semuanya untuk membicarakan perkara yang sedang melanda kampung kita. Sekarang, sudah sangat banyak pemuda di kampung kita ini yang terkena wabah penyakit nyampu bujang. Kita semua tidak pernah tahu mengapa itu bisa terjadi.” Semua penduduk terdiam. Tak satu pun berani memotong pembicaraan Datuk Marsam.“Sebagai pemimpin, sudah sepatutnya saya bertanggung jawab terhadap perkara ini. Namun, tentu saya tidak bisa sekehendak hati untuk memutuskan. Oleh karena itu, saya ingin mendengar saran dari semua
9warga yang hadir ini agar saya bisa segera menentukan tindakan apa yang mesti kita dilakukan,” sambung Datuk Marsam dengan raut muka serius.Ketika musyawarah sedang berlangsung, terdengar langkah bergegas dari halaman rumah Datuk Marsam. Datuk Marsam seketika menghentikan musyawarah. Semua yang hadir mengalihkan pandangan manakala di pintu telah berdiri seseorang yang sangat mereka kenal, seorang ahli nujum yang bernama Datuk Sengkati. Selain ahli nujum, ia adalah seorang pemuka adat yang juga sangat dihormati dan sering memberi nasihat kepada Datuk Marsam.“Selamat datang, Datuk Sengkati. Kami mohon maaf karena sudah memulai musyawarah terlebih dahulu,” sambut Datuk Marsam sambil mempersilakan duduk orang yang sedari tadi ditunggu-tunggunya itu.“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja,” ujar Datuk Sengkati singkat. Ia lantas duduk di sebelah Datuk Marsam.“Datuk tentu sudah mendengar apa yang sedang terjadi di kampung kita ini. Bagaimana menurut Datuk atas perkara tersebut? Apa yang harus kita lakukan?
10Saya ingin sekali mendengar nasihat dari Datuk,” lanjut Datuk Marsam.Sambil memperbaiki duduknya, Datuk Sengkati pun angkat bicara.“Duhai, Tuanku Datuk Marsam. Menurut saya, perkara yang terjadi sekarang termasuk perkara yang cukup berat. Saya sebenarnya sudah lama ingin membicarakan hal ini dengan Datuk Marsam. Tetapi, karena banyak warga sudah hadir di sini, tak apalah kiranya kalau kita semua tahu sebab musabab yang sesungguhnya terjadi.”Datuk Marsam dan hadirin menatap dengan penuh harap kepada Datuk Sengkati. Sementara itu, Datuk Sengkati seperti mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak salah dalam menyampaikan pendapatnya.“Sebenarnya, kampung kita ini mendapatkan ujian yang lain dari biasanya. Nun jauh di sana, ada seseorang yang sedang tidak senang dengan kemakmuran Desa Paseban ini. Seseorang yang sudah lama ingin mengganggu. Ia adalah seorang dukun, tinggal di sebuah kampung yang jauh dari kampung kita ini,” jelas Datuk Sengkati sambil menerawang.

Komentar

  1. Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
    mampir di website ternama I O N Q Q.ME
    paling diminati di Indonesia,
    di sini kami menyediakan 9 permainan dalam 1 aplikasi
    ~bandar poker
    ~bandar-Q
    ~domino99
    ~poker
    ~bandar66
    ~sakong
    ~aduQ
    ~capsa susun
    ~perang baccarat (new game)
    segera daftar dan bergabung bersama kami.Smile
    Whatshapp : +85515373217

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS PERMAINAN DAN PERLENGKAPAN AKTIFITAS DI LUAR KELAS

STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK

MENCIPTAKAN ALAT BERMAIN